banner podcast

Upaya Perkuat KPK atau Perlemah KPK?

  • Bagikan
Upaya Perkuat KPK atau Perlemah KPK?
FOTO: Ilustrasi KPK (sumber: Radarcirebon)
Banner Iklan

Oleh : Daffa Athaya Bakhits
Fakultas/Jurusan : Ekonomi dan Bisnis / Akuntansi
Universitas Muhammadiyah Malang

Permasalahan yang terjadi di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) – khususnya yang terkait dengan tidak lolosnya 75 pegawai dalam asesmen Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) – menarik perhatian penggiat anti korupsi yang tergabung dalam Gerakan Bersama Usut Korupsi (GEBUK). Dari 75 pegawai yang dinyatakan tidak lolos dalam asesmen TWK, akhirnya 51 pegawai telah resmi diberhentikan oleh lembaga antikorupsi itu. Presiden Joko Widodo dan DPR RI perlu segera mengevaluasi kinerja Pimpinan KPK yang diduga justru akan melemahkan KPK dalam memberantas korupsi di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan oleh Mirah Sumirat, salah satu Presidium GEBUK, kepada media ini, Sabtu (05/06/2021).

Sebagai aktivis serikat pekerja, Mirah Sumirat juga menyatakan keheranannya jika TWK dijadikan dasar untuk melakukan pemberhatian terhadap pegawai yang telah mengabdi selama puluhan tahun di KPK. Logikanya sederhana, setiap orang yang telah mampu menjadi pegawai KPK, pastinya dahulu telah menjalani proses seleksi awal yang super ketat dan berlapis-lapis. Apalagi pertanyaan dalam TWK tersebut juga mengandung keanehan serta tidak ada relevansinya dengan upaya pemberantasan korupsi. Faktanya pula pegawai KPK yang diberhentikan itu selama ini memiliki prestasi yang luar biasa dalam pemberantasan korupsi di Indonesia. Dari perspektif ketenagakerjaan, tidak boleh ada pegawai yang di-PHK yang dikaitkan dengan tes apapun yang sifatnya mengada-ada, karena mereka telah lolos seleksi pada saat awal masuk dahulu. Demikian ditegaskan Mirah.

GEBUK saat ini sedang mengkritisi dan menuntut pengusutan secara tuntas praktek mega korupsi yang banyak melibatkan pejabat tinggi Pemerintah, antara lain kasus korupsi PT. Asuransi Jiwasraya yang merugikan keuangan negara sebesar Rp16,8 triliun, kasus korupsi PT. Asabri yang merugikan negara sebesar Rp23,73 triliun, dan dgaan korupsi pengelolaan dana investasi BPJS Ketenagakerjaan yang kerugiannya diperkirakan mencapai Rp20 triliun.

HEMOLAB
Cara Ajaib untuk Menyingkirkan Wasir selama 7 Hari!
PELAJARI LEBIH
Selain itu, GEBUK juga mengutuk tindakan korupsi yang dilakukan oleh oknum pejabat Pemerintah Daerah Kabupaten Subang, yang melakukan pungutan kepada pekerja honorer kategori II yang akan tes Pegawai Negeri Sipil (PNS), senilai lebih dari Rp30.miliar. Kasus-kasus mega korupsi harus diungkap tuntas! Kenapa justru pegawai terbaik KPK yang sedang mengusut kasus-kasus mega korupsi, disingkirkan dengan alasan tidak lolos TWK?

“Bagi kami aneh, jika pegawai KPK dinyatakan tidak memiliki wawasan kebangsaan.” Tegas Mirah.

GEBUK meminta kepada Presiden Joko Widodo untuk serius dan tuntas dalam memimpin pemberantasan kasus korupsi yang sangat merugikan rakyat Indonesia. Mengusut dan menjatuhkan sanksi terberat kepada pelaku korupsi. Di saat rakyat sedang turun daya belinya dan semakin susah karena pandemi covid 19, maka terhadap para pelaku korupsi yang telah merampok uang rakyat, sepantasnya dihukum seberat-beratnya tanpa ampun.

banner iklan
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.