Mudharabah Dalam Bank Syariah

Mudharabah Dalam Bank Syariah
FOTO: Ilustrasi

Oleh : Muhammad Ghufron
NIM : 201810180311129
Tugas PI
Universitas Muhammadiyah Malang

Prinsip mudharabah adalah bagian dari produk perbankan syariah yang unik, karena memiliki perbedaan filosofis antara sistem perbankan konvensional dengan perbankan syariah yang menganut prinsip bagi keuntungan atau kerugian. Mudharabah merupakan usaha kemitraan meliputi pemilik modal (shahib al-mal) dan pelaku usaha (mudharib), bertujuan untuk meraih keuntungan (al-ribh) dan dibagi sesuai kesepakatan dalam akad. Skim ini terbagi menjadi jenis mudharabah muthlaqah (investasi tidak terikat) dan mudharabah muqayyadah (investasi terikat). Ketentuan penerapan mudharabah diatur sesuai prinsip syariah sebagaimana amanat undang-undang perbankan syariah. Pengaturan mudharabah menurut perspektif hukum Islam terkodefikasi pada literatur klasik berupa prinsip syariah dari hasil ijtihad para ulama sesuai konteks zaman yang bercorak tradisional, sedangkan pada zaman moderen pengaturan mudharabah telah berkembang menjadi bagian dari produk perbankan syariah berdasarkan fatwa Dewan Syariah Nasional. Pengaturan prinsip mudharabah menurut perspektif hukum positif tertera pada undang-undang perbankan syariah yang diperjelas oleh Peraturan Bank Indonesia sebagai aturan pelaksanaannya. Pada penerapan prinsip mudharabah dalam perjanjian (akad) di perbankan syariah terdapat improvisasi tentang asuransi yang tidak diatur melalui fatwa Dewan Syariah Nasional dan karenanya menyalahi asas kepatuhan syariah.

Mudharabah adalah akad antara pemilik modal (harta) dengan pengelola modal tersebut dengan syarat keuntungan diperoleh dibagi sesuai kesepakatan. Allah swt. Menganjurkan kita untuk saling tolong-menolong sebagaimana firma-Nya. ”tolong- menolonglah kamu dalam kebaikan.” Oleh karena itu salah satu bentuk kerja sama yang sifatnya tolong-menolong ini termasuk akad mudharabah. Bank Islam muncul karena ada riba dalam perbankan konvensional. Fatwa DSN- MUI tentang tabungan ditetapkan dengan nomor 02/DSN-MUI/IV/2000 yang ditandatangani oleh K.H. Ali Yavie (ketua) dan Nazri Adlani (sekretaris) pada tanggal tanggal 1 April 2000 (26 Dzulhijjah 1420). Bahwa tabungan yang tidak dibenarkan secara syariah adalah tabungan berdasarkan perhitungan bunga, sedangkan tabungan yag dibenarkan adalah tabungan yang berdasarkan prinsip mudharabah dan wadi’ah.

Kehadiran bank syariah dengan produk- nya skim mudharabah sebagai pola usaha kemitraan akan memberikan dampak positif pada peningkatan pendapatan masyarakat menengah bawah, yang pada ak- hirnya tujuan pembangunan nasional untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur dapat diwujudkan, sebagai- mana amanat UUD 1945. Mudharabah berasal dari kata al- darbu fi ardhi yaitu berpergian untuk urusan perdagangan. Disebut juga qiradh yang berasal dari kata al-qardhu yang berarti al-qath’u (potongan), karena pemilik pemotong sebagian hartanya untuk diperdagangkan dan memperoleh sebagian keuntungan (Hendi Suhendi, 2007: 135). Dapat dipahami mudharabah adalah akad antara kedua belah pihak yang mana salah satu pihak menyerahkan uang kepada pihak lain untuk diperdagangkan, sedangkan keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan oleh pihak yang melakukan akad.

