Implikasi Larangan Ekspor Benih Lobster Terhadap Indonesia: Memerangi Penjarahan Sumber Daya Negara dan Meningkatkan Keberlanjutan

Avatar of news.Limadetik
Implikasi Larangan Ekspor Benih Lobster Terhadap Indonesia: Memerangi Penjarahan Sumber Daya Negara dan Meningkatkan Keberlanjutan
Ilustrasi foto nelayan (sumber: google)

Implikasi Larangan Ekspor Benih Lobster Terhadap Indonesia: Memerangi Penjarahan Sumber Daya Negara dan Meningkatkan Keberlanjutan

Oleh : Ahmad Haidar Abiyyu Yassar
Prodi: Akuntansi
Fakultas: Ekonomi dan Bisnis
Universitas Muhammadiyah Malang

_____________________________

ARTIKEL – Hewan Lobster bagi masyarakat indonesia tentunya sudah bukan hal yang asing lagi terdengar di telinga kita. Nephropidae atau yang lebih kita kenal dengan nama “Lobster” merupakan salah satu hewan crustacea yang dapat dapat ditemukan hampir di seluruh penjuru lautan dunia.

Hewan lobster ini hidup di daerah bebatuan, berpasir, atau berlumpur dari garis pantai hingga di luar tepi landas kontinen. Selain itu hewan ini juga hewan yang dikenal dengan sebutan “kecoak laut” ini tentunya mempunyai tempat tersendiri bagi para pecinta kuliner laut. Dengan tekstur daging yang lezat dan kaya akan rasa, tentunya hal ini sangat digemari oleh para pecinta kuliner dan para wisatawan yang menginginkan suatu hidangan yang unik.

Selain dapat dijadikan sebagai olahan makanan, hewan lobster ini juga dapat memberikan dampak ekonomi bagi para pengusaha yang bergerak dalam pembudidayaan lobster. Dengan potensi pasar yang masih luas dan kebutuhan pasokan yang tinggi, membuat permintaan akan hewan satu ini masih tergolong tinggi. Ditambah dengan harga jualnya yang tinggi, membuat pembudidaya mendapat keuntungan yang besar pula.

Perlu diketahui, Indonesia sendiri adalah penghasil lobster terbesar ke-17 dunia. Dengan total mencapai 12.438,2 ton, indonesia mengantongi devisa sebesar 3,64 triliun rupiah pada 2021. Dengan angka pendapatan yang fantastis itu tentunya akan banyak permintaan lobster yang dipasarkan.

Namun, dengan angka penjualan lobster yang tinggi, tentunya hal ini memunculkan suatu peluang baru bagi pembudidaya lobster. Selain mengekspor Lobster ke negara-negara pembeli, benih lobster pun dapat dijual, benih benih lobster tersebut dijual ke negara lain seperti vietnam.

Hal ini memunculkan peluang dan ancaman tersendiri bagi perekonomian negara. Dengan meningkatnya permintaan hasil alam akan lobster, diharapkan mampu untuk meningkatkan pendapatan negara dan membuka lapangan kerja baru. Selain itu, dengan budidaya lobster dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat.

Walaupun indonesia sendiri termasuk kedalam negara penghasil benih lobster, indonesia sendiri bukanlah negara penghasil lobster terbesar. Masalah ini sempat menjadi perhatian pemerintah setempat. namun, pada kenyataannya saat ini penangkapan hewan lobster semakin marak dilakukan, membuat jumlah lobster yang hidup di alam semakin sedikit.

Hal ini juga diperparah dengan adanya penjualan benih benih lobster yang seharusnya dikonservasi untuk menjaga ekosistem dan populasi lobster tetap terjaga jumlahnya.

Untuk itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) resmi melarang ekspor benih bening lobster, menyusul terbitnya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 17 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Lobster (Panulirus spp.), Kepiting (Scylla spp.), dan Rajungan (Portunus spp.) di Wilayah NKRI.

Hal ini tentunya tidak lain adalah selain untuk menjamin keberlangsungan siklus hidup lobster di alam liar yang terus menerus ditangkap, juga diharapkan dapat meningkatkan perekonomian bagi wilayah sekitarnya.

Selain itu, larangan ekspor benih lobster juga berpotensi untuk memperkuat industri budidaya lobster di Indonesia. Dengan mendorong pembudidayaan lobster di dalam negeri, pemerintah dapat menciptakan lapangan kerja baru, mengurangi tekanan penangkapan di alam liar, dan meningkatkan nilai tambah ekspor lobster yang telah dibudidayakan secara berkelanjutan.

Namun, implementasi larangan ekspor benih lobster juga memerlukan langkah-langkah pendukung yang efektif, seperti penegakan hukum yang ketat terhadap praktik penjarahan dan pengawasan yang intensif terhadap kegiatan pembudidayaan.

Pemerintah perlu bekerja sama dengan para pemangku kepentingan terkait untuk mencapai tujuan ini. Juga, keputusan sebelumnya yang telah ditetapkan oleh kementerian kelautan dan perikanan ini tidak bisa langsung terlaksana begitu saja.

Melihat di negara Indonesia sendiri belum banyak berkembang teknologi berupa tempat untuk pemeliharaan benih lobster, sehingga membuat masyarakat lebih memilih untuk menjual benih tersebut ketimbang membudidayakannya.

Selain faktor kurangnya teknologi, faktor-faktor lain juga dapat mempengaruhi pembudidayaan benih benih lobster seperti:

1. Kurangnya Pengetahuan dan Keterampilan: Sulitnya dalam pengembangbiakan lobster itu sendiri juga berdampak pada benih lobster. Pengembangbiakan lobster adalah proses yang kompleks dan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan khusus.

Jika peternak atau pelaku usaha tidak memiliki pengetahuan atau keterampilan yang cukup dalam pengembangbiakan lobster, maka mereka mungkin cenderung memilih untuk mengimpor benih lobster daripada mencoba mengembangbiakkan lobster sendiri.

2. Faktor Ekonomi dan Biaya Produksi: Besarnya biaya yang dibutuhkan dalam proses perkembangbiakkan lobster itu sendiri juga menjadi penyebab kurangnya tempat pengembang biakkan lobster.

Dalam beberapa kasus, impor benih lobster mungkin lebih murah atau lebih efisien secara ekonomi daripada mengembangbiakkan lobster sendiri. Proses pengembangbiakan lobster membutuhkan waktu dan biaya, termasuk biaya pemeliharaan dan perawatan, pakan, dan tenaga kerja.

3. Faktor Hukum dan Peraturan: Peraturan dan kebijakan beberapa negara yang mungkin membatasi atau menghambat pengembangbiakan lobster dalam negeri. Ini bisa menjadi alasan mengapa lebih banyak benih lobster diekspor daripada dikembangbiakkan di dalam negeri.

Dalam kesimpulannya, larangan ekspor benih lobster memiliki implikasi yang signifikan bagi Indonesia. Selain memerangi penjarahan sumber daya negara, kebijakan ini juga berpotensi untuk meningkatkan keberlanjutan ekosistem perairan dan menguatkan sektor budidaya lobster di dalam negeri.

Dengan langkah-langkah yang tepat, Indonesia dapat mengoptimalkan potensi sumber daya alamnya dan menjaga keberlanjutan bagi masa depan yang lebih baik.