Opini  

Multikultural Budaya Global

Avatar of news.Limadetik
Multikultural Budaya Global
FOTO: Arie Rizky
Banner Iklan

Oleh : Arie rizky
NIM : 220405010035
Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

________________________________

PENDAHULUAN

OPINI – Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman akan budaya, serta memiliki wilayah yang sangat luas. Dimana, wilayah yang sangat luas ini menyebabkan terjadinya interaksi dan integrasi ekonomi sulit merata antar masyarakat sehingga terjadi tumpang tindih akan kesejahteraan masyarakat. dan dimana Indonesia bisa disebut dengan negara multikultural.

Multikultural dapat dipahami sebagai pandangan dimana dikenal dengan ragam kehidupan dunia dan juga kebijakan kebudayaan yang menekankan penerimaan terhadap banyak keragaman dan berbagai macam kebudayaan yang ada dalam masyarakat. Masyarakat multikultural menganggap bahwa sejumlah perbedaan yang ada dalam satu masyarakat plural dan heterogen tersebut merupakan bagian dari identitasnya. Konsep multikultural mengakui adanya perbedaan-perbedaan dalam identitas yang juga berbeda (intra cultural differentiation).

PROBLEMATIKA

Dalam menjunjung konsep multikultural dalam era globalisasi :

1. Menganggap budaya sendiri yang paling baik. Pengakuan terhadap budaya sendiri yang berlebihan dapat mengarah kepada kecintaan pada diri sendiri atau kelompoknya yang disebut narsisme budaya. Sikap ini merupakan warisan dari kolonialisme yang menganggap bahwa bangsa jajahannya rendah dan memiliki kebudayaan inferior. Sebaliknya, penjajah memiliki kebudayaan superior.

2. Pertentangan antara budaya Barat dan budaya Timur. Dalam masyarakat dunia, ada pandangan yang menanggap budaya Barat sebagai budaya progresif atau maju yang sarat dengan kedinamisan (hot culture). Sebaliknya, budaya Timur diidentikkan dengan budaya yang dingin dan kurang dinamis (cold culture). Pertentangan ini cenderung Eropa-sentris sehingga mengakibatkan westernisasi di berbagai bidang kehidupan.

3. Pluralisme budaya dianggap sebagai sesuatu yang eksotis. Ini merupakan pandangan yang banyak dianut oleh para pengamat Barat terhadap pluralisme. Mereka menganggap budaya lain di luar budayanya sebagai budaya luar (the other). Mereka memandang budaya lain memiliki sifat eksotik dan menarik perhatian dan bukan dihargai sebagai budaya yang memiliki kekhasan yang berbeda dengan budayanya.

4. Pandangan yang paternalistis. Ada banyak peneliti dan pengamat budaya dari kaum laki-laki yang masih menganut faham paternalistis. Hal ini tentu saja menimbulkan bias terhadapa perempuan. Hingga saat ini, masih banyak masyarakat yang memandang status perempuan sebagai sesuatu yang minor dan disubordinasikan dari peran laki-laki,

5. Mencari apa yang disebut indigenous culture, yaitu menacari sesuatu yang dianggap asli. Misalnya di Jakarta ada kecenderungan manamai gedung-gedung dengan nama dalam bahasa Sanskerta. Pada era globalisasi, pemujaan terhadap indigenous culture merupakan sikap yang mempertentangkan istilah Barat dan non-Barat. Pada era tersebut, kerja sama internasioanl tidak mengharamkan penggunaan unsur-unsur budaya lain yang dapat diadopsi dan disesuaikan dengan lingkungan budaya yang berbeda.

6. Pandangan negatif penduduk asli terhadap orang asing yang dapat berbicara mengenai kebudayaan penduduk asli.

7. Paham masyarakat yang terlalu tradisional,sehingga sulit untuk terbuka dengan hal baru utamanya di era globalisasi seperti sekarang ini.

