Opini  

Multiktural Budaya Lokal Melalui Acara Distrikan di Ranunglindung Grati Pasuruan

Avatar of news.Limadetik
Multiktural Budaya Lokal Melalui Acara Distrikan di Ranunglindung Grati Pasuruan
FOTO: Wahyuni Indah W

OLEH : Wahyuni Indah W
NIM : 226406030004
PRODI : Peternakan
Universitas Kanjuruhan Malang

_______________________________

PENGANTAR

NEWS.LIMADETIK.COM – Distrik atau distrikan? Apakah itu? Mungkin ada yang sudah tahu arti kata ini, atau malah banyak yang belum tahu apa arti kata dari Distrik atau distrikan? Distrik atau distrikan di sini mempunyai arti yaitu tradisi syukuran yang sudah ada sejak dahulu kala di desa Ranuklindungan. Acara ini rutin dilaksanakan tiap tahunnya, dan diikuti oleh semua warga. Warga sangat antusias dalam mempersiapkan acara distrikan ini, bahkan beberapa hari sebelum hari H-nya sudah banyak persiapan yang dilakukan.

PENDAHULUAN

Apakah ada yang memahami tentang kaitannya acara distrikan desa Ranuklindungan, Grati, Pasuruan dengan Multikultural budaya lokal?? Disini saya coba menyampaikan bahwa Multikultural budaya lokal dalam acara distrikan di desa Ranuklindungan, Grati, Pasuruan sangat kental terasa. Berbagai ragam kelompok sosial, kebudayaan dan suku bersatu padu dalam acara ini. Karena masyarakat Indonesia sangat beragam, mulai dari suku bangsa, budaya, bahasa dan agama, keragaman ini menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang multikultural.

Multikultural berasal dari kata multi yang berarti banyak, dan kultural berarti budaya, jadi bisa diartikan bahwa Multikultural merupakan sebuah filosofi yang ditafsirkan sebagai ideology yang menghendaki adanya persatuan dari perbagai kelompok kebudayaan dengan hak dan status sosial politik yang sama dalam masyarakat modern (Dr. Sutiah, M.Pd, 2015). Multikultural dapat juga menggambarkan kesatuan berbagai etnis masyarakat yang berbeda dalam suatu daerah.

PROBLEMATIKA

Karena acara distrikan desa Ranuklindungan, Grati, Pasuruan ini merupakan acara turun temurun yang sudah ada sejak zaman nenek moyang, sehingga perbedaan persepsi, pendapat, pemikiran dan keinginan pasti selalu ada. Oleh karena itu peran dari pemimpin daerah, pemuka agama dan tokoh masyarakat sangat dibutuhkan, untuk tetap terjaga rasa damai dan kerukunan dengan berbagai macam perbedaan yang ada. Perbedaan ini bukan menjadikan perpecahan, tetapi malah akan menumbuhkan kekuatan yang beragam, sehingga acara distrikan ini tetap ada untuk menjaga dan menghormati adat para leluhur desa Ranuklindungan.

PEMBAHASAN

Awal mula acara distrikan ini pada zaman dahulu kala pernah terjadi kemarau panjang dan danau Ranu menjadi tumpuan bagi kehidupan petani dan nelayan setempat, muncullah inisiatif dari masyarakat sekitar danau Ranu untuk mengadakan selamatan/syukuran. Tujuan utama acara ini adalah memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar segera diturunkan hujan, selain itu juga dimaksudkan untuk meminta kepada sing Mbaureksa atau sang Penguasa Ranu (Baru Klinthing, seorang dewa yang berwujud ular), agar tidak mengganggu masyarakat di sekitarnya yang memanfaatkan perairan atau yang melakukan kegiatan di danau tersebut. Kegiatan ini merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan Rahmat-Nya kepada masyarakat sekitar (Deny A.N, 2014).

Proses pelaksanaan distrikan ini setiap awal bulan Muharram (tahun baru Islam), sehingga bisa dikatakan distrikan ini wujud syukur masyarakat sekitar danau Ranu di tahun sebelumnya dan tetap mengharapkan kelimpahan yang penuh berkah juga di tahun depan. Memang sebagian besar penduduk sekitar danau Ranu ini beragama muslim, tetapi karena acara distrikan ini adat yang sudah turun temurun, dan para leluhur telah memberikan kontribusi yang banyak untuk keberlangsungan Ranu Grati, maka acara ini rutin dilaksanakan tiap tahun.

Sebelum pelaksanaan ritual Larung Sesaji dimulai, pagi hari terlebih dahulu dilakukan Kirab Budaya, yang menampilkan perbagai budaya yang ada di Indonesia khususnya budaya masyarakat sekitar danau Ranu. Beberapa pejabat yang diundang menaiki Kereta Kencana Khas Grati, terdapat pertunjukkan tari-tarian dan doa bersama dengan pemuka agama, tokoh masyarakat, undangan dan warga sekitar.

Setelah doa berakhir, baru sesajen diarak bersama-sama menuju tengah danau Ranu. Warga sangat antusias mengikuti prosesi ini sampai selesai. Karena sebagian besar warga sekitar danau Ranu adalah muslim, maka acara distrikan ini dikemas secara Islami, tetapi dengan tidak mengabaiakan budaya yang sudah turun temurun. Hal ini diharapkan menjadi media untuk kerukunan antar warga.

SOLUSI

Multikultural budaya lokal pada acara distrikan, sangat membutuhkan dukungan semua pihak agar lestari dan terjaga dengan baik, karena :

1. Distrikan mempunyai nilai-nilai kearifan lokal dan diharapkan bisa mewariskannya kepada generasi penerus, agar kebudayaan ini tidak hilang terkikis perkembangan zaman.

2. Pemerintah kabupaten Pasuruan mampu memberikan dukungan materiil maupun moril kepada pihak-pihak yang bersangkutan.

3. Diharapkan masyarakat sekitar mendapatkan manfaat dari danau Ranu dengan selalu ikut serta memeriahkan kebudayaan tersebut.

Selain itu juga didalam multikultural ini terdapat tiga nilai yang harus selalu ditekankan untuk tetap terjaga kerukunan dan kedamaian antar masyarakat. Nilai-nilai tersebut, diantaranya :

1. Demokratis, cara berpikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
2. Pluralisme, paham atau ideology yang menerima keberagaman sebagai nilai positif atau toleransi keragaman etnik atau kelompok-kelompok kultural dalam suatu masyarakat.
3. Humanisme, martabat dan nilai dari setiap manusia, serta semua upaya untuk meningkatkan kemampuan alamiahnya secara penuh (Iftitah Nurul L, 2022)

KESIMPULAN

Melalui acara distrikan ini multikultural budaya lokal diperlihatkan, sehingga diharapkan tetap terjaga kearifan lokal budaya yang dimiliki, memunculkan rasa menghargai dan toleransi karena distrikan merupakan adat leluhur yang turun temurun dijalankan, dengan disesuaikan kondisi masyarakat sekitar danau Ranu yang sebagian besar muslim.

Karena tercipta hubungan yang harmonis dan rukun, maka masyarakat bisa menghadapi segala macam ancaman, saling menghargai dan membantu untuk menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi, sehingga tercipta masyarakat yang aman dan sejahtera.