Ajaran Pancasila Dalam Kesenian Reog Ponorogo

Avatar of news.Limadetik
Ajaran Pancasila Dalam Kesenian Reog Ponorogo
FOTO: Tari Reog Ponorogo
Banner Iklan

OLEH : Liseno
PRODI: PGSD, Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

____________________________________

Reog merupakan salah satu aset budaya asal Indonesia yang sudah seharusnya terus dilestarikan oleh generasi muda bangsa. Reog sendiri merupakan tarian yang melibatkan banyak orang, atau dapat disebut sebagai tarian massal. Tarian ini berasal dari Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.

Reog bermula dari adanya sebuah cerita rakyat di Kabupaten Ponorogo. Sejarah dibalik lahirnya reog sebagai tarian daerah pun dikatakan cukup beragam, ada beberapa versi yang menceritakan asal usul dari reog tersebut. Salah satu kisahnya bercerita tentang seorang raja dari kerajaan Bantarangin yang bernama Prabu Kelono Sewandono yang hendak melamar seorang putri yang bernama Dewi Sanggalangit. Namun pada saat itu Dewi Sanggalangit memberikan persyaratan bahwa seorang yang melamarnya harus membawa pasukan berkuda yang berwarna putih, dan juga diharuskan untuk membawa dua hewan yang bisa menjadi satu.

Selain Prabu Sewandono, seorang bernama Singo Barong pun juga ingin mengambil hati Dewi Sanggalangit. Keinginan Singo Barong pun menjadikan ia dan Prabu Sewandono bersaing dalam merebut hati Dewi Sanggalangit. Singkat cerita saat hendak mempersiapkan permintaan dari Dewi Sanggalangit, Singo Barong yang sedang dalam proses persiapan mendengar kabar bahwa Prabu Kelono Sewandono telah berhasil mempersiapkan keinginan Dewi Sanggalangit dan hendak menuju ke kerajaan Dewi Sanggalangit.

Mendengar kabar tersebut, Singo Barong pun bermaksud menghadang Prabu Kelono Sewandono beserta dengan pasukan-pasukannya. Pertempuran antara Singo Barong dan Prabu Kelono Sewandono inilah yang kemudian dikenal dengan kesenian Reog ataupun tari tradisional Reog yang berasal dari Ponorogo.

Menggambarkan pertempuran kedua pihak dengan jumlah yang banyak membuat pertunjukan seni Reog ini pun tidak membatasi jumlah penari pada saat melakukan pertunjukan. Seni pertunjukan Reog terdiri dari beberapa peranan seperti pasukan kuda putih, pasukan bertopeng, dan juga barong sebagai puncak dari seni pertunjukan Reog Ponorogo ini.

Lebih dari 50 penari dapat terlibat pada satu pertunjukan Reog. Penarinya tidak dibatasi baik usia maupun jenis kelaminnya. Pertunjukan Reog biasanya juga turut diramaikan oleh iringan beberapa alat musik tradisional seperti gong dan kendang untuk meramaikan suasana pertunjukan.

Reog Ponorogo dikenal masyarakat umum sebagai kesenian yang berbau mistis. Namun jika ditelusuri lebih dalam, tokoh-tokoh yang ada di dalam kesenian Reog ternyata mencerminkan nilai-nilai yang patut diteladani. Seperti contoh Warok merupakan tokoh sentral dalam pertunjukan Reog.

Warok adalah seseorang yang menguasai ilmu lahir dan batin. Tokoh warok ini mencerminkan nilai musyawarah yang terkandung dalam sila ke-4 Pancasila. Dalam kesenian Reog digambarkan bahwa warok merupakan tokoh pemimpin yang berwibawa, siap berkorban, dan dijadikan panutan. Warok melambangkan sosok pemimpin yang mengayomi rakyat dan mendengarkan aspirasi dari rakyat.

Selain nilai musyawarah, menurut Rohmadi Puput, seorang pemain Reog dari Komunitas Reog Tawangmangu, tokoh warok dalam kesenian Reog juga erat kaitannya dengan nilai keadilan yang terkandung dalam sila ke-5 Pancasila. Hal ini karena warok merupakan pasukan yang berjuang demi kebenaran dan keadilan.

Berkaca dari cerita Reog Ponorogo sendiri, yang walaupun dipenuhi dengan pertempuran dan perebutan, terdapat nilai-nilai yang dapat dipetik dari cerita ini. Jika kita lihat baik, nilai dari Pancasila terdapat pada moral cerita. Terutama sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab. Pertempuran yang dilakukan antara Singo Barong dan Prabu Kelono Sewandono adalah bentuk dari memperjualngkan kemanusiaan.