PEMBAHASAN

Globalisasi merupakan perkembangan yang mempengaruhi terhadap munculnya berbagai perubahan tatanan dunia. Pengaruh dalam globalisasi ini dapat menyebabkan berbagai hambatan dan dimana globalisasi mencetuskan konsep “Dunia Tanpa Batas” yang menjadi realita dan berpengaruh secara signifikan terhadap perkembangan budaya. Globalisasi ini mengacu kepada seluruh kegiatan masyarakat dunia dimana intensifikasi hubungan sosial di seluruh dunia dihubungkan ke daerah terpencil dengan berbagai cara.

Globalisasi tidak hanya terbatas hanya pada fenomena perdagangan dan aliran keuangan yang berkembang karena adanya kecenderungan lain yang didorong oleh kemampuan teknologi yang memfasilitasi perubahan keuangan. Globalisasi ini dapat dilihat sebagai kompresi ruang dan waktu dalam hubungan sosial. Globalisasi dilihat sebuah proses integrasi yang terjadi secara internasional yang disebabkan adanya pertukaran pandangan secara menyeluruh seperti pemikiran, pandangan dunia, produk, dan berbagai aspek kebudayaan lainnya.

Waters mendefinisikan globalisasi dengan sebuah proses sosial dimana batas geografis tidak berpengaruh penting terhadap kondisi sosial budaya dimana ini berpengaruh kepada kesadaran seseorang. Multikulturalisme adalah ideologi yang menekankan pengakuan dan penghargaan pada kesederajatan perbedaan kebudayaan yang ada.

Ideologi ini bergandengan dan saling mendukung dalam proses demokratisasi yang pada dasarnya adalah kesederajatan pelaku secara individual yang terikat dalam Hak Asasi Manusia dalam berhadapan dengan kekerasan dan komunitas atau masyarakat setempat.

Upaya penyebarluasan ideologi ini dalam masyarakat Indonesia harus bergandengan tangan dengan pemantapan ideologi demokrasi dan kebangsaan yang seimbang, sehingga masyarakat Indonesia nantinya akan mempunyai kesadaran sebagai warga negara Indonesia dan akan mampuuntuk menolak diskriminasi dan perlakuan sewenang-wenang oleh kelompok masyarakat yang dominan. Multikulturalisme ini lebih menekankan relasi antar kebudayaan dengan keberadaan suatu budaya harus mempertimbangkan keberadaan kebudayaan lainnya.

Dikatakan oleh Haviland, multikultural diartikan sebagai pluralitas kebudayaan dan agama, dimana jika kita memelihara pluralitas ini keita akan mencapai kehidupan yang ramah dan menciptakan kebudayaan. Pluralisme kebudayaan multikulturalisme berarti penolakan akan kefanatikan, purbasangka, rasialisme dan menerima secara inklusif keberagaman yang ada (Haviland, 1988).

Selain dari itu, Azyumardi Azra juga berpendapat bahwa multikulturalisme merupakan suatu paradigma kehidupan bermasyarakat yang berdasar atas persatuan dan mengesampingkan perbedaan untuk mengantisipasi konflik sosial. Kesepakatan yang dibentuk mengenai keberagaman perbedaan seperti kebiasaan dalam masyarakat serta adat istiadat.

Dikatakan oleh Bikhu Parekh (2001), bahwa multikultultural mengandung tiga komponen, yakni, pertama, konsep ini berkaitan dengan kebudayaan; kedua, konsep ini mengacu kepada pluralitas kebudayaan; dan ketiga, konsep ini mengandung cara tertentu untuk merespons pluralitas itu. Oleh sebab itu, multikulturalisme bukanlah sebuah doktrin politik pragmatik melainkan bagaimana cara pandang atau ideologi dalam kehidupan sehari – hari.

Multikulturalisme adalah suatu ideologi jalan keluar dari persoalan mundurnya kekuatan integrasi dan kesadaran nasionalisme suatu bangsa dikarenakan akibat dari perubahan di tingkat global. Indonesia mengalami perubahan tersebut Setidaknya kekhawatiran terjadinya kemunduran dalam kesadaran nasionalisme telah terbukti.

