banner podcast

Mengenal Istilah Mudharabah Dalam Bank Syariah

  • Bagikan
Mengenal Istilah Mudharabah Dalam Bank Syariah
FOTO: Ilustrasi Bank Syariah
Banner Iklan

Nama : Fitri Setiawati
NIM : 201810170311123
Kelas : Akuntansi Syariah VIC

Perbankan syariah adalah suatu sistem yang pelaksanaanya berdasarkan pada hukum Islam. dalam pembentukan sistem diperbankan syariah ini berdasarkan adanya larangan didalam agama Islam untuk meminjamkan atau memungut pinjaman dengan mengenakan bunga atau yang disebut dengan riba. Perbankan syariah mulai muncul pada akhir abad ke-20 dan terus berkembang hingaa saat ini. Di Indonesia sendiri untuk mendirikan bank syariah sudah muncul sejak tahun 1970-an. Pada saat ini lembaga keuangan Islam bukan lagi merupakan hal yang asing lagi didunia baik negara Islam maupun negara non Islam.

Di Indonesia lembaga keuangan islam saat ini mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal ini kita ketahui ditandai dengan semakin banyaknya lembaga-lembaga keuangan islam yang berdiri di Indonesia dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu. Salah satu contoh lembaga keuangan Islam yang terbujti yaitu, Bank Muamalat Indonesia (BMI) yang merupakan bank Islam pertama di Indonesia yang sampai saat ini bebagai bank Islam telah muncul. Selain itu, dapat kita ketahui juga telah muncul lembaga keuangan Islam lainnya seperti; Asuransi Islam dan Penggadaian Islam.

Keberadaan lembaga perbankan syariah didorong kuat oleh orang islam dimana mereka ingin terhindar dan transaksi bank yang dipandang mengandung unsur riba. Adanya prlarangan riba dalam islam merupakan pegangan utama bagi Bank Syariah dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Sehingga terdapat perjanjian utang piutang antara perbankan syariah dengan nasabah harus berada dalam trmpat bebas bunga. Sistem perbankan syariah merupakan bagian dari konsep ekonomi islam yang memiliki tujuan untuk keberadaan sinstem nilai dan etika islam dalam ekonomi. Diantara bank-bank yang berprofesi dengan sistem bagi hasil adalah Bank Muamalat Indonesia (BMI), BRI Syariah, Bank Syariah Mandiri dan lain sebagainya. Tujuan utama dalam perbankan syariah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi umat islam.

Sebagaimana yang sudah kita ketahui perbankan syariah tidak menerapkan sistem bunga dalam aktivitas perbankannya. Karena bunga dianggap bagian dari riba dan haram dalam agama Islam. Sebagai gantinya, perbankan yang belandaskan syariah ini menerapkan sistem bagi hasil atau nisbah yang menurut Islam sah untuk dilakukan. Perbankan syariah dijamin serta dipastikan bebas dari unsur riba atau bunga. Menyimpan uang di bank syariah bisa menjadi alternatif selain bank konvensional. Keduanya memberikan keuntungan dengan skema yang berbeda. Perbedaaan yang mendasar dari dari kedua alternatif perbankan ini yaitu, bank konvensional memberikan keuntungan bagi nasabah yang menempatkan dananya berupa bunga bank.

Sementara bank syariah tidak mengenal konsep bunga-berbunga yang dianggap riba, sebagai gantinya bank menerapkan sistem bagi hasil bagi nasabahnya. Bank syariah dengan produk utamanya berupa simpanan dan pembiayaan berupa simpanan dan pembiayaan (pinjaman), yang ditunjang dengan jasa ;ain-;ainnya yang operasionalnya hampir sama dengan bank konvensional. Namun dengan demikian masyrakat luas khususnya masyrakat yang sering melakukan transaksi perbankan kurang mengetahui apa dan bagaimana sistem bagi hasil yang dijalankan dalam operasional bank syariah, khususnya dalam sistem pembiayaan mudharabah pada bank syariah. Artikel yang saya buat bertujuan untuk mengetahui sistem pembiayaan mudharabah pada bank syariah.

