Pengaplikasian Akad As-Salam dalam Transaksi E-Commerce

Pengaplikasian Akad As-Salam dalam Transaksi e-Commerce
FOTO: Ilustrasi

Penulis : Amirah Khansa Pane

Perkembangan teknologi yang pesat, dimana semua orang dapat dengan mudah mengakses jaringan internet kapanpun yang memiliki berbagai dampak terhadap beberapa aspek. Salah satu aspeknya adalah di bidang ekonomi yang mana transaksi kegiatan bisnis dapat dilakukan secara daring, merubah dari kegiatan bisnis konvensional menuju ke arah yang lebih efektif melalui daring atau jaringan internet. Untuk melakukan kegiatan jual beli secara online diperlukan sebuah media guna menjadi wadah dalam pelaksanaan kegiatan jual beli secara online.

Media tersebut disebut dengan e-commerce. E-commerce merupakan media yang mewadahi pihak-pihak terkait dalam melakukan kegiatan bisnis melalui jaringan internet. Secara garis besar, e-commerce adalah tempat dimana kegiatan pertukaran barang atau jasa yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait melalui jaringan internet.

Transaksi jual beli melalui e-commerce dikategorikan dalam akuntansi syariah mengandung adanya akad as-salam. Berdasrkan Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) Nomor 05/DSN-MUI/IV/2000, jual beli salam dapat di definisikan
sebagai transaksi jual beli barang yang dilakukan dengan cara pemesanan dan membayar barang tersebut lebih dahulu dengan syarat-syarat tertentu. Berikut adalah rukun as-salam yang harus dipenuhi :

1. Pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi e-commerce

Pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi yaitu penjual dan pembeli yang menjadi elemen dasar terjadinya sebuah transaksi. Penjual adalah pihak yang menjual barang dagangannya dan di pasarkan melalui jaringan internet, sedangkan pembeli adalah pihak yang membeli barang dagangan yang telah dijual oleh si penjual. Pihak yang terlibat bukan hanya penjual dan peembeli saja, tetapi pada e-commerce terdapat perwakilan yang bertugas untuk meneruskan amanat agar terlaksananya transaksi sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pihak terkait seperti, layanan pendukung untuk memantau terjaganya kerasahasiaan, validitas, dan keamanan saat transaksi berlangsung.

2. Ijab qabul (sighat)

Pernyataan kehendak yang berbentuk sighat dalam transaksi e-commerce menjadi sebuah kewajiban. Pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi e-commerce dapat beperan sebagai ijab maupun qabul. Bentuk ijab qabul pada transaksi e-commerce adalah dengan pengiriman pesan secara daring dan penyampaian langsung secara verbal melalui telepon. Untuk mencapai ijab qabul, pembeli akan menyetujui berbagai penawaran yang telah ditawarkan oleh penjual tanpa paksaan dari siapapun. Persetujuan oleh kedua pihak untuk menyetujui aturan dan perjanjian yang terlah dibuat, yang selanjutnya dikomunikasikan secara dua arahlah yang bisa disebut dengan sighat. Dikarenakan, ikatan antara penjual dan pembeli berdasarkan dari kesepakatan yang jelas dan diakhiri dengan serah terima.

3. Objek transaksi

Objek transaksi merupakan barang atau jasa yang diberikan kepada pihak pembeli sesuai kesepakatan antara penjual dengan pembeli. Pada transaksi e-commerce, sebelum melakukan pembayaran kedua belah pihak harus sepekat mengenai jumlah, jenis, harga, waktu dan cara pengiriman serta metode apa yang dilakukan dalam proses pembayaran. Hal tersebut menunjukan bahwa barang harus sudah ada saat proses transaksi berlangsung.

Dalam akad as-salam, objek transaksi tidak boleh barang yang mengandung unsur dilarang oleh agama Islam. Dengan kata lain objek transaksi harus sesuai dengan syariah islam.