banner podcast

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja UMKM

  • Bagikan
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja UMKM
FOTO: Rizal Kurniawan
Banner Iklan

PENDAHULUAN

Keberadaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang merupakan bagian terbesar dalam perekonomian nasional, merupakan indikator tingkat partisipasi masyarakat dalam berbagai sektor kegiatan ekonomi. UMKM selama ini terbukti dapat diandalkan sebagai katup pengaman dimasa krisis, melalui mekanisme penciptaan kesempatan kerja dan nilai tambah. Peran dan fungsi strategis ini sesungguhnya dapat ditingkatkan dengan memerankan UMKM sebagai salah satu pelaku usaha komplementer bagi pengembangan perekonomian nasional, dan bukan subordinari dari pelaku usaha lainnya. Keberhasilan dalam meningkatkan kemampuan UMKM berarti memperkokoh bisnis perekonomian masyarakat. Hal ini akan membantu mempercepat proses pemulihan perekonomian nasional, dan sekaligus sumber dukungan nyata terhadap pemerintah daerah dalam melaksanakan otonomi pemerintahan (Budi, 2006).

UMKM merupakan potensi bisnis yang sangat digalakkan oleh pemerintah; karena semakin banyak masyarakat berwirausaha maka semakin baik dan kokohnya perekonomian suatu daerah karena sumber daya lokal, pekerja lokal, dan pembiayaan lokal dapat terserap dan bermanfaat secara optimal. Meskipun UMKM memiliki sejumlah kelebihan yang memungkinkan UMKM dapat berkembang dan bertahan dalam krisis, tetapi sejumlah fakta juga menunjukkan bahwa tidak semua usaha kecil dapat bertahan dalam menghadapi krisis ekonomi. Banyak UMKM mengalami kesulitan untuk mengembalikan pinjaman akibat melonjaknya suku bunga lokal, selain itu adanya kesulitan dalam proses produksi akibat melonjaknya harga bahan baku yang berasal dari impor. Banyak faktor yang mempengaruhi prestasi perusahaan kecil diantaranya adalah pengaruh faktor internal dan eksternal (Wang & Wong, 2004). Keberhasilan tergantung dari kemampuan dalam mengelola kedua faktor ini melalui analisis faktor lingkungan serta pembentukan dan pelaksanaan strategi usaha.

Pengembangan UMKM di Indonesia merupakan salah satu prioritas dalam pembangunan ekonomi nasional. Hal ini selain karena usaha tersebut merupakan tulang punggung sistem ekonomi kerakyatan yang tidak hanya ditujukan untuk mengurangi masalah kesenjangan antar golongan, pendapatan dan antar pelaku usaha, ataupun pengentasan kemiskinan dan penyerapan tenaga kerja. Lebih dari itu, pengembangannya mampu memperluas basis ekonomi dan dapat memberikan konstribusi yang signifikan dalam mempercepat perubahan struktural, yaitu meningkatnya perekonomian daerah dan ketahanan ekonomi nasional. Kinerja UMKM dapat ditinjau dari beberapa aspek, yaitu: (1) nilai tambah, (2) unit usaha, tenaga kerja dan produktivitas, dan (3) nilai ekspor.

Usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/ atau badan usaha perorangan yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 50.000.000,00 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 300.000.000,00. Menurut Zulkarnaen (2006) usaha mikro adalah kegiatan ekonomi rakyat berskala kecil, bersifat tradisional dan informal, dalam arti belum terdaftar, belum tercatat, dan belum berbadan hukum. Tohar (2000, p. 11) mendefinisikan usaha kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil, dan memenuhi kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan serta kepemilikan sebagaimana diatur dalam undang-undang. Menurut Adi (2007, p.12) usaha kecil sebagai kegiatan ekonomi rakyat yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000,00 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau yang memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 1.000.000.000,- dan milik Warga Negara
Indonesia.

Lebih lanjut, Tohar (2000, p. 1) mendefinisikan usaha menengah adalah kegiatan ekonomi yang mempunyai kriteria kekayaan bersih, penjualan lebih besar dari kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan usaha kecil, meliputi usaha nasional (milik negara atau swasta), usaha patungan, warga negara asing/ hukum asing yang melakukan kegiatan ekonomi di negara Indonesia. Suhardjono (2003, p. 33) mendefinisikan usaha menengah adalah kegiatan ekonomi rakyat yang memiliki kekayaan bersih tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha lebih besar dari Rp. 200.000.000,- sampai paling banyak Rp 10.000.000.000,00. Kinerja merupakan serangkaian kegiatan manajemen yang memberikan gambaran sejauh mana hasil yang sudah dicapai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dalam akuntabilitas publik baik berupa keberhasilan maupun kekurangan yang
terjadi (Ranto, 2007: 19).

Menurut Srimindarti (2006) kinerja adalah penentuan secara periodik efektivitas operasional organisasi, bagian organisasi dan karyawannya berdasarkan sasaran, standar dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Jadi kinerja adalah prestasi yang dicapai suatu organisasi atau entitas dalam periode akuntansi tertentu yang diukur
berdasarkan perbandingan dengan berbagai standar.

Banyak faktor yang mempengaruhi prestasi perusahaan kecil diantaranya adalah pengaruh faktor internal dan eksternal (Wang dan Wong, 2004). Keberhasilan tergantung dari kemampuan dalam mengelola kedua faktor ini melalui analisis faktor lingkungan serta pembentukan dan pelaksanaan strategi usaha. Menurut Haeruman (2000) tantangan internal bagi UMKM terutama dalam pengembangannya mencakup aspek yang luas yakni peningkatan kualitas sumber daya manusia, kemampuan manajemen, organisasi dan teknologi, kompetensi kewirausahaan, akses yang lebih luas terhadap permodalan, informasi pasar yang transparan, faktor input produksi lainnya, dan iklim usaha yang sehat yang mendukung inovasi, kewirausahaan, dan praktek bisnis serta persaingan yang sehat. Said (2004) menjelaskan dengan adanya peningkatan nilai kewirausahaan, kemampuan pemasaran, teknologi dan pengelolaan keuangan maka tentunya prestasi usaha kecil akan meningkat. Faktor eksternal meliputi jaringan sosial, legalitas, dukungan pemerintah, pembinaan, teknologi, dan akses kepada informasi (Jauch dan Glueck, 2000). Keberhasilan akan tercapai jika adanya kesesuaian antara faktor internal dengan faktor eksternal melalui penerapan cara yang tepat.

Menurut Ali (2003) kinerja UMKM dianalisis dengan tiga asumsi pendekatan yakni sulit mengukur kinerja UMKM dikarenakan terbatasnya sumber daya, mengukur kinerja UMKM hanya indikator keuangan yang kompleks yang teridentifikasi sehingga tidak menunjukkan hasil aktual bisnis, dan pengukuran kinerja UMKM sering digunakan oleh perusahaan yang berskala besar dan terstruktur manajemennya. Menurut Mutegi, Njeru, & Ongesa (2015) kinerja UMKM adalah hasil atau evaluasi kerja perusahaan yang digapai oleh seseorang atau kelompok dengan pembagian kegiatan berupa tugas dan perannya pada periode tertentu dengan standar dari perusahaan tersebut.

Pendidikan wirausaha dapat memengaruhi jalan menuju kesuksesan bisnis karena itu adalah proses membangun kapasitas serap manajer seperti kepercayaan diri, psikologi, pengetahuan dan keterampilan. Takahashi (2009) menunjukkan salah satu faktor keberhasilan dalam usaha kecil adalah tingkat pendidikan pemilik, yang dapat membantu bisnis untuk bertahan hidup dan mengelola lingkungan yang kompleks dan menjaga profitabilitas bisnis.

Menurut Monitor (2010) dalam jurnal Radipere & Dhliwayo (2014) melaporkan bahwa pendidikan meningkatkan kepercayaan individu untuk memulai bisnis dan juga kemungkinan bahwa bisnis akan bertahan melampaui fase startup. Penting untuk memahami tingkat pendidikan manajer pemilik. Banyak studi dalam literatur menunjukkan bahwa pendidikan pekerja tentang pekerjaan mereka meningkatkan kinerja mereka. Peningkatan kinerja ini tercermin pada kinerja bisnis. Pendidikan adalah prasyarat untuk membangun sebuah perencanaan sumber daya perusahaan yang sukses.

Berdasarkan nilai Measure of Sampling Adequacy (MSA) terdapat dua faktor yang mempengaruhi kinerja UMKM, yaitu (1) faktor internal, dan (2) faktor eksternal. Kedua faktor tersebut mempunyai total percentage of variance sebesar 63,862 % artinya kedua faktor tersebut mampu menjelaskan pengaruhnya sebesar 63,862 % terhadap kinerja UMKM di Kabupaten Bangli dan sisanya 36,138 % dipengaruhi oleh faktor lain di luar model seperti faktor gender (Mulyanto, 2006) dan strategi (Suryana, 2006). Faktor yang paling dominan mempengaruhi kinerja UMKM yaitu faktor internal dengan nilai varimax rotation sebesar
50,232 % yang meliputi akses permodalan dengan nilai sebesar 0,879. Faktor yang mempengaruhi kinerja UMKM adalah (1) faktor internal dan (2) faktor eksternal. Faktor yang paling dominan mempengaruhi kinerja UMKM adalah faktor internal.

Kinerja usaha merupakan fungsi hasil-hasil kegiatan yang ada dalam suatu perusahaan yang dipengaruhi oleh faktor intern dan ekteren dalam mencapai tujuan yang ditetapkan selama periode waktu tertentu. Adapun sejumlah fungsi kegiatan yang terkait
dengan kinerja organisasi meliputi: strategi perusahaan, pemasaran, operasional, keuangan dan sumber daya manusia. Menurut Mwita dalam Karim (2007) kinerja mencakup beberapa variabel yang berkaitan dan tidak dapat dipisahkan: input, perilaku-perilaku (proses), output-output, dan outcome-outcome (nilai tambah atau dampak).

