banner podcast

Membangun Bisnis Secara Syariah dengan Sistem Mudharabah

  • Bagikan
Membangun Bisnis Secara Syariah dengan Sistem Mudharabah
FOTO: Ilustrasi
Banner Iklan

Assalamualaikum. Wr. Wb. Perkenalkan saya Andi Ramdhani mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Prodi Akuntansi yang dibimbing oleh Dr. Dra. Masiyah Kholmi, Ak., MM., CA selaku dosen mata kuliah Akuntansi Syariah. InsyaAllah pada artikel ini saya akan mengulas secara ringkas bagaimana kita sebagai umat Muslim yang ingin membangun satu bisnis tetapi secara syariah Islam, agar mendapat berkah dari Allah SWT. Semoga apa yang saya sampaikan dapat dimengerti dan membawa manfaat bagi pembaca. Mari kita mulai dengan membaca Basmalah agar mendapat rahmat dan ridho Allah SWT atas ilmu ini…….. (Bismillahirrahmanirrahim).

Sejak dari zaman Nabi Muhammad SAW umat Islam sudah dikenalkan dengan bisnis. Bisnis pada masa itu ialah perdangan. Nabi Muhammad SAW merupakan sosok contoh yang patut kita ikuti dalam membangun dan menjalankan bisnis. Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai pengusaha yang jujur, amanah dan terpercaya. Beliau mengajarkan bagaimana perilaku yang baik untuk menjadi pengusaha yang diridhoi Allah SWT. Pengusaha muslim temtunya berusaha untuk meniru dan mengacu bagaimana tata cara bisnis Rasulullah, tetapi setiap membangun dan menjalankan bisnis pasti ada saja halangan dan tantangannya yang harus dihadapi oleh seorang
pengusaha muslim. Dari pada itu pengusaha muslim sebaiknya menghindari masalah yang akan membawa dampak buruk baginya.

Bisnis merupakan suatu kegiatan diakukan oleh manusia untuk mendapatkan penghasilan atau riski dalam memenuhi kebutuhan hidupnya serta dalam rangka memenuhi keinginan hidupnya dengan mengelola sumber daya ekonomi menjadi barang atau jasa yang bermanfaat dam memiliki nilai tambah. Dalam perspektif Islam bisnis merupakan serangkaian aktivitas bisnis yang bentuknya terdapat batasan baik jumlah (kuantitas) kepemilikan hartanya (profit), serta juga dibatasi bagaimana cara memperoleh dan penggunaan hartanya (ada aturan halal dan haram).

Penjelasan yang sudah dipaparkan diatas dapat diartikan bahwa Islam mewajibkan setiap umatnya untuk berusaha yaitu melalui bekerja. Bekerja yang dimaksud adalah manusia disuruh untuk mencari rizki dengan cara sesuai tuntunan. Melalui bekerja manusia dapat memperoleh atau memiliki harta kekayaan, sehingga manusia dapat memberikan nafkah kepada keluarganya. Allah SWT telah memberikan kepada umatnya berbagai macam sumber daya yang ada di bumi untuk dimanfaatkan manusia mencari rizki. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Q.S Al-Mulk ayat 5 : “Dialah yang menjadikan bumi ini mudah bagi mu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizki_Nya”.

Setiap membangun suatu bisnis pastinya dibutuhkan pendanaan. Dalam Islam diperintahkan bagi manusia untuk mencari akses pendanaan yang terjauh dari bunga, sebab bunga dalam Islam adalah riba. Maka dari itu dalam Islam telah ada tuntunan atau cara kita memperoleh pendanaan yang terjauhkan dari hal-hal yang mengandung riba, yaitu salah satunya melalui sistem
mudharabah. Sistem mudharabah merupakan cara yang dibenarkan oleh Islam karena sesuai dengan tuntunan syariah Islam.

Secara teknis, sistem mudharabah adalah bentuk kerja sama antara dua pihak dimana pihak pertama merupakan yang disebut sebagai Shahibul Mal sebagai menyediakan modal, sedangkan pihak kedua sebagai pengelola. Dalam fikih mu’amalah, mudharabah dinamakan juga qiradh yaitu bentuk kerja sama antara pemilik modal (Shahibul Mal) dengan pengelola (Mudharib) untuk melakukan usaha yang dimana keuntungan akan dibagi antara kedua belah pihak sesuai rukun dan syarat tertentu.

Pembagian keuntungan usaha akan menggunakan metode persentase atau nisbah dimana sesuai dengan kesepakatan diawal. Dalam PSAK No. 59, paragraf 6 menjelaskan mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara Shahibul Mal (pemilik dana) dan Mudharib (pengelola dana) dengan nisbah bagi hasil menurut kesepakatan dimuka.

Berikut pengaplikasian sistem mudharabah :
1. Perjanjian dilakukan dalam bentuk perjanjian baku (standart contract)
2. Bentuk akad mudharabah akan dalam bentuk perjanjian tertulis yang akan disebut perjanjian bagi hasill
3. Perjanjian bagi hasil akan disebut nisbah bagi hasil yang berlaku sampai berakhirnya perjanjian.
4. Sistem kepercayaan

Mudharabah terdiri atas dua jenis. Pertama mudharabah muthalaq (investasi tidak terikat) adalah pemilik dana akan memberi kebebasan untuk pengelola dalam pengelolaan dananya, Kedua mudharabah muqayyah (investasi terikat) adalah pemilik dana memberikan batasan untuk pengelola mengenai tempat, cara serta objek investasinya.

Demikian penjelasan singkat mengenai sistem membangun bisnis dengan sistem mudharabah, semoga apa yang telah dipaparkan dapat memberikan manfaat bagi pembaca, dan mendapat rahmat dari Allah SWT untuk memahami isi dari artikel penulis.

Wassalamualaikum. Wr. Wb.

banner iklan
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.