Opini  

Peran Perempuan Dalam Usaha Budidaya Rumput Laut di Desa Sadulang Besar

Avatar of news.Limadetik
Peran Perempuan Dalam Usaha Budidaya Rumput Laut di Desa Sadulang Besar
FOTO: Delvi Fitrianingsih

Oleh : Delvi Fitrianingsih
Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

_______________________________

Pendahuluan

OPINI – Desa Sadulang adalah salah satu pulau kecil yang merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur. Sumber matapencaharian utama desa ini adalah pembuatan ikan asin dan budidaya rumput laut. Dalam proses budidaya rumput laut ini tidak hanya dikerjakan oleh laki-laki saja, akan tetapi perempuan juga berperan dalam pembudidayaan rumput laut di desa sadulang ini.

Budidaya rumput laut di desa ini sudah dimulai sejak 20 tahun yang lalu, dan saat ini telah menjadi salah satu matapencaharian utama masyarakat pesisir selain menangkap ikan. Banyaknya para nelayan yang beralih menjadi petani rumput laut dan menjadikannya sebagai pekerjaan utama, disebabkan karena budidaya rumput laut tidak memerlukan keterampilan khusus dan memiliki masa tanaman yang pendek serta nilai jualnya cukup baik meskipun pada bulan-bulan tertentu masih mengalami fluktuasi harga.

Kecendrungan berfluktuasinya harga dan kondisi kehidupan nelayan yang cenderung sangat terbatas dalam memenuhi kebutuhan keluarganya, menyebabkan nelayan masih digolongkan masyarakat miskin. Sehingga meskipun budidaya rumput laut dianggap mudah dilakukan, namun fakta empirik memperlihatkan keterbatasan modal dan pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat pesisir masih menjadi penghambat untuk mengembangkan usahanya sehingga pendapatan mereka cenderung masih rendah, apalagi bila harga pasar mengalami penurunan tergolong masyarakat miskin. Usaha budidaya rumput laut yang dilakukan masyarakat pesisir khususnya keluarga nelayan telah melibatkan partisipasi semua anggota keluarga baik istri nelayan (perempuan) dan anak-anaknya.

Berdasarkan hasil penelitian fachry (2010) diketahui bahwa perempuan atau istri nelayan berpartisipasi pada proses budidaya rumput laut berupa pengambilan keputusan dalam aspek keuangan, mengikat bibit dan pasca panen. Perempuan tidak dilibatkan pada kegiatan produksi atau pemeliharaan dan panen. Kondisi ini ada kaitannya dengan kontruksi budaya dan aktivitas usaha rumput laut yang mengatur bahwa untuk penyiapan lahan, pemeliharaan dan panen biasanya dikerjakan oleh para lelaki. Adapun perempuan lebih banyak berperan pada pekerjaan di darat seperti pembuatan tali, pengikatan bibit dan menjemur rumput laut.

Terlibatnya perempuan pada kegiatan budidaya rumput laut merupakan bentuk partisipasi perempuan dalam mendukung ekonomi keluarganya, sebagaimana diketahui secara umum pendapatan sebagai nelayan, belum mampu untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Oleh sebab itu ada kecendrungan anggota keluarga nelayan mengupayakan berbagai usaha untuk membantu permasalahan ekonomi keluarganya termasuk perempuan.

Rendahnya pendapatan nelayan telah mendorong peran perempuan sebagai bagian dari penopang ekonomi keluarga melalui keterlibatannya dalam pencarian nafkah tambahan. Karena itu kontribusi tenaga kerja perempuan dalam rumah tangga nelayan meningkat secara signifikan. Hal ini tergambar dari peran istri nelayan yang selain berperan pada urusan rumah tangga, juga memainkan fungsi ekonomi penting dalam rumah tangga. Hal ini terlihat pada proses kegiatan budidaya rumput laut di Desa Sadulang yang melibatkan perempuan nelayan untuk menjadi bagian dari kegiatan budidaya dengan melakukan peran-peran tertentu di usaha budidaya rumput laut.

Pembahasan

Kaum perempuan (istri) berperan baik dalam ekonomi rumah tangga perikanan (RTP) budidaya rumput laut maupun dalam pengelolaan usaha rumput laut. Dalam pengelolaan usaha rumput laut, peran perempuan dapat dikelompokkan dalam kegiatan perencanaan, penanganan pasca panen, pemasaran dan ini. Walaupun dalam perencanaan usaha terdapat peran perempuan, namun suami (laki-laki) masih berperan cukup dominan. Dalam hal ini diperkuat kenyataan bahwa keputusan penggunaan keuntungan usaha masih didominasi oleh para suami. Keputusan-keputusan yang bersifat operasional pengelolaan keuntungan tersebut (seperti untuk komsumsi, serta pengeloaan pemanfaatan) masih didominasi oleh peran perempuan.