Pembiayaan mudharabah merupakan akad pembiayaan antara bank syariah sebagai shahibul maal dan nasabah sebagai mudharib untuk melaksanakan kegiatan usaha, dimana bank syariah memberikan modal sebanyak 100% dan nasabah menjalankan usahanya. Hasil usaha atas pembiayaan mudharabah akan dibagi antara bank syariah dan nasabah dengan nisbah bagi hasil yang telah disepakati pada saat akad. Dalam pembaiayaan mudharabah terdapat dua pihak yang melaksanakan perjanjian dua pihak yang melaksanakan perjanjian kerja sama yaitu; (a) bank syariah; bank yang menyediakan dana untuk membiayai proyek atau usaha yang memerlukan pembiayaan. Bank syariah menyediakan dana 100% disebut dengan shahibul maal. (b) nasabah atau pengusaha; nasabah yang memerlukan modal dan menjalankan proyek yang dibiayai oleh bank syariah. Nasabah pengelola usaha yang dibiayai 100% oleh bank syariah dalam akad mudharabah disebut dengan mudharib.

Bank syariah memberikan pembiayaan mudharabah kepada nasabah atas dasar kepercayaan. Bank syariah percaya penuh kepada nasabah untuk menjalankan usaha. Keperayaan merupakan unsur terpenting dalam transaksi pembiayaan mudharabah, bank
syariah tidak iut campur dalam menjalankan proyek usaha nasabah yang telah diberi modal 100%. Bank syariah hanya dapat memberikan saran tertentu kepada mudharib dalam menjalankan usahanya untuk memperoleh hasil usaha yang optimal. Dalam pengelolaan nasabah berhasil mendapatkan keuntungan, maka bank syariah akan memperoleh keuntungan dari bagi hasil yang diterima. Sebaiknya, dalam hal nasabah gagal menjalankan usahanya dan mengakibatkan kerugian maka seluruh kerugian ditanggung oleh shahibul maal.

Menurut UU No. 21 Tahun 2008 tentang Bank Syariah pasal 1 butir 7, bank syariah adalah bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah dan menurut jenisnya terdiri aras bank umum syariah dan bank perkreditan rakyat syariah, sedangkan pembiyaan menurut UURI No. 21 Tahun 2008 tentang bank syariah berdasarkan pasal 1 butir 25 adalah penyediaan dana atau taguihan yang dipersamakan dengan itu beberapa transaksi bagi hasil dalam bentuk mudharabah dan musyarakah. Menurut sifat penggunaanya pembiayaan dapat dibagi menjadi dua, 1. Pembiayaan produktif yaitu, pembiayaan yang dutunjukkan untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam arti luas, 2. Pembiayaan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi.

Kata mudharabah secara etimologi berasal dari kata dharb. Dalam bahasa arab, kata ini termasuk kedalam kata yang memiliki banyak arti. Namun dibalik keluwesan kata ini, dapat ditarik benang merah yang dapat mencerminkan keragaman makna yang ditimbulkannya, yaitu bergeraknya sesuatu kepada sesuatu yang lain (Muhammad, 2003). Prinsip bagi hasil merupakan landasan operasional utama bagi produk-produk pembiayaan mudharabah dan musyarakah dalam perbankan syariah. Prinsip dasar inilah yang membedakan bank syariah dengan bank konvensional. Prinsip bagi hasil di Indonesia diterapkan dengan dua metode, yaitu profit sharing dan revenue sharing. Apabila suatu bank menggunakan sistem profit sharing, kemungkinan yang akan terjadi adalah bagi hasil yang akan diterima shahibul maal akan semakin kecil. Sedangkan untuk revenue sharing perhitungan bagi hasil didasarkan kepada total seluruh pendapat yang diterima sebelum dikurangi dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan tersebut.

Bank yang menggunakan sistem revenue sharing kemungkinan yang akan terjadi adalah tingkat bagi hasil yang diterima oleh pemilik dana akan lebih besar dibandingkan tingkat suku bunga pasar yang berlaku sehingga kondisi seperti ini akan mempengaruhi pemilik dana untuk berinvestasi di bank syariah dan dana pihak ketiga akan meningkat.didalam perbankan syaria Indonesia sistem bagi hasil yang diberlakukan adalah sistem bagi hasil dengan berlandaskan pada sistem revenue sharing. Bank syariah Indonesia dapat berperan sebagai pengelola maupun sebagai pemilik dana ketika bank berperan sebagai pengelola maka biaya tersebut akan ditanggung oleh bank, begitu pula sebaliknya jika bank berperan sebagai pemilik dana akan membebankan biaya tersebut pada phiak nasabah pengelola dana.

Perhitungan bagi hasil pada bank syariah dipengaruhi oleh beberapa faktor, 1. Faktor langsung investment rate merupakan presentasi actual dana yang diinvestasikan dari total dana. 2. Jumlah dana yang tersedia untuk diinvestasikan merupakan jumlah dana dari berbagai sumber dana yang tersedia untuk diinvestasikan (Antonio, 20010). Nisbah bagi hasik merupakan faktor penting dalam menentukan bagi hasil dibank syariah. Sebab asoek nisbah merupakan aspek yang disepakati bersama antara kedua belah pihak yang melakukan transaksi. Untuk melakukan nisbah bagi hasil, perlu diperhatikan aspek-aspek berikut ini: data usaha, kemampuan angsuran, hasil usaha yang dijalankan atau return actual bisnis, tingkat return yang diharapkan, nisbah pembiayaan distribusi pembagian hasil (Muhammad, 2005) (Antonio M. , 2001).

