Opini  

Potret Masyarakat Multikultural Banyuwangi di Era Global

Avatar of news.Limadetik
Potret Masyarakat Multikultural Banyuwangi di Era Global
FOTO: Prelis Karisman

Oleh: Prelis Karisman
Prodi: Peternakan
Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

_________________________________

Pengantar

Dengan adanya perkembangan teknologi di era digital saat ini menjadikan masuk dan bercampurnya beragam budaya serta bahasa dari berbagai negara ke Indonesia. Setiap informasi dapat diakses secara mudah oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun. Dengan banyaknya informasi dari negara lain membuat masyarakat harus waspada dalam memilih dan memilah informasi yang ada.

Pendahuluan

Bangsa Indonesia sebagai masyarakat yang majemuk dan memiliki banyak suku, ras, dan agama. Memiliki beragam budaya dan tradisi yang dianut masing – masing suku di Indonesia. Oleh sebab itu diperlukan kesadaran diri dan toleransi dengan tujuan untuk mencapai semboyan bersama.

Problematik

Dari berbagai macam perbedaan suku, ras, dan agama ini dapat menyebabkan munculnya konflik dan berbagai pertikaian karena kurangnya rasa saling menghargai akan perbedaan yang ada. Masuknya pengaruh budaya luar menyebabkan adanya ketidaksesuaian antara budaya bangsa dan budaya luar yang memberikan dampak buruk bagi bangsa Indonesia dengan segala macam tradisi yang sudah ada sejak zaman leluhur kita.

Pembahasan

Di era teknologi dan globalisasi yang tidak mungkin dapat dihindarkan seperti saat ini menimbulkan perubah pola pikir pada masyarakat, hal ini disebabkan karena minimnya upaya untuk memelihara dan mempertahankan warisan leluhur dari pengaruh teknologi dan globalisasi saat ini. Sebagai contoh upaya untuk memelihara dan mempertahankan warisan leluhur di kabupaten Banyuwangi, Upacara Baritan merupakan upacara yang harus di pelihara dan di pertahankan, tradisi Upacara Baritan sampai detik ini masih dilaksanakan dengan teguh oleh warga di semua desa di kabupaten Banyuwangi.

Dalam Upacara Baritan ini juga menggunakan sarana yaitu berupa “ Takir”. Takir ini sendiri terdiri dari nasi putih yang berisi lauk pauk dengan di bungkus daun pisang. Pada sajian takir itu sendiri dari sambal goreng tersebut banyak campuran mulai dari kentang, tempe, tahu dan lain – lain.

Selain sambel goreng juga terdapat telur yang melambakan kerja keras, karena pada zaman dahulu untuk mendapatkan telur sangat susah sehingga dibutuhkan usaha lebih untuk mendapatkanya. Makna Upacara Baritan yaitu kerukunan, ketentraman, kemakmuran, tidak membedakan suku, ras, agama dan status sosial.

Solusi

Di era teknologi digital seperti saat ini, hendaknya masyarakat dapat lebih teliti dalam menerima setiap informasi yang ada, dimana setiap informasi yang akan diserap harus diteliti, dipilih dan dipilah secara mendalam dan tidak menerima mentah-mentah semua informasi yang diterima.

Kesimpulan

Makna Upacara Baritan di Kabupaten Banyuwangi dilihat dari konsep multikultural di era digital dapat mempererat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Setiap masyarakat dapat mengedepankan setiap perbedaan untuk menguatkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menuju masyarakat yang menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika.