Pendidikan Indonesia di Era Revolusi Industri 4.0

Avatar of news.Limadetik
Pendidikan Indonesia di Era Revolusi Industri 4.0
FOTO: Salsabila Fitrotun Nadhifah

Oleh : Salsabila Fitrotun Nadhifah
Prodi: Akuntansi Universitas
Universitas Muhammadiyah Malang

____________________________

ARTIKEL – Saat ini, perkembangan zaman tidak bisa dihindari. Kemajuannya yang semakin pesat dari waktu ke waktu menuntut manusia untuk menyesuaikan diri agar tidak ketinggalan dengan perkembangan tersebut. Dewasa ini, revolusi industri sudah memasuki era yang ke-empat, dimana teknologi sudah mengambil alih pekerjaan yang mulanya menggunakan tenaga manusia. Revolusi Industri 4.0 ini memengaruhi segala aspek dan sektor kehidupan manusia, termasuk pendidikan.

Kualitas pendidikan suatu bangsa sangat menentukan nasib bangsa tersebut ke depannya. Pendidikan yang baik dan berkualitas tentu akan menciptakan generasi-generasi yang berkualitas pula. Pendidikan merupakan sarana ditempahnya generasi penerus yang memiliki karakter baik dan berjiwa nasional. Karakter orang-orang hebat yang memimpin negara, tokoh-tokoh politik, pengusaha sukses yang menginspirasi, dan lainnya, dimulai sejak duduk di bangku sekolah dan didukung oleh perjalanan hidup yang banyak memberi mereka pelajaran.

Saat ini, hampir dalam setiap aktivitas manusia mengikut sertakan peran teknologi di dalamnya. Zaman yang serba instan dengan kecanggihan teknologi tentu sangat membantu manusia dalam melakukan pekerjaan.

Dalam sistem pendidikan, peran teknologi sudah mulai dilihat dari penggunaan komputer pada pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) beberapa tahun silam. Ujian Nasional manual yang menggunakan kertas dan cukup menghabiskan waktu diganti dengan cara yang lebih efisien dan efektif, di mana seluruh server tersambung ke jaringan internet.

Tidak hanya itu, saat ini teknologi semakin berperan besar dalam memajukan pendidikan. Teknologi sebagai media dan sarana pembelajaran semakin meningkat penggunaannya sejak pandemi Covid-19 yang melanda pada 2 tahun lalu. Saat itu, dunia pendidikan merupakan salah satu yang terdampak dan harus melakukan sistem pembelajaran dari rumah secara daring.

Keadaan yang sangat tiba-tiba itu mengharuskan seluruh elemen yang berada dalam dunia pendidikan untuk menggunakan teknologi dalam mendukung proses belajar agar dapat tetap berjalan. Ponsel dan komputer yang tersambung dengan jaringan internet menjadi sarana utama yang digunakan untuk belajar. Untuk melangsungkan diskusi tatap muka dari rumah, beberapa aplikasi pendukung juga digunakan, seperti Zoom dan Google Meet.

Untuk beradaptasi dengan hal ini tentunya bukan hal yang mudah. Bagi sebagian orang, baik guru atau murid yang belum terbiasa dan masih awam dengan teknologi, pembelajaran daring dengan segala keterbatasannya menjadi tantangan yang berat. Seperti cara menggunakan komputer atau ponsel sebagai sarana belajar, membuat media pembelajaran yang menarik berbasis online, misalnya rekaman video yang diunggah ke Youtube.

Namun, agar tidak tertinggal dengan kemajuan yang semakin pesat, sistem pendidikan di Indonesia harus bisa beradaptasi dan menyeimbangkan diri agar mampu berjalan dan berkembang berdampingan dengan teknologi.

Untuk ini, salah satu hal yang dapat dilakukan adalah memberikan pelatihan dan pembinaan kepada tenaga pengajar dan peserta didik mengenai pentingnya pemahaman akan teknologi di masa saat ini. Sehingga baik guru, murid, maupun staff terkait yang berkontribusi untuk memajukan pendidikan dapat bekerjasama dengan baik untuk mencapai tujuan tersebut.

Meski pembelajaran tatap muka dengan cara tradisional dianggap lebih efektif, namun sistem daring juga memiliki banyak kelebihan yang mendukung dan memudahkan proses belajar-mengajar. Cara yang tepat untuk beradaptasi bagi pemula yang baru dengan teknologi adalah dengan menggabungkan kedua metode pembelajaran ini.

Hal ini dikenal dengan sebutan blended-learning, di mana 50% proses belajar-mengajar dilakukan dengan cara seperti biasa dan sisanya dilakukan dengan bantuan teknologi sebagai sarananya.

Misalnya, ketika waktu belajar murid diharuskan datang ke kelas untuk mengikuti pelajaran dan diskusi yang berlangsung. Namun ketika di rumah, murid dapat mengerjakan tugas dan mengumpulkannya melalui situs e-learning masing-masing sehingga guru lebih fleksibel ketika memeriksa tugas, bisa kapan saja dan di mana saja, hanya dengan melihat ponsel atau komputer.

Meski kebanyakan sekolah atau pendidikan tinggi telah menerapkan ini, pemerintah khususnya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan harus semakin gencar mengedukasi stakeholder terkait tentang pentingnya teknologi dan pemanfaatannya dengan cara yang positif.

Karena kehadiran teknologi tidak hanya memberikan dampak yang negatif saja. Jika digunakan dengan tepat, teknologi dapat membantu membentuk karakter siswa sebagai generasi penerus yang kreatif, inovatif, dan mampu menghadapi perubahan masa ke depannya.