Mengenal Akuntansi Syariah Melalui Sistem Transaksi Mudharabah

Mengenal Akuntansi Syariah Melalui Sistem Transaksi Mudharabah
FOTO: Ilustrasi

OLEH: Yuwansyari Bayu Pramudyo
Mahasiswa Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Muhammadiyah Malang

Tema : Akuntansi Mudharabah
Perkembangan dari transaksi syariah semakin marak dan dikenal di kalangan masyarakat Indonesia, sebagaimana Indonesia dengan mayoritas masyarakatnya menganut agama Islam. Kata syariah sendiri itu dijalankan sesuai dengan ketentuan hukum Islam. Pada prinsipnya transaksi syariah terdiri dari asas-asas persaudaraan (ukhuwah), keadilan (‘adalah), kemaslahatan (maslahah), keseimbangan (tawazun), universalisme (syumuliyah). Umat Islam di Indonesia sudah semakin menyadari untuk menjalankan kegiatan bermuamalah terdapat aturan-aturan yang harus ditaati demi keselamatan di dunia dan akhirat.

Apa itu Mudharabah? Secara terminologi, Mudharabah berasal dari bahasa arab kata adhdharby fil ardhi yaitu berpergian untuk urusan dagang. Mudharabah disebut juga qiradh yang berasal dari kata alqardhu yang berarti sepotong karena pemilik modal mengambil sebagian dari hartanya untuk diperdagangkan dan dia berhak mendapatkan sebagian dari keuntungannya. PSAK 105 tentang Akuntansi Mudharabah mendefinisikan mudharabah sebagai akad kerja sama usaha antara dua pihak di mana pihak pertama disebut shahibul maal (pemilik dana) menyediakan seluruh dana, sedangkan pihak kedua disebut mudharib (pengelola dana) dan keuntungan dibagi antara mereka sesuai kesepakatan sedangkan kerugian finansial hanya ditanggung oleh pemilik dana.

Transaksi Mudharabah dalam Islam untuk memudahkan orang, karena sebagian mereka memiliki harta namun tidak mampu mengelolanya dan di sana ada juga orang yang tidak memiliki harta namun memiliki kemampuan untuk mengelola dan mengembangkannya. Dalam akad mudharabah pemilik dana dibatasi dengan hanya memberikan saran-saran dan melakukan pengawasan pada pengelola dana.
Artinya, shohibul mall tidak boleh ikut campur dalam prosedur dalam menjalankan usaha yang telah disepakati. Akad Mudharabah adalah suatu transaksi investasi yang berdasarkan suatu kepercayaan. Kepercayaan merupakan unsur terpenting dalam akad ini, yaitu kepercayaan pemilik dana kepada pengelola dana. Dalam transaksi ini, terdapat pembagian risiko antara pihak pertama dan pihak kedua. Pembagian risiko yang dimaksud adalah apabila terjadi kerugian dimana pemilik dana akan menanggung risiko finansial, sedangkan pegelola dana akan memiliki risiko nonfinansial. Kerugian atau risiko pada transaksi akad ini, mutlak menjadi tanggung jawab pemilik dana.

Perbankan yang dikenal sebagai wadah penghimpun dana masyarakat, dimana akad mudharabah digunakan pada bank syariah, dengan memberikan pembiayaan terhadap usaha- usaha yang dimiliki oleh masyarakat. Bank syariah sudah dikenal sebagai perbankan yang
identik dengan bagi hasil, melalui akad ini posisi bank syariah sebagai mitra bagi nasabah, yang bertindak sebagai

Dalam PSAK 105, mudharabah diklasifikasikan ke dalam 3 (tiga) jenis yaitu:
1) Mudharabah muthalaqah adalah dimana pemilik dana memberikan kebebasan kepada pengelola dana dalam pengelolaan investasinya. Jenis ini disebut juga investasi tidak terikat.
2) Mudharabah muqqayah adalah dimana pemilik dana memberikan batasan kepada pengelola dana antara lain mengenai dana, lokasi, cara, dan/atau objek investasi atau sektor usaha.
3) Mudharabah musyarakah adalah dimana pengelola dana menyertakan modal atau dananya dalam kerja sama investasi.

Dalam kisah perjalanannya, Rasulullah SAW pernah melakukan transaksi mudharabah dengan Siti Khadijah, dimana Siti Khadijah sebagai pemilik dana dan Rasulullah sebagai pengelola dana dan Rasulullah membawa barang dagangannya ke negeri syam untuk diperjualbelikan. Mudharabah hukumnya boleh berdasarkan dengan dalil-dali berikut:

1. Al-Quran
“… Maka, jika sebagian kamu memercayai sebagai yang lain, hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya…” (QS. Al-Baqarah: 283)

2. Hadist
Dari Shalih bin Suaib r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda, “tiga hal yang di dalamnya terdapat keberkahan: jual beli secara tangguh, muqradhah (mudharabah), dan mencapuradukkan gandum dengan jemawut untuk keperluan rumah tangga bukan untuk dijual.” (HR. Ibnu Majah).

Adapun rukun mudharabah ada empat, yaitu: 1. Pelaku, terdiri atas (pemilik dana dan pengelola dana), 2. Objek mudharabah (modal dan kerja), 3. Ijab kabul/serah terima, 4. Nisbah keuntungan. Berakhirnya akad mudharabah, lamanya kerja sama dalam akad ini tidak tentu dan tidak terbatas, tetapi semua pihak berhak untuk menentukan jangka waktu kontrak kerja sama dengan memberitahukan pihak lainnya. Menurut (Sabbiq, 2008) Akad mudharabah dapat berakhir karena beberapa hal:

1. Berakhir pada waktu yang telah ditentukan.
2. Salah satu pihak memutuskan mengundurkan diri.
3. Salah satu pihak meninggal dunia atau hilang akal.
4. Pengelola dana tidak menjalankan amanahnya.
5. Modal usaha tidak ada.