Penghujung Tahun 2022, Nusahima Gelar Pelatihan Assessment Perumusan Kebijakan dan Strategi Pemulihan Gempa Cianjur

Avatar of news.Limadetik
Penghujung Tahun 2022, Nusahima Gelar Pelatihan Assessment Perumusan Kebijakan dan Strategi Pemulihan Gempa Cianjur
FOTO: Direktur Nusahima, Yayah Ruchyati (kanan)

NEWS.LIMADETIK.COM, CIANJUR – Untuk mempersiapkan para relawan kemanusiaan yang mumpuni dalam menghadapi masa pemulihan gempa Cianjur, Nusantara Hijau Mandiri (Nusahima) menggelar pelatihan bagi para relawan di Yayasan Pendidikan Al-Inayah (YAPINA) Rancagoong, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur, pada Kamis (29/12/2022).

Para peserta merupakan para relawan yang telah mengikuti pelatihan-pelatihan peningkatan kapasitas selama menjadi relawan di Cianjur.

“Pelatihan ini bertujuan untuk mengidentifikasi terkait data-data perubahan sebelum dan sesudah gempa terjadi. Perubahan tersebut di identifikasi terutama terkait persoalan yang mengganggu hidup dan penghidupan masyarakat setelah terjadi gempa. Selain mengidentifikasi gangguan peserta juga di ajak untuk mengenali potensi untuk menyelesaikan masalah gangguan tersebut” tutur Yayah Ruchyati, Direktur Nusahima dalam sambutan pembukaan kegiatan.

Pelatihan ini dipandu Rurid Rudianto, praktisi kebencanaan dari Malang. Pemaparan materi dilakukan dengan lebih banyak dialog interaktif dengan peserta.

Selain persoalan hunian akibat gempa, ada 7 isu GLIDERS yang akan di lihat pasca gempa Cianjur, pertama Governance (tata kelola pemerintahan mulai tingkat kabupaten hingga desa), ketua Livelihood (mata pencaharian warga terdampak gempa), ketiga Social Infrastucture (infrastruktur penunjang sarana dan prasarana sosial).

Untuk yang keempat, Debris Clereance (pembersihan puing dan limbah) selanjutnya isu kelima Environment (persoalan dampak lingkungan), kemudian yang keenam Risk Reduction (persoalan pengurangan risiko bencana) dan yang ketujuh Social Cohesion (potensi konflik sosial, vertikal maupun horisontal).

“Data gangguan GLIDERS tersebut digunakan untuk penilaian awal isu-isu pada fase transisi darurat ke pemulihan atau biasa di sebut A²R2 (Assessment Awal Rehabilitasi dan Rekonstruksi)” ujar Rurid.

Ia melanjutkan, berangkat dari data tersebut akan digunakan untuk merespon pemulihan awal masyarakat yang terdampak gempa atau yang biasa di sebut dengan pemulihan dini/Early Recovery.

“Pemulihan dini ini sebaiknya dilakukan masih dalam fase darurat dan berjangka pendek untuk proses transisi dari darurat bencana menuju tahapan pemulihan pasca bencana” ucapnya.

Dikatakan Rurid, dari sini akan diperoleh momentum pemulihan agar masyarakat terdampak gempa mempunyai daya lenting dan semangat untuk pulih dengan meletakkan dasar pemulihan dengan membangun (fisik maupun mental) secara lebih baik, aman dan berkelanjutan. Sehingga mereka ketika menghadapi ancaman yang serupa maupun ancaman lainnya akan menjadi lebih tangguh.

“Sebagai rencana tindak lanjut setelah pelatihan ini peserta akan melakukan kegiatan turun lapangan untuk melakukan observasi, wawancara mendalam dan FGD kepada stakeholder kunci untuk memperoleh data dan informasi tersebut. Setelah itu akan di lakukan proses olah data untuk menyusun rekomendasi program pemulihan dini” tukasnya.