Opini  

Multikultural di Era Globalisasi

Avatar of news.Limadetik
Multikultural di Era Globalisasi
FOTO: Zefanya Kyckelhahn Jatin

Oleh : Zefanya Kyckelhahn Jatin
NPM : 220404010051
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

________________________________

Pengantar

OPINI – Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan opini yang memiliki sub-tema “Multikultural di era digital”

Tujuan dibuatnya opini ini, yaitu untuk memenuhi tugas mata kuliah Jatidiri Kanjuruhan program studi Manajemen. Laporan opini ini saya susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak dan sumber sehingga dapat memperlancar pembuatan opini ini. Untuk itu saya menyampaikan banyak terimakasih kepada pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan opini ini.

Terlepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu saya menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar saya dapat memperbaiki opini ini. Akhir kata saya berharap semoga opini ini dapat memberikan manfaat dan informasi bagi pembaca

Pendahuluan

Multikultural berasal dari kata “multi” yang berarti “banyak”, dan “kultural” berarti budaya. Multikultural adalah sebuah filosofi yang ditafsirkan sebagai ideologi yang menghendaki adanya persatuan dari berbagai kelompok kebudayaan dengan hak dan status sosial politik yang sama dalam masyarakat modern. Dengan Indonesia yang memiliki berbagai macam suku dan budayanya, multikultural adalah suatu hal yang sudah “biasa” bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Dibalik multikultural kehidupan bermasyarakat Indonesia, keseluruhan adat dan budaya yang beragam ini saling menyatu menjadi satu menjadi apa yang kita sebut sebagai Bhinneka Tunggal Ika.

Apa itu Bhineka Tunggal Ika ? Bhineka Tunggal Ika adalah walaupun berbeda-beda namun tetap satu jua. Maka keberagaman kebudayaan yang ada di Indonesia bisa disatukan dan bisa menghindari konflik antar kebudayaan. Tidak hanya itu saja, Indonesia memiliki prinsip “Bersatu kita Teguh, Bercerai kita Runtuh”.

Prinsip tersebut adalah prinsip yang sangat fatal. Dalam artian, bersatu kita teguh berarti apapun masalah yang dihadapi, apapun yang menghalangi, kalau kita bersatu, bersama-sama maju, dan bergotong royong untuk menyelesaikan suatu masalah, maka masalah tersebut akan bisa diatasi dengan mudah dan dengan bersatu, kita menjadi teguh.

Sedangkan bercerai kita runtuh, kalau kita menghadapi sesuatu sendirian, tanpa bantuan orang lain, maka masalah tersebut akan sulit untuk diselesaikan. Maka dari itulah, manusia disebut makhluk sosial. Makhluk yang hidup bersama dan saling berhubungan satu sama lain.

Problematika

Masalah yang timbul dalam keanekaragaman adat dan budaya Indonesia ini, yaitu semakin menipisnya adat dan budaya tersebut yang disebabkan oleh masuknya budaya asing yang modern. Masuknya budaya asing ini berkembang semakin cepatnya dengan digitalisasi jaman yang semakin modern ini. Kesadaran akan pentingnya kemajemukan pula mulai muncul seiring gagalnya upaya nasionalisme Negara, yang dikritik karena dianggap terlalu menekankan kesatuan daripada keragaman.

Kemajemukan dalam banyak hal suku, agama, ras golongan yang seharusnya menjadi hasanah dan modal untuk membangun seringkali dimanipulasi oleh penguasa untuk mencapai kepentingan politiknya. Maka ketika kemudian konflik bergejolak didaerah, Negara seakan-akan menutupi realitas kemajemukan itu atas nama “kesatuan bangsa” atau “stabilitas nasional”. Konflik sosial yang sering muncul sebagai akibat pengingkaran terhadap kenyataan kemajemukan dan penyebab adanya konflik sosial.

Dengan kurangnya kesadaran akan kemajemukan adat dan budaya di Indonesia ini serta semakin pesatnya perkembangan jaman, multikultural di era digital pun menjadi salah satu tantangan dalam mempertahankan dan menyebarluaskannya. Banyaknya budaya luar yang dianggap lebih “modern” menjadi salah satu aspek mengapa adat dan budaya yang ada di Indonesia ini dengan begitu mudahnya ditinggalkan serta dilupakan begitu saja adanya.

Pembahasan

Multikultural di era digital ini dapat mempermudah adanya jalinan komunikasi yang ingin dilakukan walaupun terdapat banyak perbedaan dalam adat dan budaya yang ada. Dengan berbagai macam adat dan budaya di Indonesia, adanya digitalisasi di era sekarang diharapkan menjadi salah satu aspek yang patut diperhitungkan untuk menyebarluaskan multikultural adat dan budaya yang ada. Sebagai salah satu contoh, dengan memperkenalkan alat musik angklung ke dunia luar. Dengan menggunakan alat musik angklung sebagai salah satu instrumen dikala mengaransemen sebuah lagu.

Contoh lainnya adalah, saat berlangsungnya KTT G20 yang berlangsung di Bali, Indonesia. Pada salah satu momennya yaitu penggunaan baju batik sebagai dresscode dari rangkaian acara yang berlangsung dalam KTT G20. Setiap pemimpin dunia yang hadir menggunakan baju batik yang secara tidak langsung mengenalkan batik ke mata dunia. Bagaimana hal tersebut dapat menjadi salah satu cara mengenalkan batik ke mata dunia? Jawabannya adalah media sosial di era digital ini. Baju batik, yang dikenakan oleh para pemimpin dari berbagai negara sebagai “seragam” disaat pagelaran berlangsung, menjadi buah bibir di media sosial Twitter.

Setiap negara tentu dan sudah pasti memiliki budaya, bukan hanya satu ada beraneka ragam budaya yang ada di suatu negara bahkan di suatu daerah. Indonesia adalah negara yang kaya akan keanekaragaman budayanya dan juga terkenal dengan budayanya yang sudah mendunia dan sudah diakui oleh UNESCO. Pentingnya mengenalkan budaya Indonesia dengan negara lain yaitu untuk mnegaskan bahwa budaya tersebut berasal dari Indonesia bukan dari negara lain.

Beberapa tahun silam ada beberapa budaya di Indonesia yang diplagiat oleh negara lain dan negara itu mengaku-ngaku bahwa budaya tersebut berasal dari negaranya. Jadi dari pengalaman tersebut kiya bisa ambil kesimpulan bahwa mengenalkan budaya Indonesia sangatlah penting dan juga jangan lupa melestarikan kepada anak cucu kita agar negara kita tidak di permainkan oleh negara lain. Untuk itu mari sebagai generasi muda kita harus melestarikan budaya kita dan jangan malu untuk belajar kebudayaan kita yang beraneka ragam agar tidak diambil alih oleh negara lain.

Solusi

Untuk persatuan dan kesatuan bangsa, pengguna media komunikasi di era digital ini diharapkan untuk tidak mudah terpengaruh adat dan budaya asing yang dapat keluar masuk dengan mudahnya di zaman globalisasi ini. Apapun nantinya hal-hal terkait multikultural di era digital ini, lebih baiknya diambil sisi baiknya, namun tetap menghargai dan menghormati adat dan budaya yang lainnya.

Kesimpulan

Multikultural di era digital dapat saling mengenal suku adat budaya dan dapat saling memahami antara adat budaya untuk masyarakat pada umumnya.