banner podcast

Biografi dan Pemikiran Hukum Imam Al-Ghazali

  • Bagikan
Biografi dan Pemikiran Hukum Imam Al-Ghazali
FOTO: Nimas Prarinda/Penulis
Banner Iklan

Oleh : Nimas Prarinda
(Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang)

A. Biografi
Al-Ghazali memiliki nama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Ahmad Al-ghazali Ath-Thusi As-Syafi’i. Al Ghazali lahir pada tahun 450 H/1058 M di Tabaran, salah satu wilayah di Thus, yakni kota terbesar kedua di Khurasan setelah Naisabur. Ia adalah seorang tokoh pemikir muslim yang hidup pada bagian akhir dari zaman keemasan di bawah khilafah Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Al-Ghazali wafat di kota kelahirannya pada tahun 505 H/1111 M.

Para ulama berselisih dalam penyandaran nama Imam Al-Ghazali. Sebagian mengatakan, bahwa penyandaran nama Al-Ghazali kepada daerah Ghazalah di Thusi, tempat kelahiran Al-Ghazali. Ini dikuatkan oleh Al-Fayumi dalam Al-Misbah Al-Munir.

Sebagian lagi mengatakan penyandaran nama Al-Ghazali kepada mata pencaharian dan keahlian keluarganya yaitu menenun. Sehingga namanya ditasydid (Al-Ghazzali : dengan dua z). Demikian pendapat Ibnul Atsir. Dan dinyatakan Imam Nawawi, “Tasydid dalam Al-Ghazzali adalah yang benar.”

Yang dijadikan sandaran para ulama mutaakhirin adalah pendapat Ibnul Atsir dengan tasydid. Yaitu penyandaran nama kepada pekerjaan dan keahlian bapak dan kakeknya.

B. Kehidupan dan Perjalanannya dalam Menuntut Ilmu
Al-Ghazali hidup dalam lingkungan keluarga yang sederhana, tetapi sangat taat beragama dan mencintai ilmu. Ayahnya yang bernama Muhammad dikenal sebagai seorang yang shaleh. Ia rajin berkeliling untuk menimba ilmu kepada para fuqaha pada zamannya. Kehidupan keluarganya ditopang dengan berjualan wol hasil pintalan tangannya sendiri. Pekerjaan ayahnya kemudian dilekatkan pada diri Al-Ghazali. Al-Ghazali adalah nisbah dari kata gazzal yang berarti pemintal wol.

Al-Ghazali disebut oleh Al-Maraghi sebagai “ensiklopedi” semua cabang ilmu di masanya. Al-Ghazali menguasai berbagai cabang ilmu. Dari sekian banyak karya yang telah diterbitkan menunjukkan bahwa ia adalah ulama yang handal di bidang ushul al-din (ilmu kalam), ushul fiqih, fiqih, jidal, khilaf, mantiq, hikmah, filsafat dan tasawuf.

Al-Ghazali memulai belajar dikala masih kecil. Ia mempelajari ilmu fiqih dari Syaikh Ahmad bin Muhammad Ar-Radzakani di kota Thusi. Kemudian berangkat ke Jurjan untuk belajar ilmu dari Imam Abu Nashr Al-Isma’ili.

Beliau mendatangi kota Naisabur dan berguru kepada imam Haramain Al-Juwaini dengan penuh kesungguhan. Setelah Imam Haramain meninggal, al-Ghazali berangkat ke perkemahan Wazir Nidzamul Malik. Karena mejelisnya tempat berkumpul para ahli ilmu, sehingga Al-Ghazali menentang debat kepada para ulama dan mengalahkan mereka. Kemudian Nidzamul Malik mengangkatnya menjadi pengajar di madrasahnya di Baghdad dan memerintahkannya untuk pindah ke sana. Maka pada tahun 484 H Al-Ghazali berangkat ke Baghdad dan mengajar di Madrasah An-Nidzamiyah dalam usia tiga puluhan tahun. Di sinilah ia berkembang dan menjadi terkenal, sehinga mencapai kedudukan yang sangat tinggi.

C. Karya-Karya Al-Ghazali
Al-Ghazali adalah seorang intelektual dan pemikir yang produktif serta berwawasan luas. Karya-karyanya tidak hanya dapat dinikmati dalam satu bidang ilmu saja, tetapi juga bidang kajian lainnya. Berikut ini beberapa karya-karya Al-Ghazali dalam berbagai disiplin keilmuan Islam.

– Dalam bidang fiqih dan ushul fiqih
a. al-Basit fi al-Furu’ ala Nihayah al-Matlab li Imam al-Haramain;
b. al-Wasit al-Muhit bi Iqtar al-Basit;
c. al-Waiz fi al-furu’;
d. Asrar al-Hajj, dalam Fiqh al-Shafi’i;
e. al-Mustasfa fi ‘Ilm al-Ushul;
f. al-Mankhul fi ‘Ilm al-Ushul.

– Bidang Tafsir
a. Jawahir al-Qur’an;
b. Yaqut al-Ta’wil fi Tafsir al-Tanzil;
c. Qanun al-Ta’wil.