Contoh yang paling nyata adalah semakin meningkatnya keinginan beberapa daerah tertentu untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, meskipun begitu jauh pemerintah masih mampu meredam kehendak tersebut sehingga perceraian daerah-daerah tersebut belum terwujud pada saat ini. Konflik-konflik yang terjadi akibat ketidaksetaraan sosial dan ekonomi juga meningkat pada awal abad keduapuluh satu ini.

Sebagian besar kebudayaan multikultural di dunia dapat digolongkan kedalam tiga model.

Pertama, model yang mengedepankan nasionalitas, dimana ini adalah sosok baru yang dibangun bersama tanpa memperhatikan keanekaragaman suku bangsa, agama, dan bahasa, serta nasionalitas ini bekerja sebagai perekat integrasi. Model ini memandang setiap orang berhak untuk dilindungi negara. Model kebijakan multikulturalisme ini rentan terjatuh ke dalam kekuasaan otoritarian karena kekuasaan untuk menentukan unsur integrasi nasional tersebut berada di tangan suatu kelompok tertentu yang menguasai negara. Nasionalitas dan nasionalisme menjadi tameng bagi para elite untuk mencapai tujuannya.

Kedua, model nasionalitas etnik yang berdasarkan kesadaran kolektif yang kuat sebagai landasannya adalah hubungan darah dan kekerabatan dengan para founders. Selain itu, kesatuan bahasa juga merupakan ciri nasionalitas etnik ini. Model ini dianggap sebagai model tertutup karena orang luar yang tidak memiliki sangkut paut hubungan darah dengan etnis pendiri bangsa, akan tersingkir menjadi orang luar dan diperlakukan sebagai orang asing.

Ketiga, model multikultural etnik yang mengakui eksistensi dan hak-hak warga etnik secara kolektif. Dalam model ini keanekaragaman menjadi realitas yang harus diakui negara, dan identitas serta asal-usul warga negara diperhatikan.

Globalisasi merombak kehidupan secara besar-besaran dan juga mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Globalisasi ini tidak hanya menarik ke atas melainkan juga mendorong ke bawah dan menciptakan tekanan baru bagi ekonomi lokal dan globalisasi ini juga menjadi alasan bangkitnya kembali identitas budaya lokal di belahan dunia. Menurut Giddens (1999), globalisasi ini menciptakan zona ekonomi baru dan budaya baru di dalam dan antar bangsa.

H. A. R. Tilaar mengungkapkan bahwa globalisasi dapat melahirkan kebudayaan yang bersifat monoisme kebudayaan atau monokulturalisme dimana menyebabkan imperialisme kebudayaan barat dan ini menjadi nilai – nilai intrinsik dan nilai instrumental dalam masyarakat yang semakin terkikis sejalan dengan arus globalisasi.

Multikulturalisme yang ada di Indonesia nsangatlah membutuhkan solidaritas antar sesama manusia demi terciptanya solidaritas antar masyarakat. Menurut Emile Durkheim yang dikutip oleh Robert M.Z Lawang (1985:63), bahwa solidaritas sosial adalah keadaan saling percaya antar anggota kelompok atau komunitas. Adanya solidaritas yang kuat dan selalu berpegang teguh terhadap nilai gotong-royong, menjadikan Indonesia tetap aman dan kuat. Akibat arus globalisasi yang masuk dengan tidak seimbang dan ketidakmampuan dalam memfilter budaya yang masuk dari luar akan menjadi salah satu faktor penyebab pudarnya jati diri masyarakat.

Indonesia memiliki pancasila sebagai ideologi bangsa dan dimana pancasila adalah sebuah kenyataan sejarah yang tidak dapat dipungkiri telah berkontribusi besar terhadap keberlangsungan hidup bangsa. Oleh karenanya, pancasila diharapkan mampu menjadi jalan tengah yang sekaligus menjembatani perbedaan yang ada dan mengakomodasikan seluruh kepentingan kelompok sosial yang beragam.