Kondisi ini secara tradisional masih mengkomodasikan niali-nilai tradisi, bahwa terlihat terdapat perbedaan peran berdasarkan fungsi-fungsi peran konvensional laki-laki dan perempuan. Pada kegiatan yang bersifat teknis operasional, peran perempuan dalam pengelolaan rumput laut lebih didasarkan sebagai sumber tenaga kerja yang diperlukan dalam pengelolaan usaha keluarga sesuai dengan aksesibilitas yang dimilikinya. Hal ini terlihat, walaupun pada kegiatan pemanenan dibutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak untuk mempercepat pemanenan sebelum air laut pasang, tetapi hampir tidak ada perempuan yang berperan.

Sementara pada pekerjaan yang dapat diakses oleh tenaga kerja perempuan (istri), maka kontribusi peran perempuan cukup besar. Seperti kegiatan pasca panen yang meliputi pencucian, pengeringan dan penjemuran. Hal ini semakin menguatkan statemen bahwa fenomena pembedaan pekerjaan berdasar jenis kelamin tidak terjadi pada kelompok miskin seperti dipedesaan. Walaupun terdapat pembedaan jenis pekerjaan, namun hal ini tidak didasarkan pada persepsi perbedaan jenis kelamin. Pembedaan yang terjadi merupakan pembedaan semu, sebab perbedaan jenis pekerjaan antara laki-laki dan perempuan tersebut didasarkan pada perbedaan kemampuan fisik dalam mengahadapi tantangan dalam penyelesaian pekerjaan.

Sebagian besar rumah tangga pembudidaya rumput laut adalah rumah tangga dengan lebih dari satu matapencaharian. Dalam pengertian tersebut bahwa rumah tangga tersebut disamping mempunyai kegiatan usaha budidaya rumput laut juga masih mempunyai kegiatan Bertani atau berdagang. Dari kegiatan ini terlihat bahwa usaha rumput laut sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhan komsumtif yang belum mencukupi dari kegiaitan-kegiatan ekonomi utama rumah tangga.

Sehingga tercermin dari pemanfaatan keuntungan usaha yang Sebagian besar digunakan untuk mencukupi kebutuhan konsumsi. Implikasinya adalah orientasi reinvestasi sebagai orientasi pengembangan usaha masih belum dilakukan.

Keterlibatan perempuan pada usaha budidaya rumput laut tidak hanya pada tahap persiapan, penanaman dan pemeliharaan. Pada tahap panen, kaum perempuan terlibat mengambil rumput laut, pekerjaan ini biasanya dilakukan Bersama-sama dengan laki-laki, namun juga dapat dilakukan sendiri. Setelah panen, rumput laut dibawa ke pantai untuk kemudian di cuci dan dibawa ke daratan. Pada tahap pasca panen, kaum perempuan terlibat dalam pekerjaan memilah rumput laut yang bisa dijual dengan rumput laut yang dijadikan bibit. Setelah memilah, rumput laut yang siap untuk dijual dibawa kepenjemuran. Bibit rumput laut kemudian diikat Kembali dengan tali yang sudah disiapkan.

Perempuan menjadi tulang punggung usaha budidaya rumput laut di pulau Sadulang. Tidak ada pemisahan antara pekerjaan laki-laki dan perempuan, umumnya fungsi perempuan dalam usaha dapat dilakukan secara Bersama-sama. Kaum perempuan melakukan pekerjaan seperti mengikat rumput laut dari pantai ke daratan dan juga rumput laut yang akan dijemur. Besarnya alokasi waktu yang diberikan oleh kaum perempuan dibandingkan laki-laki dalam setiap siklus usaha budidaya rumput laut menunjukkan betapa besarnya peran mereka dalam usaha rumput laut.

Menurut mereka hal ini juga merupakan salah satu cara untuk mengisi waktu santai mereka. Peran para perempuan pembudidaya rumput laut di Desa Sadulang sangat besar. Hal ini didorong oleh etos kerja yang mereka miliki, sehingga mereka mendominasi peran dalam usaha budidaya rumput laut. Dengan etos kerja yang besar maka keberhasilan pembedayaan perempuan akan lebih terwujud.