Diseminasi Kajian Minat, Kepentingan dan Kenyaman Publik, Komisi Penyiaran Indonesia Bekerjasama dengan Universitas Gorontalo

Avatar of news.Limadetik
Diseminasi Kajian Minat, Kepentingan dan Kenyaman Publik, Komisi Penyiaran Indonesia bekerja sama dengan Universitas Gorontalo
FOTO: Mohamad Reza, Komisioner KPI Koordinator bidang PS2P (Pengelolaan Struktur dan Sistem Penyiaran)
Banner Iklan

LIMADETIK.COM, BALI – Komisi Penyiaran Indonesia bekerja sama dengan Universitas Gorontalo Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) merupakan Lembaga Negara Independent yang mempunyai tugas menjamin informasi yang layak dan benar kepada masyarakat sesuai dengan hak asasi manusia sebagai aktualisasi dari filosofi penyiaran yakni keberagaman konten dan keberagaman kepemilikan.

Untuk mencapai pelaksanaan tugas tersebut, KPI membutuhkan kajian secara akademis yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan transparan dalam pengerjaannya sebagai
pijakan pengambilan kebijakan. Dalam hal ini, KPI bekerja sama dengan Universitas
Negeri Gorontalo (UNG) melakukan kajian terhadap minat, kenyamanan, dan kepentingan publik di tiga daerah yaitu Kota Gorontalo, Kabupaten Gorontalo dan
Kabupaten Bone Bolango sejak Maret-Juni 2022.

Mohamad Reza, Komisioner KPI Koordinator bidang PS2P (Pengelolaan Struktur dan Sistem Penyiaran) mengatakan, Pelaksanaan kajian minat, kepentingan dan kepentingan publik memotret indeks
minat, kepentingan dan kenyaman publik di tiga daerah tersebut. Indeks minat,
kepentingan dan kenyamanan publik tertinggi ada pada program siaran hiburan sementara program siaran olahraga menempati posisi terendah.

“Menariknya, kendati hiburan mendapatkan indeks tinggi, intensitas masyarakat dalam menonton program siaran hiburan terbilang rendah, hanya sekitar 39 – 116 menit, dimana masyarakat menontonnya per hari atau 2 – 5 kali per hari” kata Mohamad Reza, sebagaimana rilis yang diterima media ini.

Menurutnya, intensitas yang terbilang rendah ini disinyalir karena adanya alternatif media yang menyediakan informasi. Hal tersebut didasari pada temuan tren pemilihan media selain televisi, yaitu dengan menggunakan media online dalam aktivitas sehari-hari untuk menikmati hiburan, informasi, olahraga, musik, pendidikan dan agama.

Di sisi yang lain, kebijakan pelonggaran PSBB juga menjadi pemacu rendahnya intensitas melihat dan mendengarkan lembaga penyiaran karena masyarakat sudah mulai mengkativasi kegiatannya di luar rumah.

“Dari potret minat, kepentingan dan kenyamanan publik berimplikasi pada
rekomendasi yang perlu disiapkan untuk memberikan evaluasi, merencanakan
sekaligus menjadi pijakan ke depan. Di antara rekomendasi tersebut adalah perlunya intervensi terhadap penyedia layanan siaran untuk meningkatkan kualitas program” ungkapnya.

Diseminasi Kajian Minat, Kepentingan dan Kenyaman Publik, Komisi Penyiaran Indonesia bekerjasama dengan Universitas Gorontalo
FOTO: Pembukaan acara Diseminasi Kajian Minat Kepentingan dan Kenyamanan Publik KPI Pusat di Bali

Lebih lanjut Reza menyampaikan, siaran, kajian yang bersifat berkelanjutan dan secara mendalam menggunakan teknis analisis korelasi aspek-aspek yang mempengaruhi minat, kepentingan dan kenyamanan publik, dan perluanya perluasan wilayah atau daerah untuk dilakukan kajian terhadap minat, kepentingan dan kenyaman publik untuk mendapatkan jangkauan hasil yang signifikan dengan jangkauan generalisir yang lebih luas.

“Temuan di atas sekaligus rekomendasi didiseminasikan kepada masyarakat di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana” ujarnya, pada Rabu (7/12/2022).

KPI dalam kegiatan diseminasi ini kata Reza, melibatkan stakeholder penyiaran yang lebih luas sehingga hasil kajian minat, kepentingan dan kenyamanan publik dapat dipahami secara holistik untuk dijadikan bahan masukan perbaikan mutu dan kualitas konten.

Diketahui, Mohamad Reza, sebagai penggagas riset MKK ini, berencana melaksanakan riset serupa terkait kebutuhan program siaran berdasarkan Minat, Kenyamaman dan Kepentingan (MKK) masyarakat di Provinsi Bali pada tahun 2023 mendatang.

“Dengan pelaksanaan riset tersebut, diharapkan dapat memberikan masukan positif terkait potret kebutuhan masyarakat akan program siaran kepada
lembaga penyiaran baik yang eksisting, ataupun lembaga penyiaran yang baru akan
bertumbuh, pasca pelaksanaan penyiaran digital” kata Mohamad Reza.

Oleh karena itu, kerjasama dengan Universitas Udayana diharapkan dapat terus terjaga agar dapat memberikan ruang kepada akademisi untuk mengembangkan penelitian-penelitian terkait penyiaran. “Sehingga bisa memberikan masukan komprehensif untuk penyelenggaran penyiaran
di Indonesia” tukasnya.