Opini  

Multikultural di Era Generasi Milenial

Avatar of news.Limadetik
Multikultural di Era Generasi Milenial
FOTO: Enjelita Tri Kartikasari

OLEH : Enjelita Tri Kartikasari
NIM : 220403020011
PRODI: Sistem Informasi
Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

__________________________________

PENDAHULUAN
NEWS.LIMADETIK.COM – Komunikasi telah menjadi kebutuhan bagi makhluk hidup sejak zaman kuno. Komunikasi memegang peranan yang sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia, terutama bagi diri kita sendiri dimana kita dapat berinteraksi dan berkomunikasi bahkan sebelum kita menyadarinya dalam aktivitas sehari-hari.

Dalam masyarakat multikultural, orang-orang dari latar belakang yang berbeda perlu berkomunikasi satu sama lain. Di sisi lain, komunikasi juga dapat menimbulkan berbagai kesalah pahaman atau konflik dalam suatu hubungan.

Karena perbedaan budaya dalam masyarakat, kesalahpahaman dan bahkan “gangguan komunikasi” dapat terjadi dalam suatu kelompok atau individu. Namun, komunikasi antarbudaya menjadi perlu ketika masyarakat berinteraksi dalam masyarakat multikultural, karena komunikasi antarbudaya didasarkan pada pengakuan multikulturalisme.

PROBLEMATIKA
Komunikasi dan budaya tidak dapat dipisahkan, karena budaya merupakan dasar dari komunikasi. Akan tetapi, perilaku manusia dalam berkomunikasi juga berbeda-beda, terutama dalam budaya, melihat karena kebutuhan dan latar belakang manusia.

PEMBAHASAN
Realita juga menunjukkan bahwa kita sekarang hidup dalam masyarakat yang majemuk dan multikultural, sehingga kita selalu berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Perbedaan budaya dapat didasarkan pada suku, budaya, agama, bangsa bahkan negara.

Indonesia juga memiliki perpaduan budaya yang besar yang terkandung dalam bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan interaksi sosial, terutama pada generasi milenial. Generasi milenial semakin banyak menggunakan dan mengenal komunikasi suara melalui media dan teknologi digital yang terus berkembang. Bahasa Indonesia tetap menjadi identitas bangsa Indonesia dan identitas yang memegang peranan penting dalam segala aspek kehidupan.

Hal ini akan mempengaruhi perkembangan bangsa Indonesia, namun keadaan saat ini fungsi bahasa dan budaya lambat laun digantikan atau dialihkan oleh budaya asing, dan ada kecenderungan untuk memperluas istilah bahasa asing. Hal ini terutama dilakukan oleh generasi milenial saat ini karena mereka percaya bahwa perilaku atau sikap mereka terlihat modern dan berpendidikan, serta banyak alasan lain yang membuat komunikasi menjadi lebih mudah di zaman modern ini.

Oleh karena itu, dapat dikatakan generasi milenial saat ini sangat mengagumi revolusi industri dan inovasi. Beberapa kalangan bahkan mengabaikan masalah sosial, padahal peran generasi milenial dalam kemajuan bangsa Indonesia ke depan, sehingga integrasi generasi milenial diperlukan untuk menjaga budaya multikultural tanpa mengorbankan keaslian bangsa Indonesia.

Generasi milenial sebenarnya memiliki banyak ide-ide menarik dan memiliki karakter yang sangat produktif, dalam berinteraksi bukan hanya untuk komunikasi namun dalam mengonsumsi konten dan menciptakan sebuah konten yang mengikuti perkembangan zaman. Bahasa yang banyak diluaskan sekarang contohnya bahasa gaul dan singkatan-singkatan yang menjadi kebiasaan penggunaan bahasa di kalangan mereka. Seharusnya generasi milenial dapat berkaloborasi dengan tetap meningkatkan kekreatifan mereka dengan tetap melampirkan kebudayaan asli didalamnya, sehingga dampak negatifnya dapat diminimalisir dan pelestarian budaya dan bahasa tetap ada.

Melihat pentingnya peran generasi milenial dalam pemanfaatan sumber daya mereka untuk tetap menjaga eksistensi budaya dan bahasa, maka perlunya kesadaran dari individu tersebut akan identitas yang akan menjadi modal bagi masyarakat Indonesia untuk bangkit dari berbagai persoalan dan keterpurukan. Jika generasi penerus kehilangan identitas asli negara atau daerah, bisa dibayangkan arah pembentukan masyarakat ke depan pasti akan hilang.

Selain pengenalan kritis, generasi harus mampu mengadopsi sikap terhadap pengetahuan melalui komitmen untuk melestarikan budaya multikultural. Mereka dapat mengubah cara pandang mereka terhadap budaya asing yang masuk, sehingga tidak harus selalu mengikuti perkembangannya.

SOLUSI
Lantas bagaimana seharusnya sikap generasi milenial dalam menghadapi banyaknya perubahan masif yang diakibatkan oleh inovasi-inovasi yang mentransformasi sistem dan tatanan kehidupan di new normal ini? Yaitu dengan melestarikan keberadaan bahasa dan budaya di Indonesia. Dalam perkembangan yang sedang berkembang, peran generasi milenial dalam melestarikan budaya sangat penting diperhatikan bahkan disadari untuk melestarikan budaya asli bangsa dengan cara membudidayakannya dan tidak mencampurkannya dengan budaya asing. Karena bisa menjadi ancaman bagi budaya asli yang menjadi ciri khas daerah tempat di negeri ini.

KESIMPULAN
Generasi milenial harus menjadi tonggak penting dalam budaya bangsa yang mengagungkan hedonisme dan modernisme. Oleh karena itu, bagi mereka yang merupakan pendukung bangsa, diperlukan bentuk kerjasama dan strategi milenial untuk memanfaatkan peran media dan informasi digital untuk mencegah eksternalitas negatif yang dapat menjadi faktor globalisasi yang mengancam budaya asli kita.Selain itu, generasi milenial harus mampu memposisikan diri sebagai representasi bangsa ini untuk memperkenalkan budaya asli kepada budaya luar negeri dengan mengadopsi pendekatan penyebaran budaya Indonesia melalui internet.

Misalnya dengan penekanan pada sosialisasi melalui blog pribadi atau media sosial, dimana media menjadi wahana untuk menunjukkan dan mendukung peran budaya dan bahasa Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari, generasi milenial masih terbiasa menggunakan bahasa ibu (bahasa ibu) yang merupakan bahasa pertama yang dipelajari dan dikuasai seseorang dan yang umum di lingkungannya sejak kecil yaitu bahasa Indonesia dan bahasa daerahnya. Bahasa Juga sebagai landasan berpikir dalam tindakan, setelah itu baru digunakan bahasa nasional.

Selain karena faktor internal yaitu keinginan mereka untuk mengikuti perkembangan zaman dan takut ketinggalan bahan modern, adapun faktor eksternal yaitu situasional yang sangat mempengaruhi sikap generasi milenial dalam penggunaan bahasa dan budaya yang berbeda, yaitu perilaku konsumtif, salah satunya dipengaruhi oleh budaya digital dan penggunaan internet yang juga membawa masuk kebudayaan barat didalamnya, menurut pengamat digital lifestyle Ben Soebiakto.