banner podcast

Recovery pada Atlet Pasca Cedera Olahraga

  • Bagikan
Banner Iklan

OLEH: Duardo May Vinardhi
Mahasiswa Universitas Negeri Malang

Olahraga adalah serangkaian olahraga yang teratur dan terancana untuk memelihara gerak dan meningkatkan kemampuan gerak agar bisa mempertahankan hidup dan meningkatkan kualitas hidup.

Olahraga merupakan kegiatan yang dapat dilihat dari berbagai aspek sudut pandang seperti aspek jasmani, rohani, sosial budaya dan ekonomi. Giriwijoyo dan Sidik (2012: 36) olahraga adalah serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana yang dilakukan orang dengan sadar untuk meningkatkan kemampuan fungsional.

Olahraga terbagi menjadi 4 jenis yaitu: olahraga prestasi, olahraga rekreasi, olahraga kesehatan dan olahraga pendidikan.

Keempat jenis olahraga tersebut tidak terlepas dari masalah kesehatan yang memerlukan upaya kesehatan berupa preventif dan kuratif dalam setiap penyelenggaraannya oleh karena itu olahraga kesehatan penting sekali untuk mendukung prestasi, rekreasi dan pendidikan. Preventif dan kuratif dalam olahraga sangat penting untuk menghindari dari cedera atau menimbulkan kembali cedera yang lama (Graha dan Prioyono 2009: 25).

Dalam melakukan olahraga memiliki reskiko cidera olahraga. Cedera olahraga adalah cedera yang disebabkan oleh kesalahan gerak yang dilakukan saat berolahraga itu sendiri (Giriwijaya dan Sidik, 2013: 6). Cedera olahraga adalah cedera yang terjadi pada otot, serta rangka tubuh dan menimbulkan sistem peradangan dengan diketahui secara patofisiologi yaitu timbul pembengkakan, nyeri, peningkatan suhu, warna, dan penurunan fungsi (Arofa, 2010).

Timbulnya cedera ini dapat diakibatkan adanya kesalahan gerak atau benturan pada waktu melakukan aktivitas olahraga (Becker. J., 2007: 168). Seperti yang di ungkapkan oleh Purba (2014: 24), bahwa olahraga body contact dan non body contact sering terjadi cedera anggota tubuh seperti: pada tulang mengalami fraktur, sprain pada ligamen, strain pada otot, dislokasi sendi dan gegar otak yang diakibatkan benturan dan kesalahan gerak pada olahragawan.

Faktor-faktor penyebab terjadinya cedera olahraga antara lain,faktor dari dalam yaitu: pemberian metode latihan yang salah, teori latihan yang salah, sarana prasarana tidak lengkap, jenis olahraga. Sedangkan faktor luar penyebab cedera yaitu: pengaruh keluarga, kondisi lingkungan, penyakit yang di derita, kelainan pada anatomis, fisiologis.
Macam-macam cedera yang terjadi dalam dalam berolahraga dibagi menjadi 2 :

1. Cedera ringan
Cedera ringan yaitu cedera yang terjadi karena tidak ada kerusakan yang berarti pada jaringan tubuh, misalnya kekakuan otot dan kelelahan.

2. Cedera berat

Cedera berat yaitu cedera serius pada jaringan tubuh dan memerlukan penanganan khusus dari medis, misalnya robeknya otot, tendon, ligamen atau patah tulang.

Disini kita akan membahas bagaimana recovery untuk para atlet pasca cidera olahraga. Recovery adalah proses memulihkan otot dan bagian tubuh lainnya ke kondisi sebelum latihan.

Recovery bertujuan untuk memberikan tubuh waktu untuk beristirahat. Otot yang kelelahan perlu dikembalikan kekuatannya, selain itu recovery juga bertujuan meregenerasi sel otot yang telah rusak selama latihan, sehingga terbentuk sel otot baru yang memiliki kualitas yang lebih bagus dari sebelumnya (Fox, 1991).

Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan recovery memiliki peran dalam regenerasi otot atau perbaikan sel otot yang rusak atau cedera. Recovery dapat dilakukan dengan cara aktif ataupun pasif. Recovery aktif dilakukan dengan cara melakukan aktivitas fisik intensitas ringan sementara istirahat pasif dilakukan dengan cara tidak melakukan aktifitas fisik apapun atau istirahat total (Spencer et el., 2006).

Recovery aktif merupakan bentuk istirahat yang berarti atlet tidak berdiam diri, tetapi tetap melakukan aktivitas fisik dengan intensitas sangat ringan (20% DNM) sampai ringan (50% DNM) seperti jogging dan berjalan.

Recovery yang dilakukan dengan berjalan atau jogging akan menjaga hormon epinefrin untuk tetap disekresi. Hormon epinefrin menyebabkan otot jantung tetap melakukan kontraksi (systole). Kejadian ini menyebabkan jantung tidak menurunkan kinerja secara mendadak.

Proses pelebaran pembuluh darah (vasodilatasi) selama latihan juga di jaga agar tetap terjadi dan menurun secara bertahap. Hal ini diperlukan karena pada fase recovery otot tubuh membutuhkan nutrisi untuk proses perbaikan sel yang rusak dan pengisian kembali energi yang terkuras selama latihan.

Nutrisi yang diperlukan untuk recovery diantarkan oleh darah yang mengalir dengan bantuan kontraksi otot jantung dan vasodilatasi pembuluh darah (Fox,1993).Sedangakan Recovery pasif merupakan pemulihan yang dilakukan dengan menghentikan aktivitas, dapat dilakukan dengan duduk, berbaring, berdiri.

Tujuan dari pemulihan pasif pada dasarnya sama dengan pemulihan aktif, yaitu mengembalikan lagi kondisi fisik seseorang agar seperti semula atau keadaan sebelum latihan, menghilangkan kadar asam laktat yang menumpuk di otot, mengembalikan energi tubuh yang sudah digunakan selama latihan, serta memperbaiki kerusakan-kerusakan atau cedera pada otot (microtear).

Recovery yang dilakuan secara pasif akan menyebabkan peredaran darah menurun secara mendadak dan tidak bertahap. Hal ini ini tentunya akan memperlambat sistem sirkulasi sehingga nutrisi, oksigen dan zat lainnya tidak didistribusikan dengan baik ke sel yang mengalami cedera pasca latihan (McAinch et al, 2004).

Pemeparan tentang recovery pasca cedra olahraga sangat diutamakan untuk pemulihan tubuh baik secara fisik maupun fisiologis dan psikologis olahrawan ataupun atlet sehat dan bugar kembali.

banner iklan
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.