Pengertian Mudharabah
Menurut Antonio (2001:95) Mudharabah berasal dari kata dharb, berarti memukul atau berjalan. Pengertian memukul atau berjalan ini lebih tepatnya adalah proses seorang memukulkan kakinya dalam menjalankan usaha. Sementara Karim (2004:205) menjelaskanakad Mudharabah adalah persetujuan kerjasama antara harta dari salah satu pihak dengan kerjadari salah satu pihak. Karim juga menjelaskan (2004:103) Mudharabah adalah bentuk kerjasama antara pihak pemilik modal (shahib al-maal) yang mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan perjanjian pembagian keuntungan. Dari pengertian tersebut dapat di artikan bahwa Mudharabah adalah suatu bentuk kerja sama yang dijalankan oleh dua pihak yang mana satu pihak sebagai pemilik modal (100%) sedang satu pihak bertindak sebagai pelaksana usaha.

Dari keempat faktor tersebut dapat dilihat bahwa Mudharabah mempunyai sistem yang jelas. Dimana dari beberapa rukun tersebut menjadi bagian yang tidak dapat ditinggalkan dalam pelakasaan akad mudharabah. Aplikasi prinsip mudharabah di bagi menjadi dua yaitu Mudharabah Mutlaqah dan Mudharabah Muqayyadah. Menurut Antonio (2001:97) Mudharabah Muthlaqah adalah bentuk kerjasama antara shahibul maal dan mudharib yang tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu, dan daerah bisnis. Sedang Mudharabah Muqayyadah adalah kerja sama yang mana si Mudharib dibatasi jenis usaha, waktu dan tempat usaha. Menurut istilah mudharabah dikemukakan oleh para ulama:

1. Menurut fuqaha adalah akad antara dua pihak orang saling menanggung, salah satu pihak menyerahkan hartanya kepada pihak lain untuk diperdagangkan dengan bagian yang telah ditentukan dari keuntungan, seperti setengah atau sepertiga dengan syarat yang telah ditentukan.
2. Hanafiyah menurutnya mudharabah adalah memandang tujuan dua pihak berakad yang berserikat dalam keuntungan (laba) karena harta yang diserahkan pada orang lain yang punya jasa dalam mengelola harta. Maka mudharabah adalah akad syirkah dalam laba oleh pemilik harta dan pemilik jasa.
3. Malikiyah berpendapat mudharabah adalah akad perwakilan, dimana pemilik harta mengeluarkan hartanya kepada orang lain untuk diperdagangkan dengan pembayaran ditentukan (emas atau perak).
4. Imam Hanabilah menyatakan mudharabah adalah ibarat pemilik harta menyerahkan hartanya dengan ukuran tertentu kepada orang yang berdagang dengan bagian dari keuntungan yang diketahui.
5. Ulama Syafi’i berpendapat mudharabbah adalah akad yang menentukan seseorang menyerahkan hartanya kepada yang lain ntuk ditijarahkan. (Hendi Suhendi, 2007:136-137).

Mudharabah menurut ulama fiqh adalah pemilik modal menyerahkan modalnya kepada pekerja (pedagang) untuk diperdagangkan, sedangkan keuntungan dagang itu menjadi milik bersama dan dibagi menurut kesepakatan bersama (Nasrun Haroen, 2000: 176). Hal ini menunjukan bahwa mudharabah itu suatu bentuk kerjasama dalam bidang perniagaan yang mana salah satu pihak menyerahkan modal/ shahib mal/ investor dan pihak lain untuk dikelola dan keuntungan dibagi menurut kesepakatan dan bila rugi ditanggung oleh pemilik modal. Akad mudharabah dibolehkan dalam Islam, karena ada kebaikannya yaitu saling membantu antara pemilik modal dengan seorang pakar dalam memutarkan uang. Atas dasar saling menolong dalam pengelolaan modal itu, Islam memberi kesempatan untuk saling bekerja sama antara pemilik modal dengan seorang yang trampil dalam mengelola dan memproduktifkan modal.