Pengukuran kinerja (performance) merupakan salah satu upaya supaya dapat dilakukan sumberdaya secara efektif dan dapat
memberikan arah pada pengambilan keputusan strategis yang menyangkut perkembangan suatu organisasi pada masa yang akan datang (Mulyadi, 2006). Pada umumnya kinerja organisasi diukur dengan satu atau lebih pengukuran sebagai berikut: (1) keberhasilan produk baru, (2) profitabilitas, (3) market share, (4) kinerja organisasi akhir secara keseluruhan (profitabilitas, penjualan, pertumbuhan penjualan, Return on Investement [ROI], keberhasilan produk baru, market share) dan (5) kinerja organisasi antara secara keseluruhan (kepuasan pelanggan, kepuasan karyawan, retensi konsumen, pelayanan konsumen, persepsi kualitas produk).

Menurut Ajzen (2012) theory of planned behavior menyatakan bahwa teori perilaku terencana ini merupakan masing-masing individu akan melakukan semua yang direncanakan sesuai dengan apa yang ingin digapai menurut tujuan dan maksud tertentu. Teori ini menduga sikap atau cara berperilaku seseorang yang dapat memengaruhi sikap psikologis sosial manusia. Faktor sentral dari perilaku individu ini didasarkan pada niat individu (behavioral intention) dalam kaitannya dengan perilaku atau sikap tertentu. Secara lebih lengkap Ajzen (2012) juga menambahkan beberapa faktor konteks individu kedalam teori perilaku terencana (TPB). Faktor-faktor ini meliputi informasi, personal, dan sosial. Faktor individu ialah sikap seseorang dalam menghadapi suatu hal seperti, kepribadian, kecerdasan, nilai hidup, dan emosi. Faktor sosial meliputi usia, agama, jenis kelamin, pendapatan, etnis, dan pendidikan. pengetahuan serta ekspos pengalaman di media merupakan faktor informasi.

Untuk meningkatkan kinerja UMKM, pihak pemerintah perlu memberikan dukungan kepada UMKM terutama untuk mempermudah akses permodalan. Akses ke sumber-sumber permodalan UMKM masih terbatas, terutama ke lembaga keuangan formal seperti bank.
Masalah ini muncul pada pihak UMKM karena keterbatasan pengetahuan atau kemampuan dalam mencukupi kebutuhan prosedur/persyaratan perbankan. Praktek pelepas uang (rentenir) sekalipun memiliki bunga tinggi masih tetap mendapat tempat bagi UMKM karena aspek layanan yang mudah, cepat dan tepat waktu sesuai kebutuhan. Bagi pengusaha UMKM agar lebih memperhatikan pentingnya pembukuan atau pencatatan keuangan.

Penyusunan laporan keuangan bukan hanya untuk kemudahan memperoleh kredit dari kreditur, tetapi untuk pengendalian aset, kewajiban dan modal serta perencanaan pendapatan dan efisiensi biaya-biaya. Pembukuan yang baik juga dapat digunakan sebagai alat untuk pengambilan keputusan perusahaan. UMKM yang terkendala masalah sumber daya manusia yang minim pengetahuannya tentang penggunaan teknologi informasi, perlu memperbaiki kualitas sumber daya manusianya (SDM) agar dapat menggunakan teknologi informasi. Selain itu, UMKM hendaknya berupaya memperluas pengetahuannya tentang teknologi informasi untuk hal- hal yang mempunyai nilai strategis dan nilai ekonomi yang lebih tinggi bagi usaha.

Penulis: Rizal Kurniawan (1) Luqman Dzul Hilmi, SE., MBA. (2)
Studi Manajemen Fakultas Ekonomi daan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang


Daftar Pustaka
Budi, S. (2006). Manajemen Sumber Daya Manusia. Malang: Universitas Muhamadyah.
Wang, C. K., & Wong, P.-K. (2004). Entrepreneurial Interest of University Students in
Singapore. Singapore.
Zulkarnain. (2006). Kewirausahaan Strategi Pemberdayaan Usaha Kecil Menengah dan
Penduduk Miskin. Jakarta: Adi Cita.
Tohar, M. (2000). Membuka Usaha Kecil. Yogyakarta: Kanisius.
Adi, M. K. (2007). Analisis Usaha Kecil dan Menengah. Yogyakarta: Andi.
Suharjono. (2003). Managemen Perkreditan Usaha Kecil dan Menengah. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
Srimindarti, Ceacilia. 2006. Balanced Scorecard sebagai Alternatif untuk Mengukur
Kinerja. Jakarta: Adi Cipta
Mulyanto, Dede. 2006. Usaha Kecil dan Persoalannya di Indonesia. Jakarta: Yayasan
Obor Indonesia.
Ranto, Basuki. 2007. Analisis Hubungan Antara Motivasi, pengetahuan kewirausahaan,
dan kemandirian usaha terhadap kinerja pengusaha pada kawasan industri kecil di
daerah pulogadung. Jurnal Usahawan No.10 TH XXXVI Oktober 2007.

banner iklan
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.