Dampak Turunnya Harga Pertamax

Avatar of news.Limadetik
Dampak Turunnya Harga Pertamax
FOTO: Muhammad Rifki Fahrezi

Oleh : Muhammad Rifki Fahrezi
Prodi: Akuntansi
Universitas Muhammadiyah Malang
_____________________________

ARTIKEL – Beberapa hari yang lalu pemerintah resmi menurunkan harga Pertamax dari yang Rp. 13.900 per liter menjadi Rp. 12.800 per liter pada hari Selasa jam 14.00. Penurunan harga ini merupakan kabar yang segar bagi para pengguna kendaraan bermotor yang biasa menggunakan pertamax sebagai bahan bakar kendaraannya. Berdasarkan penuturan Menteri BUMN Erick Thohir, penurunan harga Pertamax ini disinyalir akibat telah meredanya perang antara Rusia dan Ukraina yang dimana pada saat perang terjadi harga minyak dunia meningkat menjadi $100USD per barel.

Namun, harga minyak dunia mulai menurun menjadi $79USD per barel. Menurunnya harga minyak dunia ini berpengaruh terhadap menurunnya harga Pertamax di Indonesia. Pertamax menjadi BBM RON (Research Octane Number) 92 dengan harga termurah apabila disandingkan dengan pesaing – pesaingnya seperti Sheel, BP-AKR, dan VIVO.

Dengan informasi yang telah disampaikan oleh Menteri BUMN Erick Thohir tentang turunnya harga BBM Pertamax, banyak ditemukan antrian yang memanjang tidak seperti biasanya yang dimana kebanyakan orang memilih Pertalite karena harganya yang lebih murah dibandingkan dengan Pertamax. Namun, setelah adanya berita tersebut beberapa masyarakat mulai kembali menggunakan Pertamax yang
dimana jauh lebih baik kualitasnya bila dibandingkan dengan Pertalite.

Tentunya bukan hanya Pertamax RON 92 yang turun, Pertamax Turbo RON 98, Dexlite, dan Pertamina Dex mengalami penurunan pula. Selain itu, harga BBM pada Shell per 4 Januari 2023 ini juga mengalami penurunan yaitu Sheel Super yang sebelumnya Rp 14.180 per liter menjadi Rp 13.030 ada juga Shell V-Power yang sebelumnya dibanderol Rp.15.100 per liter kini menjadi Rp.13.810 per liter.

Informasi turunya harga BBM di Shell ini diberitahukan langsung melalui laman resmi Shell. Tentunya dengan turunnya beberapa BBM ini merupakan angin segar bagi para pengguna kendaraan bermotor baik pribadi maupun transportasi.

Beberapa masyarakat juga merasa senang dengan turunnya harga Pertamax ini terutama bagi para pengguna Pertamax yang sering mengisi bahan bakar kendaraannya dengan BBM RON92 milik Pertamina ini. Dampak dari turunnya harga Pertamax ini juga mengakibatkan adanya antrian yang mulai mengular karena telah mengetahui informasi terbaru terkait harga BBM Pertamax yang turun. Bagi para pengguna tentunya senang bisa menggunakan bahan bakar yang lebih baik dibandingkan Pertalite ini, walaupun harga Pertalite masih tetap jauh lebih murah dibandingkan dengan Pertamax.

Sebagai pengguna Pertamax tentunya saya sangat senang dengan kabar ini karena sebelum – sebelumnya harga Pertamax tergolong mahal bagi saya namun dengan Pertamax tentunya lebih memperingan jalannya mesin motor dan tarikan yang lebih ringan.

Banyak sekali dampak yang dirasakan dengan turunnya harga Pertamax yang sebelumnya dibanderol Rp. 13.900 menjadi Rp. 12.800 dengan selisih Rp.1.100 tentunya dapat sedikit menghemat pengeluaran. Dampak lainnya adalah harga BBM dibeberapa SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar) seperti VIVO, BP-AKR, dan Shell juga mengalami penyesuaian. Dimana VIVO sekarang membanderol harga BBM RON 92 sama dengan harga Pertamax saat ini dan harga BBM di Shell pada bulan ini juga turun yang tentunya imbas atau dampak dari turunnya harga Pertamax.

Beberapa masyarakat juga mulai beralih ke BBM non subsidi ini setelah harganya turun, dengan harga Rp.12.800 per liter dapat memperoleh BBM RON92 dengan kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan Pertalite yang dimana sampai sekarang dibanderol Rp.10.000 liternya. Kualitas yang baik dengan harga yang turun sekarang menjadi pilihan beberapa masyarakat yang tentunya dengan harga tersebut sangat menggiurkan. SPBU bagian Pertamax akhirnya juga semakin ramai dengan berita harga Pertamax yang turun ini. Dengan turunnya harga Pertamax ini diharapkan mampu mengurangi beban masyarakat dalam mengisi bahan bakar dalam penggunaan moda tranportasi.

Penulis: Muhammad Rifki RahreziEditor: Wahyu