KEDUDUKAN MUDHARABAH
1. Pengelola modal mengelola modal tersebut atas izin pemilik harta, maka pengelola modal berstatus wakil pemilik barang tersebut sedangkan modal sebagai wikalah ’alaih (objek wakalah).
2. Harta ditasharrufkan oleh pengelola, harta itu dibawah penguasaanya, dan ia sebagai titipan. Jika harta itu rusak bukan karena kelalaian pengelola, maka si pengelola tidak wajib mengantinya. Bila kerusakan timbul karena kelalain pengelola, maka ia wajib menanggungnya.
3. Keuntungan (laba) yang diperoleh menjadi milik si pemodal dan si pengelola dan dibagi berdasarkan persentase yang disepakati. Menambahkan (Nasrun Haroen, 2000: 180) jika kerjasama itu tidak mendapatkan untung (rugi), maka pemilik modal tidak mendapatkan apa-apa.
4. Pengelola mengambil upah sebagai bayaran dari tenaga yangdikeluarkanm maka mudharabah itu dianggap sebagai ijarah (upah-mengupah).
5. Bila pengelola modal mengingkari ketentuan-ketentuan mudharabah yang telah disepakati, maka terjadi kecacatan yang dinamakan dengan ghasab. (Hendi Suhendi, 2007: 141).

GAMBARAN PERBANKAN SYARIAH
Bank Islam adalah: bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam, menjahui prakter-praktek riba dan memunculkan bagi hasil serta pembiayaan perdagangan (Muhammad Syafi’i,1992: 1). Salah satu tujuan didirikan bank Islam mewujudkan system bagi hasil yang berlandaskan azas keadilan dan meningkankan keuntungan bagi kedua belah pihak Sistem ekonomi syariah secara umum punya dua akad:

a. Akad tabarru’ ialah: perjanjian atau kontrak yang tidak mencari keuntungan materil, bersifat kebajikan murni hanya mengharapkan imbalan dari Allah. Seperti akad qardh, rahn, hawalah, wakalah, wadiah, kafalah, dan wakaf.
b. Akad tijarah ialah: perjanjian atau kontrak yang tujuannya mencari keuntungan usaha, sifatnya berorientasi pada laba (propit oriented). Seperti akad bai’ al-mudharabah, bai’ as-salam, bai’ al-istisna’. Ijarah, ijarah muntahiyah, bitamlik, sharf, barter, musyarakah, mudharabah, muzara’ah, musaqah, dan mukhabarah. (Slamet Wiyono, 2005: 28).

PENERAPAN MUDHARABAH PADA BANK SYARIAH
Pada bank syariah prinsip Mudharabah diterapkan pada produk pembiayaan dan pendanaan. Dalam produk pendanaan, nasabah akan mendapatkan bagi hasil dari pendapatan bank. Sementara bagi hasil dari pembiayaan menjadi keuntungan bank sesuai dengan kerjasama yang telah disepakati di awal akad. Muhammad menjelaskan (2002:97) pada posisi penghimpunan dana mudharabah diterapkan pada :a) Tabungan berjangka, yaitu tabungan yang dimaksudkan untuk tujuan khusus, seperti tabungan haji, tabungan kurban, dan sebagainnya.
b) Deposito spesial (special investment), dimana dana yang dititipkan nasabah khusus untuk bisnis tertentu. Adapun pada sisi pembiayaan, mudharabah diterapkan untuk :
a) Pembiayaan modal kerja, seperti modal kerja perdagangan dan jasa;
b) Investasi khusus, disebut juga Mudharabah Muqayyadah, dimana sumber dana khusus dengan penyaluran yang khusus dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh shahibul maal.

KESIMPULAN
Mudharabah yang terjadi di perbankan syariah cendrung pada si penabung/ investor ke bank, bukan pada peminjam/ pengusaha ke bank. Karena uang yang ada diperbankkan merupakan wadi’ah (titipan). Jadi berat menerapkan sistem mudharabah, karena dikawatirkan dengan resiko yang terjadi. Sebab Mudharabah itu ketentuannya keuntungan usaha dibagi menurut kesepakatan dan apabila rugi ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian si pengelola.