Pengaplikasian Akad Musyarakah dan Akad Mudharabah Dalam Masyarakat Islam

Pengaplikasian Akad Musyarakah dan Akad Mudharabah Dalam Masyarakat Islam
FOTO: Ilustrasi

Oleh : Dwi Patricia Apriliani
Mahasiswi Jurusan Akuntansi, Universitas Muhammadiyah Malang

Sebagai manusia kita harus mengisi kehidupan dengan seimbang antara urusan dunia dan urusan akhirat. Karena sudah banyak perubahan perubahan yang menimpa seperti pada bidang ekonomi, sosial, maupun politik. Dalam menghadapi perubahan-perubahan dalam era Globalisasi seperti sekarang harus bekerja keras guna terwujudnya sistem salah satunya pada bidang ekonomi yang kuat dan berkembang, seperti masyarakat yang harus mendapatkan motivasi dari awal untuk memperbaiki kondisi tersebut.

Allah memudahkan para hambanya dalam mendapatkan karunia serta nikmatnya dalam seorang individu maupun kelompok, seperti Allah menjadikan manusia yang saling membutuhkan satu sama lain dalam hal tolong menolong yang menyangkut kehidupan masing-masing seorang individu baik dari jual beli, bercocok tanam, sewa menyewa, dan lain sebagainya. Dengan demikian kehidupan manusia akan menjadi teratur dan sejahtera, hubungan satu sama lain akan menjadi baik. Sistem perilaku tersebut dalam Islam disebut dengan istilah Muamalah.

Bagian terpenting dari muamalah atau masyarakat lebih mengenal ekonomi dalam perspektif islam yaitu Syirkah (perseroan). Transaksi tersebut mengharuskan adanya Ijab dan Qabul. Dalam syirkah tau tidaknya bahwa transaksi tersebut sah apabila suatu yang ditansaksikan harus sama-sama menyepakati proses tansaksi tersebut yang menguntungkan satu sama lain dari hasil yang telah disepakati.

Dalam kehidupan sehari-hari tentunya masyarakat sudah tidak asing lagi dengan yang namanya kerja sama, apalagi dalam dunia bisnis. Di dalam Islam juga diajarkan kerja sama syariah yang lebih dikenal dengan Musyarakah dan Mudharabah. Mungkin masih banyak orang yang belum familiar dengan kerja sama ini. Tetapi sudah banyak orang yang melakukan kegitaan ini seperti dengan bagi hasil namun orang-orang masih belum memahami syariat atau cara yang baik dan benar dalam melakukan kegiatan kerja sama.

1. Musyarakah
Musyarakah berasal dari kata syirkah yang berarti pencampuran (Muhammad, 2004:79) yang juga dapat diartikan dengan membagikan sesuatu antara dua orang/lebih menurut hukum kebiasaan yang ada. Menurut istilah adalah kerja sama antara dua pihak atau lebih yang masing-masing pihak memiliki kontribusi dana atau biasa disebut modal dengan kesepakan awal bahwa keuntungan dan resiko ditanggung bersama sesuai dengan porsi kesepakatan awal.

Musyarakah secara garis besar dibagi menjadi dua jenis yaitu Musyarakah (pemilikan) dan musyadrakah (akad/kontrak). Syirkah kepemilikan (syirkatul amlak), dengan salah satu sebab kepemilikan, terciptanya terjadi karena adanya wasiat dan warisan yang dimana kondisi tersebut mengakibatkan kepemilikan satu aset oleh dua orang maupun lebih. Syirkah akad (syirkatul uquud), terciptanya terjadi karena dimana terjadinya kesepakatan antara dua orang atu lebih dari mereka yang akan memberikan modal musyarakah.

Dalam fikih Musyarakah merupakan bentuk kedua dari bagi hasil yang dipraktekkan dalam sistem perbankan Islam. Terdapat keterangan dari nabi, para sahabat, dan ulama yang menyatakan keabsahan Musyarakah untuk dilaksanakan dalam bidang bisnis, meskipun tidak satu pun dari bank tersebut yang secara jelas menunjukkan pengertian dan kerja sama. Dalam kontrak dan ketentuan moneter juga harus jelas dalam menentukan modal Musyarakah.

Berdasarkan PSAK Musyarakah terdiri dari Musyarakah permanen dan Musyarakah menurun (Musyarakah Mutanaqisah). Musyarakah permanen yaitu pada saat ketentuan dalam Musyarakah bagian dana mitra ditentukan pada saat akad dan jumlahnya tetap hingga akhir masa akad. Musyarakah menurun yaitu pada saat ketentuan salah satu mitra akan dialihkan secara bertahap kepada mitra lainnya sehingga bagian dananya akan menurun dan pada masa akhir akad mitra lain tersebut akan menjadi pemilik penuh usaha tersebut.

