banner podcast

Mudharabah Pada Bank Syariah yang ada di Indonesia

  • Bagikan
Mudharabah Pada Bank Syariah yang ada di Indonesia
FOTO: ilustrasi/medcom
Banner Iklan

Oleh: Alfira Valentiana
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Muhammadiyah Malang

Limadetik.com – Mudharabah di bank syariah terdapat persyaratan kontroversial, yaitu pihak mudharib (pengelola dana) diharuskan menjamin dana yang akan diberikan bank dari bentuk kerugian. Produk ini dianggap sebagai ijtihad baru dalam mudharabah yang tidak ada sebelumnya. Produk ini diberi nama  mudharabah musytarakah.

Mudharabah Musytarakah adalah gabungan dari dua kata mudharabah dan musytarakah. Dan yang dimaksud dengan mudharabah adalah transaksi penanaman dana oleh pemilik dana kepada pengelola untuk melakukan usaha tertentu dengan pembagian hasil berdasarkan nisbah yang disepakati, sedangkan kerugian modal hanya ditanggung oleh pemilik dana.

Musytarakah berarti serikat, gabungan atau perkumpulan. Yang berarti musytarakah hakikatnya mudharabah biasa, yang dibentuk untuk dijadikan produk perbankan syariah sebagai ganti dari tabungan atau deposito berbunga pada bank konvensional.

Hubungan Antara Mudharabah Musytarakah dan Riba DaynPada dasarnya hukum mudharabah musytarakah adalah mubah atau diperbolehkan. Akan tetapi setelah mudharabah musytarakah diakui sebagai produk bank syariah, beberapa peneliti ekonomi syariah menambahkan persyaratan bahwa dana yang diserahkan oleh nasabah kepada bank syariah yang dikembangkan dalam akad mudharabah, mendapatkan jaminan dari pihak mudharib sebagaimana halnya yang diterapkan oleh bank konvensional. Bahkan bukan hanya pokok dana tabungan yang pasti terjamin.

Para ulama yang mengharamkan persyaratan mudharib wajib menjamin dana pihak investor dari kerugian adalah sebagai berikut:

1. Ijma’, kesepakatan para ulama sejak abad pertama hingga sekarang, bahwa jika disyaratkan agar pihak pengelola menjamin modal dari kerugian maka persyaratan ini batal dan tidak berlaku.

2. Perbedaan yang mendasar antara mudharabah dan qardh (kredit) adalah dana yang diterima oleh mudharib tidak dijamin dari kerugian, sedangkan dana yang diterima dari kreditur wajib dijamin oleh pihak debitur.

Jika mudharib disyaratkan menjamin dana yang diterimanya dari kerugian, akad mudharabah berubah menjadi qardh. Dan ketika pihak pemberi dana menerima bagi hasil sesungguhnya ia menerima bunga (riba). Karena akad mudharabahnya telah berubah menjadi akad pinjaman berbunga tidak tetap. Hal ini disepakati keharamannya oleh para ulama karena termasuk riba dayn.

banner iklan
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *