banner podcast

Mahasiswa: Mencari Ilmu atau Kerja..?

  • Bagikan
Mahasiswa: Mencari Ilmu atau Kerja..?
FOTO: Moh.Khoirul Fatih
Banner Iklan

Oleh : Moh.Khoirul Fatih
Dosen IAI Tarbiyatut Tholabah Lamongan

___________________________________

“Seorang mahasiswa yang berilmu belum tentu kerja, dan seorang mahasiswa yang bekerja belum tentu berilmu”

Limadetik.com – Bangunan logika di atas sering kita dengar bahkan kata-kata di atas tidak-lah asing lagi di telingah kita, ingatlah “ketika orang tua bertanya kepada anaknya yang hendak mau melanjutkan keperguruan tinggi. Nak kamu ingin kuliah ingin jadi apa kalau bisa masa depanmu harus lebih baik dari bapak dan ibu-mu biar menjadi anak yang bisa dibanggakan, tentunya sang anak yang masih polos itu menjawabnya dengan dua kalimat yaitu aku kuliah kalau tidak cari kerja ya cari ilmu biar jadi manusia yang manfaat.

Tentunya dua kalimat itu saya tafsirkan sebuah kalimat yang sangat sederhana tapi mengandung substansi dan konsekuensi yang cukup berat. Karena jika sang anak sudah diterima di perguruan tinggi yang ia inginkan, dan jika masa perkuliahan S1 selama 4 tahun itu telah dirampungkan, setelahnya sang anak tersebut pulang kembali ke kampungnya dan ia tidak mengalami perubahan apapun dalam hidupnya maka sang anak itu sama saja dengan bunuh diri karena mayoritas masyarakat kampung berasumsi siapa yang kuliah dia harus mempunyai pekerjaan yang lebih baik dari pada kedua orang tuanya, disini kita bisa mengetahui bahwa mayoritas masyarakat kampung lebih menghargai orang yang bekerja dan punya harta banyak dari pada menghargai orang yang berilmu yang miskin atau sederhana hidupnya, “mungkin itu perubahan zaman ya”.

Fenomena di atas sudah menjadi sebuah tradisi sehingga kata-kata tersebut sampai sekarang masih tetap eksis dan masih tetap digunakan, semua itu terjadi karena mayoritas masyarakat perkampungan apalagi masyarakat tersebut tergolong awam, sehingga mereka sering terjebak kedalam logika pasar yaitu kaidah jual beli. Dimana ada kuliah di dalamnya harus ada yang ditargetkan yaitu sebuah pekerjaan yang jelas sesuai jurusan yang diambil, sama dengan hukum jual beli.

Kalau logika tersebut masih tetap dipertahankan dan malah dijadikan sebuah tradisi maka sang anak yang berkeinginan untuk kuliah akan mulai berfikir dua kali karena ia takut dan khawatir kalau ia sudah kuliah dan lulus lalu pulang kembali ke kampungnya ia takut tidak mengalami perubahan apapun dalam hidupnya sehingga fenomena di atas menimpanya Lalu kalau sudah terjadi demikian siapa yang harus disalahkan ? tentunya semua orang tidak menginginkan hal di atas terjadi pada hidupnya.

Padahal setiap pemuda khususnya pemuda di Indonesia punya hak penuh untuk mencari ilmu dan bersekolah setinggi-tinggi-nya karena Kita tahu pemuda yang kuliah lalu mendapat status baru dalam ktpnya yaitu status yang bertuliskan mahasiswa. Dan menyandang status mahasiswapun kerap digadang-gadang sebagai The Agent of Social Change, yaitu agen perubahan masa depan, setiap pemuda berhak menentukan masa depanya dan sebagai orang tua tentunya hanya bisa berdo’a masalah sang anak di masa depan menjadi apa adalah sebuah takdir dan hukum alam.

Masa depan bukan-lah jaminan yang bisa di kadang-kadang dan pekerjaaan bukan-lah jaminan untuk bisa hidup lebih baik maka niati-lah kuliah anda dengan mencari ilmu. dengan ilmu kita dapat berubah segalanya, termasuk hidup, dengan ilmu pula kita bisa menjadi manusia yang manfaat.

Maka beruntunglah orang-orang yang berilmu. Suatu kata-kata yang bisa kita renungkan bersama agar kita tidak terjebak kedalam logika pasar yang seolah-olah sudah meracuni presepsi diri kita. Bahkan Logika pasar tersebut sudah menjadi racun bahkan hama di lingkungan masyarakat khususnya masyarakat perkampungan. sehingga sebagai The Agent of Social Change”.

Relasi antara pekerjaan & ilmu juga sangatlah signifikan karena keduanya saling mewarnai suatu pekerjaan juga membutuhkan keahlian dan ilmu juga harus diterapkan dan diamalkan seperti Hadist Nabi saw “bahwasanya sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain”, dan mahasiswa digolongkan mampu berperan di antara kedua-nya.

Dengan berkaca pada kata kata bijak di atas bahwa seorang mahasiswa tentu lebih dituntut untuk menjadi seorang intelektual ketimbang sebagai seorang tukang. Akan tetapi, mengingat realitas sekarang ini yang terus bergulir di depan mata, seorang mahasiswa cenderung lebih mementingkan orientasi pendidikannya ke ranah pencapaian menjadi pekerja atau pembisnis yang sukses ketimbang eksistensi yang sepatutnya yakni menjadi intelektual atau orang yang berilmu.

Kita tahu, mahasiswa kerap digadang-gadang sebagai The Agent of Social Change, tetapi kerap ia berjalan seolah menafikan dirinya sebagai agen perubahan di lingkungan masyarakatnya. Dengan lebih mementingkan egoisitasnya dari pada kepentingan sosialnya.

Tulisan singkat dan sederhana ini untuk memberikan wacana baru dan menawarkan sebuah solusi tentang dunia mahasiswa dan pekerjaan, agar kita tidak terjebak kedalam logika pasar semakin dalam, sekian.
___________________________________________________
IAI Tarbiyatut Tholabah Lamongan, Sabtu 2 Oktober 2021

banner iklan
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.