– Bidang Aqidah
a. Al-Iqtisad fi al-I’tiqad;
b. Al-Risalah al-Qudsiyah fi Qawa’id al-Aqa’id;
c. Al-Munqid min al-Dalal;
d. Kitab al-Arba’in fi Ushul al-Din;
e. al-Ajwibah al-Gazaliyah fi al-Masail al-Ukhrawiyah;
f. Iljam al-’Awam ‘an ‘Ilm al-Kalam;
g. Aqidah Ahl al-Sunnah;
h. Fadaih al-Batiniyah wa Fadail al-Mustazariyah;
i. Faisal al-Tafriqah bayna al-Islam wa al-Zindiqiyah;
j. Al-Qistas al-Mustaqim;
k. Kimiyah al-Sa’adah;
l. Al-Maqsid al-Ithna fi Ma’ani Asma Allah al-Husna;
m. Al-Qaul al-Jamil fi al-Radd ‘ala Man Ghayyara al-Injil.

– Bidang Filsafat dan Logika
a. Mishkah al-Anwar;
b. Tahafut al-Falasifah;
c. Risalah al-Tahir;
d. Mihak al-Nazr;
e. Maqasid al-Falasifah;
f. Mi’yar al-’Ilm;
g. Ma’ary al-Qudsi fi Madarij Ma’rifah al-Nafs;
h. Al-Mutal fi ‘Ilm al-Jidal.

– Bidang Tasawuf
a. Adab al-Sufiyah;
b. Ihya’ ‘Ulum al-Din;
c. Bidayah al-Hidayah wa Tahzib al-Nufus bi al-Adab al-Sariyyah;
d. Al-Adab fi al-Din;
e. Al-Imla’ ‘an Ashkal al-Ihya’;
f. Ayyuhal Walad;
g. Mizan al-Amal;
h. Al-Risalah al-Laduniyah;
i. Minhaj al-’Abidin ila al-Jannah;
j. Mukashafah al-Qulub al-Muqarrab ila Hadrah Allam al-Gayb.

D. Pemikiran Hukum Al-Ghazali
a. Hukum dan Sumber Hukum menurut Al-Ghazali
Hakikat hukum menurut Al-Ghazali adalah bahwa hukum merupakan uraian mengenai obyek hukum yang ditentukan oleh syariat yang berkaitan dengan perbuatan seorang mukallaf.

Metode penggalian hukum yang dilakukan Al-Ghazali terdiri dari metode penggalian hukum dengan pendekatan semantik, kontekstual, dan tekstual. Dari metode penggalian metode hukum ini menjadi jelas bahwa sumber hukum itu ada empat, yakni al-Kitab, Sunnah, al-Ijma’, dan akal pikiran. Al-Ghazali berpendapat bahwa sumber syariat islam adalah al-Qur’an dan al- Hadits. Meskipun Al-Ghazali sangat terikat dengan wahyu, namun ia tidak mengabaikan peranan akal sama sekali. Karena ia juga menyadari bahwa persoalan hukum itu akan terus bertambah, sementara jumlah teks wahyu tidak mungkin bertambah. Oleh karena itu, Al-Ghazali berpendapat bahwa apabila sebuah kasus hukum ternyata tidak ditunjuki oleh nass, maka qiyas dapat digunakan. Inti qiyas adalah menyejajarkan sesuatu yang tidak disebutkan hukumnya dengan sesuatu yang disebutkan hukumnya oleh nass.

b. Independensi Pemikiran Al-Ghazali
Al-Ghazali yang notabene pengikut mazhab Shafi’i tidak serta merta mengikuti pendapat imam mazhabnya. Sebagai bukti independensi pemikirannya, Al-Ghazali berani menempatkan akal sebagai sumber hukum yang keempat.

c. Isi dan Sistematika al-Mustasfa
Al-Ghazali memulai kitabnya dengan muqaddimah. Dalam pendahuluannya ia menjelaskan motivasinya menulis al-Mustasfa, pemaparan tentang ushul fiqih dan kajiannya tentang keterkaitan disiplin ini dengan logika Yunani.

Selanjutnya Al-Ghazali memaparkan konsepsi keilmuan ushul fiqih, meliputi definisi, posisinya dalam struktur keilmuan Islam dan ruang lingkupnya. Al-Ghazali mendefinisikan ushul fiqih sebagai ilmu yang mengkaji tentang sumber-sumber hukum, syarat-syarat keabsahannya dan model, struktur serta metode penunjukannya pada hukum. Ushul fiqih sebagaimana terdefinisikan tersebut menurutnya adalah ilmu yang mulia karena telah menggabungkan antara potensi nalar dan wahyu.

Pendefinisian epistemologi ushul fiqih Al-Ghazali membawa pada implikasi pada ruang lingkup dan sistematika bahasan ushul Al-Ghazali. Maksud studi ushul fiqih menurutnya untuk mengetahui “bagaimana menemukan hukum dari dalil’. Jawaban atas pertanyaan ini mengimplikasikan pengetahuan detail tentang hukum, dalil dan pembagiannya, bagaimana memeras hukum dari dalil dan kualifikasi subjek yang menemukan hukum. Karena itu, ruang lingkup dan sistematika kajian ushul fiqih Al-Ghazali meliputi 4 poros bahasan.

banner iklan
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.