banner podcast

Sistem Akuntansi Transaksi Musyarakah Pada Akuntansi Syariah

  • Bagikan
Sistem Akuntansi Transaksi Musyarakah Pada Akuntansi Syariah
FOTO: Ilustrasi
Banner Iklan

Oleh : Yusuf Fadlillah Hendy Nassar
Mata Kuliah Akuntansi Syariah
Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Muhammadiyah Malang

Dalam prinsip akuntansi syariah, Ekonomi memiliki berbagai jenis atau bisa disebut program kerjasama agar transaksi bisa berjalan dengan baik, dan tidak merugikan pihak manapun. Karena masalah muamalah ini langsung melibatkan manusia dalam masyarakat dan membawa finansial yang menjadi hal sensitif pemicu perdebatan. Selain Akad Mudharabah kita juga mengenal salah satu transaksi keuangan dalam syariah yang biasa disebut Akad Musyarakah.

Secara bahasa pengertian syarikah adalah ikhtilat (percampuran), yakni bercampurnya satu hartta dengan harta yang lain, sehingga tidak bisa dibedakan keduanya. Pengertian akad musyarakah menurut Dewan Syariah Nasional MUI dan PSAK Np. 106 mendefinisikan musyarakah sebagai akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu, dimana masing – masing pihak memberikan kontribusi dana dengan ketentuan dibagi berdasarkan kesepakatan sedangkan kerugian
berdasarkan kontribusi dana.

Dalam PSAK 106 tentang musyarakah dibahas beberapa pengertian dan istilah yang terkait dengan pembahasan akuntansi musyarakah sebagai berikut:
 Musyarakah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu, dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan ketentuan bahwa keuntungan
dibagi berdasarkan kesepakatan sedangkan risiko berdasarkan porsi kontribusi dana.

 Musyarakah permanen adalah musyarakah dengan ketentuan bagian dana setiap mitra ditentukan sesuai akad dan jumlahnya tetap hingga akhir masa akad.
 Musyarakah menurun (musyarakah mutanaqisha) adalah musyarakah dengan ketentuan bagian dana entitas akan dialihkan secara bertahap kepada mitra sehingga bagian dana entitas akan menurun dan pada akhir masa akad mitra akan menjadi pemilik penuh usaha tersebut.
 Mitra aktif adalah mitra yang mengelola usaha musyarakah, baik mengelola sendiri atau menunjuk pihak lain atas nama mitra tersebut.
 Mitra pasif adalah mitra yang tidak ikut mengelola usaha musyarakah

Karakteristik musyarakah sebagaimana yang tertuang dalam PSAK 106 (PSAK 106, paragraph 4) tentang akuntansi musyarakah, adalah:
1) Para mitra bersama-sama menyediakan dana untuk mendanai suatu usaha
2) tertentu dalam musyarakah, baik usaha yang sudah berjalan maupun yang baru;
3) Investasi musyarakah dapat diberikan dalam bentuk kas, setara kas atau aset nonkas;
4) Keuntungan usaha musyarakah dibagi antara para mitra secara proporsional sesuai dengan dana yang disetorkan (baik berupa kas maupun aset nonkas) atau sesuai dengan nisbah yang disepakati oleh para mitra. Sedangkan kerugian, dibebankan secara proporsional
sesuai dengan dana yang disetorkan (baik berupa kas maupun aset nonkas).

Jenis-jenis Musyarakah terdiri dari musyarakah permanen dan musyarakah menurun (musyarakah mutanaqisha) :
1. Musyarakah permanen, menurut PSAK No.106 (Paragraf 04), adalah musyarakah dengan ketentuan pembagian dana setiap mitra ditentukan sesuai akad dan jumlahnya tetap hingga akhir masa akad. Lebih lanjut, menurut PSAK No.106 (Paragraf 04).
2. Musyarakah menurun adalah musyarakah dengan ketentuan bagian dana salah satu mitra akan dialihkan secara bertahap kepada mitra lainnya sehingga bagian dananya akan menurun pada akhir masa akad mitra lain tersebut dan akan menjadi pemilik penuh usaha tersebut.

Pada akuntansi transaksi musyaarakah sistem bagi hasil (nisbah) musyarakah, pembagian hasil usaha musyarakah dibagi sesuai nisbah yang disepakati pada awal akad antara pemilik modal (mitra). Bagi hasil diperoleh setelah usaha berjalan.
1. Nasabah tidak pernah diberi jadwal
2. Tidak ada tunggakan bagi

Dalam PSAK No.106 dijelaskan bahwa untuk pertanggungjawaban pengelolaan usaha musyarakah dan sebagai dasar penentuan bagi hasil, mitra aktif atau pihak yang mengelola usaha musyarakah harus membuat catatan akuntansi yang terpisah untuk usaha musyarakah tersebut.

Dalam akuntansi untuk mitra aktif, investasi musyarakah diakui pada saat penyerahan kas atau aset nonkas untuk usaha musyarakah. Pengukuran investasi musyarakah dalam bentuk:
1) Kas dinilai sebesar jumlah yang diserahkan;
2) Aset nonkas dinilai sebesar nilai wajar dan jika terdapat selisih antara nilai wajar dan nilai buku aset nonkas, selisih tersebut diakui sebagai selisih penilaian aset musyarakah dalam ekuitas. Selisih penilaian aset musyarakah tersebut diamortisasi selama masa akad musyarakah. (Paragraf 15).