(Hendri Suhendri, 2002) istilah bagi hasil kerapkali disebut dengan ekonomi syariah dengan istilah mudharabah. Para fuqoha mendefinisikannya dengan akad antara dua pihak saling menanggung, salah satu pihak menyerahkan hartanya kepada pihak lain untuk diperdagangkan dengan bagian yang telah ditentukan dari keuntungan sesuai dengan persayaratan. Secara umum mudharabah terbagi kepada dua jenis yaitu, 1. Mudharabah muthalaq, yakni mudharabah yang cakuoan sangat luas dan tidak terikat kepada syarat-syarat tertentu seputar materi usaha; daerah bisnis dan waktu. Dana yang diterima dari shahibul maal atau pemilik harta ke mudharib atau penerima dana yang memberikan kekuasaan yang sangat besar. 2. Mudaharabh muqayyad, yaitu mudharabah yang terikat kepada syarat0syarat tertentu mengenai batasan materi usaha.

Untuk sahnya mudharabah maka harus terpenuhi rukun dan syarat mudharabah. Menurut Hanafiah rukun mudharabah adalah ijab dan qabul yang tepat, sedangkan menurut Jumhur ulama ada tiga rukunnya, 1. Dua pihak yang berakad (pemilik modal dan pengusaha). 2. Materi yang diperjanjikan mencakup modal usaha dan keuntungan. 3. Sighat (ijab dan qabul). Sedangkan menurut syafi’iyah rukun mudharabah ini yakni harta atau modal, pekerjaan atau pengusaha, keuntungan, sighat (ihab dan qabul) serta dua pihak yang berkurang akad.

Berdasarkan hukum mudharabah tersebut, maka persyaratan yang harus dipenuhi, 1. Pemodal dan pengelola. Dua pihak yang mengadakan kontrak mudharabah maka persyaratan yang harus dipenuhi. (a) pemodal dan pengelola harus melakukan transaksi dan sah secara hukum baik hukum positif maupun hukum islam. (b) keduanya harus mampu bertindak sebagai wakil dan kafil dari masing-masing pihak 2. sighad atau akad. Penawaran dan penerimaan harus diucapkan kedua belah pihak untuk tujuan dan kesempurnaan kontral. Sighat ini harus memenuhi persyaratan sebagai berikut; (a) secara eksplisit maupun inplisit menunjukkan tujuan kontrak. (b) sighat menjadi tidak sah jika salah satu pihak menolat syarat-syarat. (c) kontrak boleh dilakukan secara lisan ataupun verbal. 3. Modal. Dana yang diberikan dari pemilik dana kepada penerima dana untuk tujuan investasi dalam aktivitas mudharabah harus memenuhi syarat sebagai berikut; (a) modal harus diketahu jenis dan jumlahmya. (b) modal yang diberikan harus tunai, namun eberapa ualam mempebolehkan modal mudharabah berbentuk aset perdagangan.

Pada waktu akad nilai aset tersebut serta biaya yang telah terkandung didalamnya harus dianggap sebagai modal mudharabah. 4. Keuntungan, yaitu jumlah yang didapat sebagai kelebihan dari modal yang merupakan tujuan akhir mudharabah terikat dengan syarat yaitu; (a) keuntungan harus dibagi dua. (b) porsi keuntungan masing-masing pihak harus diketahui pada waktu berkonrak, dan proporsinya harus dari keuntungan.

Jaminan dalam transaksi mudharabah, dikursuskan dalam praktik transaksi mudharabah yang didalamnya terdapat kewajiban mudharib untuk memberikan jaminan masih juga terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama. Diterapkannya jaminan dalam
transaksi mudharabah didasarkan pada penerapan metode ijtihad yang tidak dalam maksud mengesampingkan dari hukum asalnya namun lebih didasarkan pada prinsip penggunaan metode istihsan. Metode ini pada prinsipnya mengutamakan pada tujuan untuk mewujudkan kemashlatan atau menolak bahaya-bayaha secara khsusus sebab dalil umum menghendaki dicegahnya bahaya itu (Usman, 1994).

Universitas Muhammadiyah Malang – Akuntansi, Fitri Setiawati

banner iklan
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.