Perbedaan Asuransi Syariah Dengan Asuransi Konvensional

Perbedaan Asuransi Syariah Dengan Asuransi Konvensional
FOTO: Ilustrasi

OLEH: Toni Satrio Rejo
Universitas Muhammadiyah Malang

Jadi di dalam asuransi syariah, perbedaanya dengan asuransi konvensional yaitu ketika nasabah membayarkan premi, maka secara sistem syariah premi tersebut atau bahasa dalam syariah yang namanya kontribusi, langsung di split menjadi tiga fund, di split, di bagi untuk di bagi ke tiga akun:

1. Pertama akun tabarru, dimana akun tabarru ini untuk kalau di antara sesama peserta ada yang mendapatkan musibah, maka dana untuk tolong-menolongnya di ambil dari akun tabarru.
2. kedua ada akun akun yang namanya Shareholder fund (SHF), dimana kita sebagai pengelola mendapakan upah karena mengelola dana tabarru yang di amanhin oleh nasabah.
3. ketiga premi yang dibayarkan oleh nasabah tadi, ada juga ketika nasabah itu ingin mengikuti prodak saving maka kita masukan di dalam akun investasi.

Jadi dari awal premi nasabah langsung di split, dimana urgensi dana ini langsung di split untuk menghindari tiga unsur yang terjadi dalam sistem konvensional, dimana dalam konvensional premi atau kontribusi masabah itu langsung di akuin sebagai incomenya perusahaan/dana perusahaan. Sedangkan dalam asuransi in resiko yang dikelola, kalau terjadi premi langsung di akui oleh perusahaan, maka ini bisa terjadi setidaknya tiga unsur yang haram dalam islam untuk melakukan bisnis ini.

Pertama ada unsur riba, ketika nasabah membayarkan premi, semisal setelah tiga bulan dibayarkan rutin, perbulan sebesar 500.000 kita akumulasikan 3 bulan yaitu 1.500.000, dan dia dapat musibah yang dimana musibah itu mengakibatkan harus mendapatkan pertolongan dari perusahaan, dan sehingga dari musibah tersebut mendapatkan 30.000.000 padahal baru membayar 1.500.000 dan dana tersebut bisa terjadi riba karena tidak ada yang namanya pemisahan dana. Dana uang 1.500.000 mendapatkan 30.000.000 itu namana ada ziyadah penambahan. Disini yang dalam islam itu diharamkan, kenapa? Karena kalau kita masih berfikiran prakmatis maka kita bisa-bisa terjerumus dalam praktek ribawi.

Riba dalam islam rasulullah bersabda “satu dirham uang riba yang diimakan oleh seseorang dalam keaadaan sadar, jauh lebih dasyatt dari pada 36 wanita pezina” (HR.Ahmad). atau dosa riba setara dengan 36 pezina sebagai yang disebutkan dalam hadits.

 Unsur riba terjadi dalam praktek asuransi, dimana nasabah ketika membayarkan premi dan dia dapat musibah dan itu langsung dibayar oleh perusahaan padahal nasabah tersebut baru membayarkan misal minimal 500.000 dalam 1 bulan dan dia dapat musibah langsung di cover dengan nominal yang lebi besar, dan terjadilah riba.

 Ada unsur horornya, ketika nasabah mendapatkan musibah, nasabah tidak mengetahui dana untuk mengcover tersebut perusahaan mengambil dari dana apa, kalau di dalam syariah dana untuk mengcover tersebut jelas di ambil dari dana tabarru dimana dana tabarru itu dikelola sesuai dengan aturan syariah dan ojk sudah memberikan rambu-rambu tersebut sebagaimana didalam pmk 227 pasal 4a berkenaan dengan penggunaan dana tabarru disini ada unsur horor yang terjadi dalam bisnis asuransi.

 Unsur yang ketiga, yang dimana asuransi konvensional itu dilarang dalam sistem syariah ada unsur gameblink, yaitu maisir atau perjudian, perjidianya ketika nasabah mengikuti prodak saving sudah satu tahun mengikuti lalu tidak membayar perbulan premi yang harus di bayarkan, kalau didalam sistem konvensional, setelah satu bulan tidak membayar bisa terjadi dana tersebut hangus. Sedangkan di dalam sistem syariah istilah dana hangus itu jelas-jelas tidak boleh, kenapa? Karena di dalam sistem syariah setiap dana yang itu milik nasabah dikembalikan karna kalau terjadi pengambilan dana dari orang lain tanpa syariah itulah larangan dalam islam, sebuah hadits-“dan janganlah kalian memakan harta di antara kalian dengan cara yang batil.