banner podcast

Transaksi Mudharabah

  • Bagikan
Transaksi Mudharabah
FOTO: Ilustrasi Mudharabah
Banner Iklan

Nama : Sidqi Sabilly
Prodi : Akuntansi FEB
Universitas Muhammadiyah Malang

Secara teknis Mudharabah merupakan akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana shahibul maal menyediakan seluruh modal, sedangkan pihak yang lain menjadi pengelola. Keuntungannya akan dibagi sesuai dengan kesepakatan yang sesuai dengan kontrak.

Sedangkan apabila mengalami kerugian ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian yang terjadi bukan akibat kelalaian pengelola. Tetapi apabila kerugian itu diakibatkan karena kelalaian pengelola, maka si pengelola lah yang harus
bertanggung jawab atas kerugian yang terjadi.

Mekanisme yang dilakukan dalam transaksi mudharabah dalam sektor perbakan syariah apabila bank sebagai shahibul maal dan nasabah sebagai mudharib.

Dari shalih bin shuhaib r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tiga hal yang di dalamnya terdapat keberkahan: jual beli secara tanggu, muqaradhah, mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah, bukan untuk dijual. (HR Ibnu Majjah No. 2280, Kitab At Tijarah).

Dalam ekonomi segala bentuk transaksi atau pembiayaan diperlukan suatu kegiatan pencatatan dan pelaporan atau disebut dengan akuntansi. Akuntansi dalam transaksi mudharabah akan dibahas secara khusus dalam makalah ini, dengan bahasan detail tentang ketentuan syariah, alur transaksi dan yang berkaitan dengan sifat dasar transaksi mudharabah.

Menurut Haryono Jusup menyatakan bahwa Akuntansi adalah sistem informasi yang mengukur aktivitas bisnis, mengelola data menjadi laporan dan mengomunikasikan hasilnya.

Tujuan akuntansi syariah adalah memberikan informasi secara lengkap untuk mengetahui nilai dan kegiatan ekonomi yang bertantangan, serta yang diperbolehkan secara syariah dan meningkatkan kepatuhan terhadap prinsip syariah dalam semua transaksi dan kegiatan usaha, menentukan hak dan kewajiban pihak-pihak yang berkepentingan dalam suatu entitas ekonomi syariah berlandaskan pada konsep kejujuran, keadilan, kebajikan, dan kepatuhan terhadap nilai-nilai dan etika bisnis islam.

Investasi mudharabah adalah pembiayaan yang disalurkan oleh bank syariah kepada pihak lain untuk suatu usaha yang produktif. Secara bahasa, Mudharabah berasal dari kata Dharb yang artinya melakukan perjalanan yang umumnya untuk berniaga. Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan apabila rugi ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian si pengelola. Seandainya kerugian itu diakibatkan karena kecurangan atau kelalaian si pengelola, si pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut.

Mudharabah secara teknis juga didefinisikan sebagai akad kerja sama usaha antara dua pihak di mana pihak pertama (shahibul maal) menyediakan seluruh (100%) modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola.

Akuntansi mudharabah merupakan aktivitas mencatat, melaporkan dan menginterprestasikan, dan yang dicatat adalah transaksi berupa pembiayaan-pembiayaan yang masuk dan keluar dari kegiatan mudharabah yang disalurkan bank syariah kepada pihak-pihak produksi.

Mudharabah muqayyadah merupakan mudharabah di mana pemilik dana memberikan batasan kepada pengelola dana, antara lain mengenai tempat, cara dan atau obyek investasi. Mudharabah muthlaqah yaitu mudharabah di mana pemilik dana memberikan kebebasan kepada pengelola dana dalam pengelolaan investasinya. Mudharabah musytarakah adalah bentuk mudharabah di mana pengelola dana menyertakan modal atau dananya dalam kerjasama investasi.

Pembiayaan mempunyai peranan yang sangat penting dalam perekonomian. Secara garis besar, fungsi pembiayaan dalam perekonomian, perdagangan dan keuangan. Berdasarkan PSAK No. 105 (2007), mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (pemilik dana atau pihak bank) menyediakan seluruh dana, sedangkan pihak kedua (pengelola dana atau nasabah) bertindak selaku pengelolah dan keuntungan dibagi diantara mereka sesuai kesepakatan, sedangkan kerugian financial hanya ditanggung oleh pemilik dana.

Pembiayaan mudharabah ditunjukkan untuk membantu nasabah mendapatkan dana dalam rangka kegiatan usaha nasabah. Pembiayaan mudharabah dapat dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah dan dapat dilakukan oleh nasabah.

Mudharabah berasal dari kata dharb, artinya memukul atau berjalan. Pengertian memukul atau berjalan ini lebih tepatnya adalah proses seseorang menggerakkan kakinya dalam menjalankan usaha. Mudharabah merupakan bahasa penduduk Iraq, sedangkan menurut bahasa penduduk Hijaz disebut dengan istilah qirad.

Dalam istilah fiqh muamalah, mudharabah atau sebagaian ahli menyebutnya qirad, adalah suatu bentuk perniagaan dimana si pemilik modal yang disebut dengan sahibul maal menyetorkan modalnya kepada pengusaha, yang selanjutnya disebut mudharib, untuk diusahakan dengan keuntunga dibagi bersama sesuai dengan kesepakatan dari kedua belah pihak sedangkan kerugian, jika ada, ditanggung oleh si pemilik modal.

Secara teknis, mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak, dimana pihak pertama bertindak sebagai pemilik dana (shahibul maal) yang menyediakan seluruh modal (100%), sedangkan pihak lannya sebagai pengelola usaha (mudharib). Keuntungan usaha yang di dapatkan dari akad mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, dan biasanya dalam bentuk persentase.

Dalam hal ini, terdapat dua prinsip perjanjian Islam yang sesuai diimplementasikan dalam produk perbankan berupa tabungan, yaitu wadiah dan mudharabah. Secara teknis, mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (shahibul maal)menyediakan seluruh (100%) modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola dana (mudharib) dalam suatu kegiatan produktif.

Kedua pihak transaktor di sini adalah investor dan pengelola modal. Investor biasa disebut dengan shohibul maal atau rabbul maal, sedang pengelola modal disebut dengan istilah mudharib. Kedua pihak disyaratkan memiliki kompetensi beraktivitas.

Kriteria kompetensi tersebut antara lain mampu membedakan yang baik dan yang buruk (baligh) dan tidak dalam keadaan tercekal seperti pailit. akad mudharabah dapat dilakukan dengan sesama muslim atau dengan nonmuslim, pemilik dana tidak boleh ikut campur dalam pengelolaan usaha tetapi ia boleh mengawasi.

Ijab dan kabul atau persetujuan kedua  belah pihak dalam mudharabah yang merupakan wujud dari prinsip sama-sama rela (an-taraddin minkum).

Dalam hal ini, kedua belah pihak harus secara rela bersepakat untuk mengikatkan diri dalam akad mudharabah. Si pemilik dana setuju dengan perannya untuk mengkontribusikan dana, sementara si pelaksana usaha setuju dengan perannya untuk  mengkontribusikan kerja.

Akad mudharabah pada dasarnya sama dengan akad-akad yang lain dalam aspek yang bersifat umum. Aspek yang bersifat umum tersebut antara lain tentang identitas kedua belah pihak yang bertransaksi, besar pembiayaan, jangka waktu pembiayaan, prasyarat pengambilan pembiayaan, jaminan, ketentuan denda, pelanggaran atas syarat-syarat perjanjian dan penggunaan Badan Arbitrase Syariah.

Adapun hal spesifik dalam akad mudharabah antara lain kesepakatan tentang dasar bagi hasil (revenue sharing atau profit sharing), besar nisbah bagi hasil, pernyataan bank sebagai shahibul maal untuk menanggung kerugian kecuali yang disebabkan oleh kelalaian mudharib, pernyataan hak bank untuk memasuki tempat usaha dan tempat lainnya untuk mengadakan pengawasan terhadap pembukuan, catatan-catatan, transaksi mudharib yang berhubungan dengan pembiayaan mudharabah, baik secara langsung maupun tidak langsung. Selain akad yang ditandatangani oleh kedua pihak, dalam praktik juga dilampiri dengan proyeksi pendapatan dan jadwal pembayaran angsuran pokok maupun bagi hasil.

Nisbah adalah besaran yang digunakan untuk pembagian keuntungan, mencerminkan imbalan yang berhak diterima oleh kedua pihak yang bermudharabah atas keuntungan yang diperoleh. Perubahan nisbah harus berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak, dan shahibul mal tidak boleh meminta pembagian keuntungan dengan menyatakan nilai nominal tertentu karena dapat menimbulkan riba.

Pada PSAK 105 menjelaskan bahwa mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak, yang mana pihak pertama (pemilik dana) menyediakan seluruh dana, sedangkan pihak kedua (pengelola dana) bertindak selaku pengelola, dan keuntungan
dibagi antara mereka sesuai kesepakan sedangkan kerugian finansial hanya ditanggung oleh pemilik dana.

Akuntansi Mudharabah yaitu mengatur mengenai mudharabah PSAK 105: Akuntasi Mudharabah merupakan penyempurnaan dari PSAK 59: Akuntansi perbankan syariah (2002).

PSAK 105 berlaku untuk entitas transaksi mudharabah baik sebagai shahibul maal ataupun mudharib (pengelola). Tetapi PSAK ini tidak berlaku pada obligasi syariah yang menggunakan akad mudharabah. Penulisan disusun dengan memisahkan akuntansi untuk pemilik dana dan akuntansi pengelola dana. Dalam PSAK ini terdiri dari mudharabah mutlaqah, mudharabah muqayyadah, dan mudharabah mustarakah.

Pengakuan dan pengukuran untuk entitas dilakukan untuk pengakuan investasi mudharabah pada saat penyaluran dana, pengakuan keuntungan/kerugian penyerahan aset nonkas dalam investasi mudharabahn Pengakuan dan pengukuran akuntansi pembeli, penyempurnaan dilakukan untuk pengakuan dana syirkah temporer kelolaan, pengakuan modal mudharib bersama dengan modal pemilik dana.

Kesesuaian PSAK 105 dengan AAOIFI (Accounting and Auditing Organization for Iclamic Institutions) AAOIFI ini adalah lembaga yang bersifat otonom dan non profit yang mana lembaga ini adalah lembaga tertinggi internasional yang menangani masalah transaksi keuangan akuntansi keuangan khususnya akuntansi berbasis syari‟ah.

Kesesuaian antara PSAK 105 dengan AAOIFI ini ialah sama-sama mengembangkan standar akuntansi syari‟ah diman AAOIFI berperan penting sebagai acuan atau pedoman akuntan-akuntan yanga ada di Indonesia yakni, IAI (Ikatan Akuntan Indonesia), AAOIFI ini juga berperan sebagai induk/pusat dari aturan standar akuntansi syari’ah internasional.

banner iklan
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.