banner podcast

BNNK Malang bersama Mahasiswa UM berikan Edukasi Pencegahan Kenakalan Remaja dan Pernikahan Dini

  • Bagikan
BNNK Malang bersama Mahasiswa UM berikan Edukasi Pencegahan Kenakalan Remaja dan Pernikahan Dini
FOTO: Salah satu pemateri saat menjelaskan pokok bahasan
Banner Iklan

MALANG, Limadetik.com – Mahasiswa KKN Universitas Negeri Malang bersama dengan Badan Narkotika Nasional Kabupaten atau BNNK Malang dan Petugas Lapangan Keluarga Berencana Korwil Gondanglegi Kabupaten Malang menyelenggarakan penyuluhan mengenai Edukasi Pencegahan Kenakalan Remaja dan Pernikahan Dini Sebagai Upaya Menurunkan Angka Stunting. Materi disampaikan oleh Indra S.,ST dan Syaiful A, serta Siti Kholimah.

Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju proses dewasa. Masa remaja juga dapat dikatakan sebagai masa rawan karena pada masa ini remaja sedang mencari jati dirinya untuk dibawa kemana hidupnya nanti. Penyimpangan perilaku terhadap norma-norma hukum yang berlaku di masyarakat merupakan bentuk dari kenakalan remaja.

Penyimpangan perilaku tersebut dapat merugikan diri sendiri dan orang lain di sekitarnya. Apabila remaja mengalami salah pergaulan, mereka akan dapat terjerumus ke dalam hal-hal negatif yang dapat merugikan dirinya sendiri maupun orang lain yang ada di sekitarnya.

Maraknya kasus kenakalan remaja yang terjadi di Desa Sukorejo, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang saat ini menggerakkan mahasiswa KKN Universitas Negeri Malang untuk mengadakan penyuluhan mengenai kenakalan remaja.

Salah satu narasumber yaitu Ibu Titik selaku Ketua PKK mengatakan bahwa terdapat banyak remaja di Desa Sukorejo yang mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Kasus kenakalan remaja tersebut disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah faktor dari perkembangan zaman dan teknologi serta lingkungan.

Terjadinya kenakalan remaja dapat disebabkan karena beberapa hal, diantaranya yaitu kurangnya perhatian orang tua terhadap anak, kurangnya pengawasan dari orang tua ketika anak bermain sosial media, anak dengan keluarga broken home, serta adanya pergaulan bebas.

Bentuk kenakalan remaja yang terjadi di Desa Sukorejo adalah penggunaan obat-obatan terlarang dan free sex yang mengakibatkan kecanduan dalam mengkonsumsi obat-obatan tersebut serta maraknya pernikahan dini. Akan tetapi, hal tesebut dapat diantisipasi dengan memberikan edukasi mengenai dampak negatif yang akan terjadi apabila kecanduan dalam mengkonsumsi obat-obatan terlarang tersebut.

BNNK Malang bersama Mahasiswa UM berikan Edukasi Pencegahan Kenakalan Remaja dan Pernikahan Dini
FOTO: Edukasi Pencegahan Kenakalan Remaja dan Pernikahan Dini

Selain itu, dampak negatif dari pernikahan dini akan menimbulkan masalah kesehatan reproduksi wanita yang juga dapat memicu terjadinya peningkatan angka stunting.

Saat ini pernikahan usia dini masih menjadi pusat perhatian di berbagai daerah khususnya di Desa Sukorejo. Banyaknya kasus pernikahan usia dini juga disebabkan karena masih minimnya bimbingan dan sosialisasi terkait kesehatan reproduksi serta dampak dan akibat yang diperoleh ketika melakukan pernikahan diusia dini.

Pengetahuan terkait kesehatan reproduksi wanita sangat penting untuk dipahami oleh wanita khususnya remaja. Tingginya resiko terjangkit berbagai macam penyakit pada organ reproduksi wanita disebabkan oleh faktor kebersihan dan hubungan seksual pada usia dini. Desa Sukorejo merupakan desa yang termasuk kedalam tiga desa dengan angka stunting tertinggi di Kabupaten Malang.

Lily Alfiyatul Jannah, Kepala Desa Sukorejo menghimbau kepada seluruh organisasi masyarakat untuk rutin dalam memberikan edukasi terkait permasalahan tersebut.

“Berangkat dari permasalahan tersebut, mahasiswa KKN Universitas Negeri Malang mengadakan program kerja untuk memberikan Edukasi Mengenai Pencegahan Kenakalan Remaja Dan Pernikahan Dini Sebagai Upaya Menurunkan Angka Stunting” kata Lily Alfiatul Jannah, Kamis (14/7/2022).

Lebih lanjut Kepala Desa Lily menyampaikan, program kerja mengenai Edukasi Pencegahan Kenakalan Remaja dan Pernikahan Dini Sebagai Upaya Menurunkan Angka Stunting ini melibatkan organisasi masyarakat secara langsung dengan harapan dapat bermanfaat bagi masyarakat khususnya remaja usia 14 hingga 21 tahun.

“Dalam hal ini perangkat desa maupun organisasi karang taruna berperan sebagai fasilitator dalam proses pencegahan terjadinya kenakalan remaja. Selain itu, masyarakat selaku orang tua diharapkan mampu berperan aktif dalam mensosialisasikan dampak negatif dari konsumsi obat-obatan terlarang dan pernikahan dini kepada anak mereka” tegasnya

banner iklan
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.