Ada ketentuan dalam melaksanakan akad Musyarakah yaitu harus melaksanakan unsur-unsur yang ada dalam akad Musyarakah seperti adanya 2 orang/lebih mitra, objek berupa modal dan kerja, adanya Ijab dan Qabul, dan adanya bagi hasil (Nisbah keuntungan). Ketentuan Syariah pada pelaku Musyarakah harus mentaati hukum dan sudah baligh, dan memiliki objek Musyarakah. Penentuan modal yang diberikan harus tunai yang dapat diberikan berupa uang tunai, emas, aset perdagangan, bisa juga aset tidak berwujud seperti hak paten, dan lisensi. Seluruh modal yang sudah dikumpulkan tidak boleh dipisah, harus dicampur. Pada saat untung para pemilik modal harus menggunakan nilai realisasi keuntungan. Dan berakhirnya akad Musyarakah terjadi apabila salah satu pemilik modal menghentikan akad, meninggal atau hilang akal, tetapi bisa digantikan oleh ahli waris jika disetujui oleh para pemilik modal lain, dan yang terakhir jika modal Musyarakah tersebut sudah habis.

2. Mudharabah
Mudharabah berasal dari kata adh-dharbu fil ardhi, yang artinya berjalan dimuka bumi. Mudharabah juga disebut dengan qiraadh, yang berasal dari kata al-qardhu yang berarti al-qath’u (sepotong), karena pemilik modal mengambil sebagian hartanya untuk diperdagangkan dan berhak mendapatkan sebagian keuntungannya dari modal tersebut. Menurut fikih Mudharabah yaitu perjanjian antara kedua belah pihak yang salah satunya memiliki modal dan memberikannya kepada salah satu pihak lain agar modalnya dikembangkan, sedangkan keuntungannya dibagikan sesuai kesepakatan awal.

Akad Mudharabah adalah akad kerja sama suatu usaha antara malik/shalib al-mal atau biasa disebut dengan pemilik modal yang menyediakan seluruh modal dengan ‘amil/mudharib biasa disebut dengan pengelola yang keuntungannya dibagi sesuai dengan nisbah atau kesepakatan dalam akad. Secara sederhana jadi akad Mudharabah yaitu suatu akad kerja sama yang modal uangnya 100% berasal dari pemilik modal, dimana tidak ada modal dari pengelola.

Pada saat melakukan akad Mudharabah ada syarat dan rukun yang harus dilaksanakan oleh kedua belah pihak. Mudharabah memiliki lima rukun yaitu harus ada modal, jenis usaha harus jelas, memiliki keuntungan, melaksanan Shighot (pelafalan dalam bertransaksi), dan yang terakhir harus ada pemilik modal, dan pengelola. Sedangkan syarat-syarat Mudharabah yang harus dilaksanakan yaitu adanya penyedia dana dan pengelola harus mentaati hukum, kedua belah pihak harus menyatakan ijab, dan qobul dalam mengadakan kontrak, penerimaan dan penawaran dilakukan pada saat kontrak yang menunjukkan tujuan diadakannya kontrak atau akad, yang terakhir akad tersebut bisa dilakukan secara tertulis, melalui korespondensi, dan menggunakan cara-cara modern.

Modal Mudharabah bisa berbentuk sejumlah uang atau aset yang diberikan pemilik modal kepada pengelola yang harus diketahui jumlah dan jenisnya, tidak boleh berbentuk piutang yang dibayarkan kepada pengelola yang sesuai dengan kesepakatan dalam akad. Keuntungan yang didapatkan harus diperuntukkan bagi kedua belah pihak yang tidak boleh disyaratkan untuk satu ihak saja. Pada saat perubahan nisbah atau bentuk prosentasi pembagian juga harus disepakati bersama. Jika terjadi kerugian pemilik modal juga menanggung kerugian tersebut, tidak diperbolehkan pengelola yang menanggung kerugian pada saat melakukan Mudharabah.

Kegiatan usaha pada saat Mudharabah adalah hak eksklusif pengelola, tidak boleh dicampur tangani oleh pemilik modal, pemilik modal hanya memiliki hak dalam hal pengawasan. Pemilik modal juga tidak boleh mempersempit tindakan yang dilakukan pengelola yang dapat menghalangi tercapainya tujuan Mudharabah. Pengelola harus memperhatikan dan mematuhi kebiasaan dalam beraktifitas yang tidak boleh menyalahi hukum Syariah Islam.