Tren Budaya K-POP di Lingkungan Remaja Indonesia

Avatar of news.Limadetik
Tren Budaya K-POP di Lingkungan Remaja Indonesia
FOTO: Anika Marentina Indriyani

OLEH : Anika Marentina Indriyani
Prodi: Akuntansi FEB
Universitas Muhammadiyah Malang

______________________________

LIMADETIK.COM – Globalisasi adalah proses sosial yang berakibat pada pembatasan geografis dalam keadaan sosial budaya menjadi kurang penting, terjelma dalam kesadaran manusia (Rhoni Rodin 2020). Salah satu fenomena globalisasi Indonesia dalam bentuk interaksi budaya adalah masuknya berbagai budaya Korea Selatan ke Indonesia.

Budaya Korea yang datang ke Indonesia sangat beragam, mulai dari musik, makanan, serial drama, film, dll. Selain merambah Indonesia, budaya Korea juga merabah ke dunia global. Budaya Korea memiliki pengaruh yang kuat dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari, mulai dari selera musik, penampilan atau fashion, makanan, dll. Musik paling terkenal dalam budaya Korea adalah genre pop, sering disebut pop Korea atau K-pop. K-Pop sendiri identik dengan keberadaan girl band dan boy band, yaitu kumpulan wanita dan pria yang berada di bawah sebuah manajemen atau agensi.

Ada beberapa contoh Band cewek dan cowok Korea antara lain Super Junior, Blackpink, EXO, TWICE, ITZY, NCT, TXT, dan Bangtan Boys (BTS), yang belakangan ini populer. Menurut laporan Mamatamusik.com, BTS berada di puncak boy band K-Pop terpopuler April 2021 dan telah memegang posisi tersebut selama 35 bulan. Boyband ini juga memiliki fan club yang sangat besar bahkan internasional bernama ARMY (Adorable Representative MC for Youth).

Menurut Kompas.com, istilah ARMY diperkenalkan pada 9 Juli 2013 sebagai sebutan untuk penggemar BTS. Sikap fanatisme terhadap idola mereka ini sering membawa dampak yang negatif. Menurut Mutaali dan Prastiti (2019), “fanatisme dapat diartikan sebagai suatu keyakinan terhadap objek fanatik yang sering dikaitkan dengan sesuatu atau rasa senang yang berlebihan pada suatu objek. Di mana sikap fanatik ini biasa ditunjukkan melalui antusiasme terhadap objek yang ekstrem, emosi, minat yang berlebihan dalam waktu lama. Sering kali menganggap hal yang mereka yakini merupakan hal yang paling benar”.

Lebih lanjut lagi, “Fanatisme adalah suatu keyakinan tentang sesuatu yang positif atau negatif, pandangan yang tidak memiliki sandaran teori atau pijakan kenyataan, tetapi dianut secara mendalam sehingga sulit diluruskan atau diubah. Perkembangan budaya Korea memiliki dampak positif dan negatif bagi penontonnya. Kepopuleran K-pop di Indonesia menyebabkan hal yang berbeda bagi kalangan remaja.

Untuk mengatasi hal tersebut, sangat penting bagi orang tua untuk memperhatikan perkembangan anaknya. Apalagi bagi orang tua yang anaknya sangat menyukai budaya Korea. Dampak positif dari Korean wave atau Hallyu adalah dapat memperluas wawasan negara lain, khususnya Korea Selatan. Karena perkembangan teknologi dan transportasi, serta banyaknya penggemar grup musik asal negeri ginseng itu, mereka datang ke Indonesia untuk menggelar konser, dan tentunya hal ini menarik perhatian media internasional.

Hal ini dapat digunakan untuk mempromosikan Indonesia ke seluruh dunia, menarik wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia. Tentu saja, seluruh dunia semakin mengenal Indonesia. Dan dampak negatif yang bisa terjadi adalah membuang-buang waktu karena sibuk mencari tahu bias atau idola Anda.

Juga menjadi penggemar fanatik menciptakan sikap protektif terhadap idola mereka, mengagungkan budaya idola mereka dan menjadikan mereka sebagai acuan bagi mereka untuk datang dan mengubah budaya mereka dan membuang-buang uang karena menjadi penggemar K-pop membutuhkan banyak uang, seperti membeli tiket konser, membeli album, selain hobi kartu foto idola, merchandise, dan lainnya. beberapa K-pop. Namun tentu saja hal ini dapat menimbulkan perilaku konsumtif.