banner podcast

Mulai Kewalahan, Petugas Pemulasaran Jenazah RSUD Sultan Imanuddin Keluhkan Jumlah Petugas

  • Bagikan
Mulai Kewalahan, Petugas Pemulasaran Jenazah RSUD Sultan Imanuddin Keluhkan Jumlah Petugas
FOTO: Ilustrasi pemulasaran jenazah covid-19 (sumber: google)
Banner Iklan

PANGKALAN BUN, Limadetik.com – Meningkatnya jumlah angka kematian karena covid-19 membuat sejumlah petugas di beberapa Rumah sakit, baik suwasta maupun negeri sudah mulai kewalahan menangani pemulasaran jenazah covid-19, salah satunya yang terjadi di RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kamis (5/8/2021).

Para petugas di RSUD Sultan Imanuddin mulai kewalahan mengurus jenazah pasien Covid-19. Pasalnya, jumlah petugas terbatas tidak sebanding dengan kasus kematian yang semakin meningkat.

Dokter Forensik RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun, dr Eryanto Tanjung mengatakan, petugas yang menangani jenazah sangat minim dan tidak sebanding dengan jumlah jenazah yang diurus sehingga mereka pun mulai kelelahan bahkan kewalahan.

“Jika boleh kami sampaikan, terus terang kami kewalahan. Tenaga yang ada sangat sedikit dan harus mengurus semua dari memandikan sampai penguburan,” kata dr Eryanto Tanjung, seperti dikutip dari Intimnews.com, Selasa (3/8/2021).

Instalasi kamar jenazah RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun mencatat, angka kematian pasien rumah sakit ini mengalami peningkatan. Menurutnya, total jumlah kematian pada Senin (2/8) tercatat sebanyak 173.

“Angka kematian akibat terpapara covid-19 di RSUD Sultan Imanuddin setiap harinya 7 sampai 10 orang yang meninggal dunia” terang dr Eryanto Tanjung.

Menurutnya, tingginya angka kematian di rumah sakit ini, tidak diimbangi dengan jumlah tenaga yang tersedia di kamar jenazah. instalasi pemulasaraan, sehingga menjadikan para petugas kewalahan.

Lebih lanjut kata dr. Eryanto mengatakan, dari satu bulan terakhir peningkatan pemulasaraan di RSUD terjadi peningkatan yang signifikan, sehingga tenaga pemulasaraan jenazah kewalahan dalam melakukan tindakan sekaligus.

Bahkan, lanjutnya, sistem yang dibentuk hingga kematian diantre dari kasus 7-10 jenazah per hari dari jenazah dengan tenaga terbatas, dan kami sangat kewalahan.

Namun, tambah dr Eryanto Tanjung, pihaknya tetap enjoy dengan antrean, dan hanya sedikit rehat untuk pemulasaraan berikutnya.

“Jika antrean jenazah satu hari lalu belum diambil, dikawatirkan mengalami proses pembusukan, dan ini diantisipasi dan dijaga jangan sampai terjadi” tukasnya.

(Yusro/Sibedrindo)

banner iklan
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *