Dampak Negative Menjalin Usaha dengan Riba

Avatar of news.Limadetik
Dampak Negative Menjalin Usaha dengan Riba
Ilustrasi

OLEH : Sarifatul Muawiyah
PRODI: Akuntansi, FEB
Universitas Muhammadiyah Malang

________________________________

NEWS.LIMADETIK.COM – Dalam agama islam riba memang sudah jelas tidak di perbolehkan, pada saat ini banyak sekali kontraversi yang di timbulkan oleh riba atau yang sering di sebut suku bunga, dan hukum riba ini sendiri sudah banyak menimbulkan perdebatan antara para ulama, baik ulama terdahulu mau ulama yang masa sekarang.

Perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan para ulama ini lebih mengarah terhadap perbedaan dalam memahami illat yang terjadi dalam larangan hukum riba. Kontraversi dan perdebatan dalam seputar riba atau hukum bunga ini memang sudah terjadi sejak lama. Sebelum kita masuk lebih dalam tentang pembahasan riba, dan dampak yang akan terjadi dari riba dalam sebuah usaha, kita harus tau apa itu riba sendiri.

Riba menurut dalam pandangan islam adalah sesuatu yang lebih, baik itu dalam bentuk barang ataupun dalam bentuk uang. Kata riba berasal dari Bahasa arab, jika dilihat dari segi etimologis, riba yang berarti tambahan(azziyadah), berkembang(an-nuwun), membesar(al-‘uluw) dan meningkat(al-irtifa’), Sedangkan dari segi terminology ilmu fiqh, riba ialah suatu tambahan khusus yang mana tambahan ini hanya dimiliki salah satu pihak yang terlibat saja, tanpa adanya imbalan tertentu.

Atau yang sering juga kita dengar di kalangan masyarakat dengan istilah rente, rente juga disamakan dengan “bunga” uang, karena rente dan bunga uang mempunyai pengertian yang sama dan keduanya sama-sama tidak di perbolehkan dalam agama islam.

Haramnya riba juga sudah di jelaskan dalam ayat suci al-quran, yang Artinya: Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.

Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba , padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba ), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba ), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. [QS Al Baqarah ayat 275].

Ayat di atas menjelaskan haramnya riba dan balasan bagi orang pelaku riba. Kita sudah mengetahui bahwa riba itu haram, akan tetapi tidak sedikit dari masyarakat yang masih melakukan riba, baik itu dalam bentuk uang maupun barang.

Bahkan tanpa kita sadari riba itu sangat berdampak negative terhadap pada diri kita, lebih-lebih dalam perekonomian. Pada saat ini banyak sekali kita temui para pelaku riba dalam sebuah usaha baik itu usah kecil-kecilan maupun usaha yang sudah go public. Mereka hanya memikirkan untungnya saja tanpa memikirkan keberkahan yang akan di peroleh dalam usahanya.

Yang perlu kita ketahuin riba, akan berdampak tidak baik dalam sebuah usaha, salah satunya dengan riba, usaha yang kita jalani tidak akan mendapatkan berkah dari ALLAH SWT, dengan riba untung yang didapatkan juga menjadi tidak berkah, seperti contoh, sebuah pedagang mempunyai usaha sembako beras, setiap pembelian orang tersebut mengurangi timbangannya, untung yang di dapatkan memang banyak akan tetapi keberkahan di dalam usaha tidak akan pernah didapatkan jika terus-menerus melakukan riba, karena pada dasarnya yang dituju dalam sebuah usaha adalah sebuah keberkahan.

Jadi mari kita semua untuk membangun perekonomian yang bersih, Bersama-sama terbebas dari hal-hal yang berbau haram, seperti hal nya riba. Karena pada hakikatnya dalam sebuah usaha yang kita bangun dalam usaha yang kita rintis pastinya selalu ingin menjadikan usaha yang baik usaha yang bermanfaat bagi kita dan bagi orang-orang yang di sekitar.