banner podcast

Akad Mudharabah dalam Perbankan Syariah

  • Bagikan
Akad Mudharabah dalam Perbankan Syariah
FOTO: Ilustrasi
Banner Iklan

Assalamu’alaikum wr. wb, halo teman-teman ….

Perkenalkan nama saya Syahratul Intan, saya mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang program studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Saya disini akan menulis artikel, yang dibimbing oleh Ibu Dr. Dra. Masiyah Kholmi, Ak. MM. CA selaku dosen mata kuliah Akuntansi Syariah, semoga apa yang saya sampaikan dapat memberikan manfaaat dan menjadi bahan referensi untuk teman –teman ….

Mudharabah sendiri adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak, di mana pihak pertama (shahibul maal) adalah menyediakan seluruh modal, sedangkan pihak lainnya (mudharib) menjadi pengelola. Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak. Apabila mengalami kerugian, maka kerugian ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian pihak pengelola sehingga pengelola harus bertanggungjawab atas kerugian tersebut.sebagaimaan dalam QS. Al-Jumu’ah ayat 10, yang artinya : “Apabila telah ditunaikan sholat maka bertebaranlah di muka bumi dan carilah karunia Allah SWT…” dan hadist yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Sayyidina Abbas bin Abdul Mutholib jika memberikan dana ke mitra usahanya, secara mudharabah, mensyaratkan agar dananya tidak dibawa mengarungi lautan, menuruni lembah yang berbahaya, atau membeli ternak. Jika menyalahi peraturan tersebut, yang bersangkutan bertanggung jawab atas dana tersebut. Disampaikanlah syarat-syarat tersebut kepada Rasulullah SAW dan Rasulullah pun membolehkannya. (HR Thabrani)

Dalam penerapan prinsip syariah dalam pembuatam akad di perbankan syariah maka perlu untuk mengetahui subjek hukum atau bara pihak yang membuat akan selain itu penetapan tujuan dan objek akad seta adanya kesepakan adalah prinsip dasar dalam pembuatan akad pada perbankan syariah.Adapun rukun dalam akad mudharabah menurut hukum ekonomi syariah yaitu :

1. Shahibul-maal ( pemilik modal)
2. Mudharib (pelaku usaha)dan
3. Akad.

Sedangakan syarat mudharabah menurut hukum ekomoni syariah yaitu:

1. Pemilik modal wajib menyerahkan dana dan atau barang yang berharga kepada pihak
lain untuk melakukan kerjasama dalam usaha
2. Penerima modal menjalankan usaha dalam bidang yang disepakati
3. Kesepakatan bidang usaha yang akan dilakukan ditetapkan dalam akad.

Transaksi muamalah dituangkan dalam bentuk akad. Praktek pembuatan akad Mudharabah tidak akan terlepas dari prinsip-prinsip perjanjian syariah, yang bersumber dari Al Qur’an dan Hadist atau Sunnah, sehingga prinsip yang dijadikan dasar dalam penyusunan akad mengandung kebenaran yang bersumber dari Allah. Dalam menerapkan prinsip- prinsip syariah harus diformulasikan sesuai dengan kondisi saat ini dengan tetap berpedoman pada prinsip-prinsip yang telah digariskan dalam Hukum Islam. Transaksi dalam perbankan syariah tidak boleh mengandung unsur gharar, maysir, riba, zalim, risywah, barang haram, dan maksiat. Prinsip-prinsip yang harus diterapkan dalam pembuatan akad mudharabah di perbankan syariah adalah Ibadah/Tauhid (asal diniatkan ibadah).

banner iklan
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.