Opini  

Membangun Toleransi di Media Sosial Melalui Komunikasi Multikultural di Era Norma Baru

Avatar of news.Limadetik
Membangun Toleransi di Media Sosial Melalui Komunikasi Multikultural di Era Norma Baru
FOTO ; Moch. Faizal Akbar

Oleh : Moch. Faizal Akbar
NIM : 220403020015
Prodi : Sistem Informasi
Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

_______________________________

PENGANTAR

OPINI – Indonesia adalah negara multikultural karena terdiri atas berbagai suku, ras, agama, dan etnik. Menjadi negara multikultural seharusnya berpotensi memiliki masyarakat yang lebih inovatif dan kreatif akan berbagai macam gagasan dan ide yang berbeda.

PENDAHULUAN

Di era normal baru seperti saat ini, aktivitas penggunaan media sosial semakin meningkat dilihat dari penggunaan aplikasi WhatsApp dan Instagram yang naik 40% selama pandemi. Hal ini disebabkan banyak pengguna menggunakan media sosial dalam berkomunikasi selama masa pandemi. Pada dasarnya, meningkatnya penggunaan media sosial di era normal baru diharapkan bisa mengenal keberagama budaya Indonesia lebih jauh dan lebih mengenal keragaman antar budaya.

Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Media sosial dijadikan sebagai tempat untuk mengadu domba serta menyebarkan isu yang menyebabkan perpecahan antar masyarakat. Indonesia menjadi rentan terhadap konflik antar suku, etnis, maupun agama. Minimnya pengetahuan keberagaman masyarakat Indonesia menjadikan konflik ini semakin nyata. Hal ini diperparah dengan maraknya penyebaran berita hoax dan ujaran kebencian di media sosial.

PROBLEMATIKA

Kurangnya literasi pengguna sehingga kurang bijak dalam bermedia sosial. Selain itu, sifat etnosentrisme yang mandarah daging menjadi penyebab munculnya berbagai macam perselisihan.

PEMBAHASAN

Suatu informasi yang diseberkan secara terus-menerus tanpa adanya filterisasi terlebih dahulu dan semakin mudahnya informasi tersebut diakses oleh netizen dari berbagai kalangan. Bukan tidak mungkin bagi kita untuk meminimalisir tindakan intolerasi yang terjadi di media sosial. Dalam menanggapi informasi yang beredar, kita seharusnya bisa menghindari sifat ekstrimisme, radikalisme, dan ujaran kebencian.

Ekstrimisme sendiri adalah sebuah paham yang dipercaya secara berlebihan dan bisa melanggar hukum. Radikalisme hampir sama dengan ekstrimisme namun perbedaanya radikalisme ingin adanya perubahan secara politik dengan cara kekerasan. Sedangkan ujaran kebencian merupakan suatu tindakan yang berupa ucapan penghinaan, kebencian, dan provokasi terhadap suatu hal.

SOLUSI

Bijak dalam bersosial media juga menjadi fondasi dalam meningkatkan sifat toleransi dalam bersosial media. Tidak menyikapi secara berlebihan dan bersikap netral terhadap suatu berita menjadi salah satu aksi nyata yang bisa dilakukan oleh masyarakat dalam membangun kebersamaan di era normal baru. Menjaga tangan untuk tidak berkomentar jahat terhadap suatu hal juga akan membantu untuk menumbuhkan rasa kebersamaan didalam keberagaman.

KESIMPULAN

Jadi kita harus bisa berfikir lebih luas dan terbuka dibandingkan sebelumnya untuk membangun Indonesia lebih baik dan lebih maju dalam hal keberagaman dan menjadikan keberagaman itu bukan sebagai hambatan, melainkan sebuah sesuatu yang unik serta nilai tambah yang tidak dimiliki oleh negara lain.