Pendapatan usaha musyarakah yang menjadi hak mira aktif diakui sebesar haknya sesuai dengan kesepakatan atas pendapatan usaha musyarakah. Sedangkan pendapatan usaha untuk mitra pasif diakui sebagai hak pihak mitra pasif atas bagi hasil dan kewajiban (Paragraf 23). Kerugian investasi musyarakah diakui sesuai dengan porsi masing-masing mitra dan mengurangi nilai asset musyarakah (Paragaf 24). Jika kerugian akibat kelalaian atau kesalahan mitra aktif atau pengelola usaha, kerugian tersebut ditanggung oleh mitra aktif atau pengelola usaha musyarakah (Paragraf 25).

Dalam akuntansi untuk mitra pasif, investasi musyarakah diakui pada saat pembayaran kas atau penyerahan aset nonkas kepada mitra aktif (Paragraf 27). Pengukuran investasi musyarakah dalam bentuk:
1. Kas dinilai sebesar jumlah yang diserahkan;
2. Aset non kas dinilai sebesar nilai wajar; dan jika terdapat selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat aset nonkas, selisih tersebut diakui sebagai keuntungan tangguhan dan diamortisasi selama masa akad atau kerugian pada saat terjadinya (Paragraf 28).Pendapatan usaha investasi musyarakah diakui sebesar bagian mitra pasif sesuai kesepakatan.

Dalam penyajian musyarakah, mitra aktif menyajikan hal-hal yang terkait usaha musyarakah dalam laporan keuangan, yaitu :
1. Kas atau aset nonkas yang disisihkan oleh mitra aktif dan yang
diterima dari mitra pasif disajikan sebagai investasi musyarakah;
2. Aset musyarakah yang diterima dari mitra pasif disajikan sebagai unsur dana syirkah temporer untuk;
3. Selisih penilaian asset musyarakah, bila ada disajikan sebagai unsur ekuitas (Paragraf 35).

Sementara itu, mitra pasif menyajikan hal-hal yang terkait usaha musyarakah dalam laporan keuangan, yaitu:
1. Kas atau aset nonkas yang diserahkan kepada mitra aktif disajikan sebagai investasi musyarakah;
2. Keuntungan tangguhan dari selisih penilaian aset nonkas yang diserahkan pada nilai wajar disajikan sebagai pos lawan (contra account) dari investasi musyarakah (Paragraf 36).

Dalam pengungkapan musyarakah, mitra mengungkapkan hal-hal yang terkait transaksi musyarakah, tetapi tidak terbatas pada :
1) Isi kesepakatan utama usaha musyarakah, seperti porsi dana, pembagian hasil usaha, aktivitas usaha musyarakah dan lain-lain;
2) Pengusaha musyarakah jika tidak ada mitra aktif.
3) Pengungkapan yang diperlukan sesaui PSAK 101 : Penyajian Laporan Keuangan Syariah.

Musyarakah Mutanaqisah (FATWA : 73/DSN-MUI/XI/2008) :
1. Ketentuan Umum
Dalam fatwa ini yang dimaksud dengan :
a. Musyarakah Mutanaqisah adalah Musyarakah atau Syirkah yang kepemilikan asset (barang) atau modal salahh satu pihak (syarik) berkurang disebabkan pembelian secara bertahap oleh pihak
lainnya ;
b. Syarik adalah mitra, yakni pihak yang melakukan akad syarikah (musyarakah) ;
c. Hishsah adalah porsi atau bagian syarik dalam kekayaan musyarakah yang bersifat musya ;
d. Musya’ adalah porsi atau bagian syarik dalam kekayaan musyarakah (milik bersama) secara nilai dan tidak dapat ditentukan batas-batasannya secara fisik.

2. Ketentuan Hukum
Hukum Musyarakah Mutanaqisah adalah boleh
1) Akad Musyarakah Mutanaqisah terdiri dari akad Musyarakah/Syirkah dan Bai’ (jual-beli).
2) Dalamm Musyrakah Mutanaqisah berlaku hukum sebagaimana yang diatur dalam Fatwa DSN No. 08/DSN MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Musyarakah, yang para mitranya memiliki hak dan kewajiban, di antaranya :
a. Memberikan modal dan kerjaa berdasarkan kesepakatan pada saat akad.
b. Memperoleh keuntungan berdasarkan nisbah yang disepakati pada saat akad.
c. Menanggung kerugian sesuai proporsi modal.
3) Dalam akad Musyarakah Mutanaqisah pihak pertama (syarkih) wajib berjanji untuk menjual seluruh hishshah-nya secara bertahap dan pihak kedua (syarik) wajib membelinya.
4) Jual beli sebagaimana dimaksud dalam angka 3 dilaksanakan sesuai kesepakatan.
5) Setelah selesai pelunasan penjualan, seluruh hishshah LKS beralih kepada syarik lainnya (nasbah).

banner iklan
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.