Fenomena Konsumerisme Generasi Z: Digital Native yang Boros?

Avatar of news.Limadetik
Fenomena Konsumerisme Generasi Z: Digital Native yang Boros?
Ilustrasi

Oleh : Farah Azzahra
Prodi: Akuntansi
Universitas Muhammadiyah Malang

____________________________

ARTIKEL – Publik kini tidak perlu bingung lagi dengan sebutan generasi Z, atau generasi yang lahir dalam era digital dengan perkembangan teknologi dan informasi yang serba maju. Mengawali abad baru di 2000, lahir di tengah perkembangan teknologi yang serba pesat membuat generasi Z memiliki keterkaitan yang erat dengan internet. Kebanyakan generasi Z bahkan tidak dapat melepaskan diri dari internet dan teknologi smartphone. Mereka pun menjadi pribadi yang terbuka terhadap dunia global dan lebih maju dibandingkan generasi lainnya.

Namun, pada saat yang sama generasi Z tersebut juga dikenal sebagai salah satu generasi remaja yang memiliki tingkat konsumerisme tinggi. Tingkat konsumerisme tinggi ini pada dasarnya memberikan beberapa pengaruh terhadap individu, terutama generasi Z yang kebanyakan masih remaja. Salah satu pengaruh konsumerisme yang terlalu tinggi adalah mereka cenderung melaksanakan konsumsi atau transaksi pembelian suatu produk atau jasa tanpa memperhatikan kebutuhannya sendiri, sehingga dapat dikatakan individu dengan tingkat konsumerisme tinggi merupakan individu yang berperilaku boros.

Terdapat beberapa alasan yang menjelaskan mengapa generasi Z lahir dengan sikap konsumerisme yang tinggi dan cenderung boros, hal ini karena mayoritas generasi Z lahir pasca krisis ekonomi sehingga tidak mengalami pengalaman kesulitan atas finansial. Kehidupan dari generasi Z juga dipenuhi dengan berbagai tren seperti FOMO (Fear of Missing Out), hingga YOLO (You Only Live Once) yang makin mendorong generasi Z untuk bertindak semaunya, termasuk dalam melakukan transaksi secara bebas sehingga menyebabkan konsumerisme dan keborosan.

Hal ini kian didorong dengan kebanyakan generasi Z yang masih muda, sehingga cenderung lebih suka menikmati kehidupan dibandingkan harus menabung untuk hari tua di masa depan nanti. Salah satu hal yang mampu meningkatkan kenikmatan dalam kehidupanmereka tersebut biasanya dilakukan dengan membeli berbagai barang sehingga berpengaruh terhadap tingkat konsumerisme karena menyebabkan sebuah keborosan.

Dalam kondisi teknologi yang makin pesat, konsumerisme dan keborosan generasi Z juga didorong dengan berbagai kemudahan. Misalnya, kemudahan dalam melakukan transaksi dengan menggunakan smartphone melalui berbagai E-Commerce seperti Shopee, Tokopedia, dan sebagainya. Keberadaan dari e-commerce ini semakin mendorong generasi Z untuk membeli dan melakukan berbagai hal yang disukainya mengingat kemudahan yang diberikan dari teknologi tersebut.

Meskipun begitu, diharapkan di masa depan generasi Z mampu membatasi tingkat konsumerisme dan menahan diri agar tidak boros. Bukan tanpa alasan, hal ini agar generasi Z tidak mengalami penyesalan di kemudian hari. Sebagai generasi yang terbuka secara global, generasi Z harus mampu mengendalikan dan menahan dirinya sendiri. Salah satunya dengan melakukan hal-hal yang lebih produktif dibandingkan melakukan pembelian barang atau transaksi terus menerus.

Dalam perkembangannya, tingkat konsumerisme yang tinggi dan menyebabkan keborosan milik generasi Z bahkan dikatakan lebih parah apabila dibandingkan dengan generasi milenial yang masih berada di ambang wajar. Berbagai tren baru mengharuskan generasi Z untuk mengikuti, salah satunya dengan turut membeli barang dalam menyokong tren tersebut.

Perlu diketahui bahwa, tingkat konsumerisme generasi Z yang kian meningkat ini mampu memberikan suatu pengaruh buruk dan mengancam. Generasi Z selalu beranggapan bahwa mereka harus selalu mengikuti berbagai perkembangan tren yang ada, dalam kata lain mereka harus selalu melakukan hal yang sama meskipun harus melaksanakan apapun untuk mencapainya. Akibatnya, generasi Z bahkan rela melakukan apapun untuk mendapatkan hal yang diinginkannya, terutama dalam mengikuti tren.

Contohnya, generasi Z bahkan seringkali rela menggunakan sistem pay later atau hutang dalam transaksinya untuk menyokong tingkat konsumerismenya yang tinggi. Hasilnya, tidak sedikit generasi Z yang sekarang ini terhitung berbagai hutang akibat dari egonya yang tinggi dalam melakukan berbagai hal. Generasi Z rela memiliki hutang agar bisa memberikan kepuasan diri melalui keborosannya dalam membeli berbagai hal untuk mengikuti tren yang ada.

Berlandaskan dari hal ini, maka dari itu generasi Z sekarang ini juga menjadi salah satu generasi yang paling mengkhawatirkan akibat dari tindakannya yang cenderung mengabaikan berbagai konsekuensi, asalkan dirinya sendiri bahagia dan senang. Generasi Z sekarang perlu untuk dapat mengontrol serta mengendalikan diri sendiri, termasuk dalam mengatur tingkatan konsumerisme yang terdapat di dalam dirinya sendiri.