Memperhatikan kondisi bangsa untuk mengantisipasi terjadinya disintegrasi bangsa yang tampaknya dapat memperkuat multikulturalisme yang halnya adalah sebuah sesuatu yang mendesak. Memperkuat multikulturalisme ini harus berjalan efektif dan berdaya guna dengan berlandaskan pada lima pilar, seperti berpegang pada kebenaran dan memperjuangkan, melakukan tugas dan kewajiban dengan orientasi kepentingan masyarakat, menyebarkan rasa damai yang bersumber dari kesadaran masyarakat, memupuk cinta kasih murni tanpa ego, dan cinta damai serta anti kekerasan.

Bikhu Parek menjelaskan bahwa perlakuan yang berbeda terhadap individu dan kelompok dianggap setara jika mencerminkan cara untuk mewujudkan hak-hak yang sama, kesempatan yang sama, dan perlakuan yang sama. Penerapan kesetaraan memang rentan terhadap tuduhan diskriminasi terhadap kelompok khusus. Kesetaraan memerlukan kesetaraan hak dan kewajiban dimana pemenuhan hak spili, politik, ekonomi, serta sosial budaya juga harus diperhatikan. Struktur politik masyarakat multikultural perlu dibangun untuk menciptakan persatuan dan kebersamaan antara kebijakan desentralisasi yang berkeadilan.

Dalam konteks kehidupan multikultural, pemahaman berdimensi multikultural harus ada untuk memperluas wacana pemikiran manusia yang masih mempertahankan egoisme terhadap kebudayaan, agama, dan kelompok. Memelihara kebudayaan dan keberagaman budaya merupakan interaksi sosial dan politik antara orang yang berbeda cara hidup dan berpikirnya dalam satu masyarakat. Secara ideal, multikulturalisme berarti penolakan terhadap kefanatikan dan menerima secara inklusif keanekaragaman yang ada.

Seperti kita ketahui, masyarakat multikultural di Bali sangat menerima perbedaan kebudayaan yang ada serta keberagaman lainnya yang sangat berbeda dari kebudayaan yang dimilikinya. Selain itu, toleransi kehidupan beragama juga dalam masyarakat dapat mempererat hubungan dan kesatuan dalam bernegara. Tidak menyinggung ciri khas dari ras yang ada dalam masyarakat juga merupakan toleransi atas multikulturalisme di Indonesia sendiri dan menyadari akan keberagaman budaya milik bangsa lain dengan mempertahankan budaya sendiri sebagai identitas nasional.

SOLUSI

Menurut saya, salah satu cara terbaik untuk merespon multikulturalisme agar dapat berjalan dengan baik di Indonesia adalah dengan menjadikan Sekolah-sekolah sampai tingkat Universitas sebagai pusat sosialisasi dan pembudayaan nilai-nilai yang dicita-citakan ini atau dapat disebut dengan pendidikan multikulturalisme. Inti dari multikulturalisme adalah toleransi yang diperuntukkan untuk kepentingan bersama dan menghargai kepercayaan serta interaksi dengan setiap anggota masyarakat serta. Menumbuhkan sikap saling menghargai tanpa membedakan kelompok-kelompok seperti gender, etnis, ras, budaya, strata sosial dan agama.

KESIMPULAN

Multikulturalisme ini adalah keadaan masyarakat yang terdiri atas beberapa elemen kelompok yang berbeda antara ras, adat, kebiasaan, dan juga kebudayaan yang akan tetap hidup tanpa adanya pembauran satu sama lain sehingga multikultural disini adalah masyarakat yang terdiri atas dua atau lebih masyarakat yang secara kultur yang akan mengalami fragmentasi dan mempunyai struktur sosial kelembagaan yang beda satu sama lain.

Multikulturalisme ini cenderung terjadi karena adanya paksaan di masyarakar karena harus menerima apa yang ada masyarakat dan juga multikulturalisme ini juga rentan terjadi konflik di dalamnya. Banyak keanekaragaman ras yang menunjukkan pengelompokan manusia serta keberagaman lainnya yang terdiri atas beberapa kelompok kecil sehingga tidak ada posisi yang dominan dalam aspek kehidupan bermasyarakat.