Tanam Kesadaran diri untuk Buang Sampah pada Tempatnya

Avatar of news.Limadetik
Tanam Kesadaran diri untuk Buang Sampah pada Tempatnya
FOTO: Adesta Etvitria

OLEH : Adesta Etvitria
PRODI : Akuntansi
Universitas Muhammadiyah Malang

______________________________________

NEWS.LIMADETIK.COM – Sampah Mendengar namanya saja mungkin Anda sudah membayangkan seperti apa bentuknya, yang tidak cerah, berbau tidak sedap, atau bahkan ada yang sudah tidak terpakai lagi, yakni. dibuang Sampah adalah sesuatu yang tidak terpakai lagi, sehingga dibuang begitu saja. Karena sampah terus-menerus dibuang dan tidak digunakan, lama kelamaan akan menumpuk dan merusak lingkungan kita. Padahal, tidak semua sampah harus berakhir di Tempat Pembuangan Akhir atau disingkat TPA. Banyak sampah yang dapat didaur ulang untuk mencegah sampah menumpuk dan akhirnya mengganggu ekosistem hidup dan merusak lingkungan kita.

Kebiasaan masyarakat membuang sampah pada tempatnya memang mengganggu, sehingga masyarakat yang terus berinovasi mencintai kebersihan lingkungannya. Namun, keseriusan kebiasaan masyarakat yang masih membuang sampah masih terjadi di sekitar kita. Hal ini terlihat dari fakta bahwa mereka hanya membuang sampah di sungai, selokan, atau di depan rumah.

Sampah yang terkumpul di sungai menghalangi aliran air, dan banjir tidak dapat dihindari dengan meningkatnya curah hujan atau air dari ketinggian yang lebih tinggi. Jika demikian, mungkin kesalahan pemerintah yang dari waktu ke waktu dianggap tidak mampu menyelesaikan masalah banjir. Tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat kita pada umumnya memiliki kesadaran yang rendah dalam memikirkan konsekuensi.

Cara hidup sehat dan bersih sebenarnya tidak menjadi prioritas masyarakat, karena masih banyak hal yang lebih penting untuk dipikirkan, seperti makan sehari-hari, mencuci, bekerja dll. Kesehatan harus selalu menjadi prioritas setiap orang.

Sesuai dengan UU Pengelolaan Sampah No. 18 Tahun 2008 dan amanat Strategi Pembangunan Persampahan Nasional, paradigma pengelolaan sampah memang telah berubah, dimana sebelumnya diterapkan prinsip Collect-Transport-Dispose (CAB) sekarang menjadi program. dirancang untuk mengurangi timbulan dan penggunaan sampah di sumbernya, yang tentunya membutuhkan keterlibatan masyarakat.

Jika pengelolaan sampah dilakukan secara menyeluruh dan terpadu dari awal hingga akhir, justru akan mendatangkan keuntungan ekonomi karena dapat membantu masyarakat untuk menggunakan sampah yang dapat didaur ulang, sehat masyarakat dan aman lingkungan, serta yang terpenting dapat mengubah perilaku masyarakat.

Pertumbuhan jumlah penduduk tentunya mengikuti perkembangan kawasan pemukiman di setiap kawasan, hal ini berkorelasi positif dan identik dengan bertambahnya tumpukan sampah di perkotaan, sehingga pengolahan harus dilakukan dengan kesadaran yang lebih besar akan pentingnya sampah tersebut.

Kemurnian tidak hanya kebersihan untuk rumah itu sendiri, tetapi juga untuk lingkungan. Kurangnya kesadaran menunjukkan contoh yang baik dalam pembuangan sampah, justru merupakan hal yang perlu diperbaiki dan membutuhkan waktu lama untuk menciptakan kesadaran tentang kebersihan lingkungan.

Membersihkan dan membuang sampah harus menjadi kebiasaan dan setiap masyarakat harus menyadarinya. Itu bukanlah sesuatu yang mengganggu kita atau membuat kita malas. Selain itu, kebiasaan tidak membuang sampah jika tidak menemukan tempat sampah harus menjadi contoh, dan memarahi orang lain ketika orang lain membuang sampah harus dijadikan bagian dari budaya sehari-hari.

Setiap kita pasti menyadari bahwa kita ingin hidup sehat dan bersih, bukan bersih karena takut hukuman. Terlepas dari jumlah denda, orang terus membuang sampah sembarangan.

Rasa percaya diri dan cinta lingkungan, membuat kebiasaan tersebut terkesan mudah diterapkan, termasuk membuang sampah sebagai gantinya, jika setiap orang mengikuti kebiasaan baik tersebut maka akan tercipta nilai budaya yang luhur.

Masyarakat dan pemerintah harus bahu-membahu dan tidak saling menyalahkan ketika dampak dari sampah ini sudah terasa. Inilah pendapat saya tentang sampah ini, yang bisa saya sampaikan, jangan lupa untuk memanggil Anda di akhir kalimat saya: Mari kita buang sampah!