banner podcast

Harga Daging Ayam Tinggi, Ketua Kadin Sumenep Angkat Bicara

  • Bagikan
Harga Daging Ayam Tinggi, Ketua Kadin Sumenep Angkat Bicara
FOTO: Hairul Anwar ST.MT, Ketua Kadin Sumenep
Banner Iklan

SUMENEP, LimaDetik.Com – Harga daging ayam di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur sejak menjelang Ramadhan terus mengalami kenaikan. Bahkan diawal ramadhan harga daging ayam hampir menyentuh harga Rp. 50 ribu rupiah, tentu saja hal ini sedikit menjadi beban bagi konsumen.

Sepekan sebelum ramadhan, biasanya harga daging ayam berkisar Rp 36 ribu hingga Rp 40 ribu, saat ini di Sumenep terpantau mencapai sekitar Rp 46 ribu hingga Rp 49 ribu per kilogram.

Menanggapi hal itu, Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Sumenep, Hairul Anwar angkat bicara, ia mengatakan, penyebab naiknya harga daging ayam lantaran permintaan yang tinggi sementara pasokan terbatas.

“Berdasar survei kita, naiknya harga daging ayam ini memang yang tertinggi, lebih dari 10 persen bahkan hampir 20 persen. Dan ini karena tak seimbangnya permintaan dan pasokan,” ujarnya, Kamis (15/4/2021).

Hairul menyebut, ada rentetan faktor hingga akhirnya harga daging ayam naik drastis, mulai dari harga pakan yang sempat naik hingga menyebabkan banyak peternak berhenti melanjutkan beternak karena merugi.

“Nah, saat peternak berhenti beternak, pemintaan mendadak meningkat, akhirnya ya stok tidak mendudukung dan sebagaimana hukum pasar, ketika stok terbatas harga pasti melonjak,” paparnya.

Sebagai solusi, menurut Hairul, pemerintah bisa berupaya menekan harga daging ayam ini dengan menggelar operasi pasar. Tetapi hal itu tentu bergantung kepada kemampuan finansial.

“Solusi jangka pendeknya ya operasi pasar, tapi untuk jangka panjang pemerintah harus mempersiapkan jauh-jauh hari, seperti harga pakannya, bibit ayamnya hingga harga ecerannya. Ini supaya peternak tidak rugi dan tetap semangat produksi,” ungkapnya.

Pengusaha muda sukses ini menambahkan, masalah naik turun harga komoditas sebetulnya wajar-wajar jika tidak melebihi dari 10 pesen harga normal. Pasalnya, hukum pasar memang fluktuatif.

“Yang paling penting justru pemerintah harus mengupayakan swasembada, solusi jangka panjang. Sedangkan masyarakat juga harus tetap kuat, tetap berusaha memenuhi kebutuhan di tengah ekonomi sulit karena pandemi ini,” pungkasnya.

(yd/red)

banner iklan
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.