banner podcast

Peluang dan Tantangan Fintech (Financial Technology) Syariah di Indonesia

  • Bagikan
Peluang dan Tantangan Fintech (Financial Technology) Syariah di Indonesia
FOTO: Ilustrasi Fintech
Banner Iklan

Oleh : Alfiyani Auliyah Mubarokah
Fakultas Ekonomi dan Bisnis – Jurusan Akuntansi
Universitas Muhammadiyah Malang

Pada saat ini, perkembangan perekonomian yang menggunakan media teknologi di Indonesia semakin berkembang serta diikuti dengan munculnya banyak star up baru. Dunia start up sedang menjadi suatu tren di Indonesia akhir-akhir ini. Contoh bukti kesuksesan dari startup lokal seperti Grab, Shopee, dan Traveloka, menjadi pemicu semangat munculnya startup-startup baru.

Ada juga start up yang bergerak di bidang jasa keuangan, yang mencoba untuk memberikan layanan keuangan kepada masyarakat. Selain itu juga inovasi-inovasi baru bermunculan dibidang finansial dari lembaga keuangan yang sudah ada, keduanya dapat mendorong pertumbuhan perekonomian kearah yang lebih baik.

Secara perlahanperkembangan teknologi cukup pesat dan dapat merubah industri keuangan ke era digital. Saat ini yang sedang tren dan menjadi perbincangan masyarakat di Indonesia yaitu Financial Technology Syariah (Fintech Syariah).

Fintech Syariah mulai diminati masyarakat karena sangat membantu sekali sebagai media untuk pendanaan dan pembiayaan yang berbasis teknologi. Jadi masyarakat tidak perlu repot-repot lagi untuk berangkat ke kantornya karena bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja lewat aplikasi.

Sehingga, dengan munculnya Fintech Syariah ini diharapkan dapat meningkatkan kemaslahatan masyarakat agar lebih efektif dan efisien. Hal yang dapat dilakukan yaitu dengan cara mengembangkan Fintech Syariah tersebut untuk mempermudah layanan ekonomi bagi masyarakat. Namun, apabila Fintech Syariah ini tidak dapat terkelola dengan baik, patut dikhawatirkan
akan dapat mengganggu perekonomian kita.

Misalnya, Sumber Daya Manusia yang kurang pengetahuan dalam memanfaatkan teknologi masa kini, kurangnya promosi, strategi marketing yang masih kurang upgrade dan lain sebagainya. Oleh karena itu, diperlukan adanya strategi, inovasi dan terobosan baru agar fintech syariah tersebut dapat terkelola dengan baik sehingga tidak menimbulkan dampak yang tidak diharapkan. Selain itu, FintechSyariah memberikan banyak solusi yaitu sebagai bentuk media untuk membantu para pelaku usaha yang ingin berkembang.

Dengan banyaknya fitur-fitur layanan dari aplikasi Fintech Syariah yang sangat membantu tersebut akan berdampak positif pada perkembangan perekonomian di Indonesi kemudahan teknologi untuk kegiatan investasi dan donasi, namun di sisi laintujuanfintech untuk mempermudah masyarakat dengan inovasi teknologi berbanding terbalik dengan adanya kondisi di masyarakat pedesaan yang masih minim pengetahuan untuk mengoperasikan Fintech Syariah.

Hal ini diperkuat oleh pernyataan ketua AFSI (Asosiasi Fintech Syariah Indonesia) yang mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesar adalah rendahnya edukasi kepada masyarakat, masih banyak masyarakat yang belum memahami industri fintech.

Tantangan edukasi kepada masyarakat yang masih rendah dan minim informasi tentang fintech syariah justru akan menjadi peluang bagi para pelaku fintech syariah dengan melakukan sinergi antara pemerintah ataupun regulator dalam hal ini Otoritas Jasa dan Keuangan (OJK) beserta para pelaku fintech syariah untuk membuat suatu bentuk edukasi ataupun workshop serta kunjungan
untuk membeikan penjelasan kepada masyarakat desa atau yang masih minim edukasi mengenai fintech.

Kasus dan fenomena fintech konvensional yang terjadi di masyarakat yang memberikan stigma negatif akhir-akhir ini di masyarakat. Cara penagihan yang kasar bahkan bermacam-macam bentuk dan medianya serta sampai kepada banyaknya kasus bunuh diri karena ketidakmampuan membayar pinjaman online via fintech konvensional yang ditawarkan oknum fintech di Indonesia menjadi suatu peluang bagi fintech syariah untuk meyakinkan bahwa fintech syariah berbeda dari fintech konvensional.

Disaat bersamaan, dengan munculnya fenomena dan stigma negative tersebut mengakibatkan masyarakat memberikan anggapan bahwa tidak terdapat perbedaan antara Fintech Syariah dan Fintech Konvensional.

Hal ini dikuatkan juga dengan kenyataan bahwa penyebab terbesar mengapa masyarakat seolah menyamaratakan fintech konvensional maupun fintech syariah terletak dalam edukasi dan komunikasi serta literasi prinsip-prinsip Islam dalam kehidupan sehari-hari yang masih belum optimal untuk masyarakat Indonesia.


Catatan: Seluruh isi tulisan bukan tanggung jawab penerbit, artikel ini diterbitkan untuk memenuhi tugas perkuliahan penulis

banner iklan
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.