Kenaikan Harga Minyak dan Ancaman Inflasi Pasca Pandemi

Avatar of news.Limadetik
Kenaikan Harga Minyak dan Ancaman Inflasi Pasca Pandemi
FOTO: Amelia Putri Pradana

OLEH : Amelia Putri Pradana
PRODI: Akuntansi
Universitas Muhammadiyah Malang

__________________________________

NEWS.LIMADETIK.COM – Sudah dua tahun lebih pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Selama pandemi masyarakat selalu dihimbauan untuk di rumah saja dan diberlakukan pembatasan wilayah. Hal ini membuat kebiasaan baru bagi masyarakat, salah satunya sistem kerja dari rumah atau Work Form Home (WFH) bagi para pekerja. Selain itu, ancaman PHK juga sangat ketara di masa pandemi lalu. Said Iqbal selaku Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) (Hantoro, 2020) mengatakan hal ini disebabkan karena melemahnya permintaan pasar sebab dampak dari adanya pembatasan wilayah selama pandemi.

Ketersediaan bahan baku yang menipis dan nilai tukar rupiah yang juga turun menyebabkan banyak perusahaan memutuskan untuk memutus hubungan kerja dengan beberapa karyawannya. Pemutusan hubungan kerja tersebut memicu tingginya tingkat pengangguran di Indonesia sehingga tingkat produksi nasional semakin rendahnya (Salam, 2020).

Dampak dari rendahnya produksi nasional tersebut adalah menjadikan harga barang semakin naik. Namun, kenaikan harga barang tidak disertai dengan kenaikan penghasilan masyarakat sehingga memicu terjadinya inflasi di Indonesia setelah pandemi Covid-19. Sesuai data BPS (2022), Oktober 2022 inflasi year on year (y-on-y) sebesar 5,71 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,75.

Meroketnya Harga Minyak Dunia Penyebab Inflasi

Selain dampak dari PHK dan pembatasan wilayah selama pandemi, inflasi juga dipicu dengan meroketnya harga minyak dunia. Harga minyak dunia tersebut diatur West Texas Intermidiate (WTI) agar sesuai dengan standar harga minyak dunia (Sartika, 2017).

Minyak, mata uang, dan emas merupakan indikator ekonomi dunia yang nilainya dapat berubah sesuai dengan keadaan ekonomi dan politik suatu negara (Sartika, 2017). Embargo Uni Eropa terhadap minyak Rusia merupakan fakor geopolitik, kebijakan OPEC yang memangkas produksi minyak sebesar 2 juta barel per hari dan melemahnya nilai tukar dollar AS (Rosana, 2022).

Pengaruh kenaikan harga minyak pada kawasan Asia Pasifik disebabkan peningkatan impor minyak mendah di Cina dan juga diiringi dengan aktivitas kilang yang meningkat sebagai antisispasi permintaan bahan bakar di Eropa (ESDM, 2022).

Dampak dan Solusi Pemerintah

Inflasi yang dipicu oleh kenaikan minyak dunia juga mempengaruhi pembengkakan APBN pada beban subsidi BBM. Agung Pribadi selaku Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama mengatakan bahwa setiap kenaikan US$1 per barel berdampak pada kenaikan subsidi LPG sekitar Rp1,47 triliun, subsidi minyak tanah sekitar Rp49 miliar, dan beban kompensasi BBM lebih dari Rp2,65 triliun (ESDM, 2022).

Selain itu, pembangkit listrik juga memakai BBM sebagai bahan bakarnya sehingga juga diperlukan subsidi BBM pada listrik.

Pada sektor Industri, kenaikan BBM juga sangat mempengaruhi harga barang hasil produksinya. Ekonum UNAIR, Dr. Rossanto Dwi Handoyo mengatakan bahwa subsidi BBM tidak diperkenankan dipakai bagi industri menengah dan besar (Prastiwi, 2022).

Namun, naiknya harga BBM dan tidak adanya subsidi bagi industri menengah dan besar sangat berpengaruh pada biaya produksi yang menyebabkan harga barang hasil produksi lebih tinggi dari sebelumnya. Selain sektor industri, masyarakat juga diresahkan dengan naiknya sebagian besar harga barang pokok yang juga dipengaruhi kenaikan harga BBM. Kenaikan tersebut dapat memicu terjadinya inflasi (Dewi, 2020).

Namun, pada kenyataannya subsidi BBM tidak merata dan banyak dinikmati masyarakat mampu. Berdasarkan permasalahan tersebut, pemerintah menetapkan kenaikan harga BBM mendekati harga keekonomian dengan tujuan menekan anggaran subsidi BBM dan mengalihkannya untuk rakyat kecil berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT) BBM sebesar Rp150 ribu per bulan pada tiap Kartu Keluarga (KK) dan juga subsidi upah bagi para pekerja sebesar Rp600 ribu (Sihombing, 2022).