Warga Terdampak Bencana Gempa di NTT dapat Sokongan Psikososial dari LPBINU

Avatar of news.Limadetik
Warga Terdampak Bencana Gempa di NTT dapat Sokongan Psikososial dari LPBINU
FOTO: Di depan paling kanan, Sekretaris LPBINU, Yayah Ruhyati saat memberikan semangat kepada peserta didik korban dampak bencana alam di NTT

JAKARTA, Limadetik.com – Warga korban bencana gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) mendapatkan sokongan psikososial dari Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU). Melalui Program Dukungan Psikososial Dampak Bencana, berbagai kegiatan dilakukan yang bertujuan mengembalikan kepercayaan diri peserta didik, guru, dan kepala sekolah untuk membangun relasi sosial dalam proses pembelajaran.

Sekretaris LPBINU, Yayah Ruhyati mengatakan, kegiatan tersebut adalah sebuah upaya responsif untuk untuk memberikan layanan pendidikan yang layak bagi setiap war masyarakat yang ada, terlebih mereka yang terdampak oleh bencana alam.

“Pogram ini bekerja sama dengan Direktorat Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Diharapkan kegiatan ini akan menjadi sebuah upaya responsif dalam memberikan layanan pendidikan yang layak melalui kerja sama dengan para penggiat pendidikan dari unsur lembaga atau yayasan dan organisasi masyarakata” kata Yayah Ruhyati, Rabu (1/12/2021).

Ia menegaskan, bencana alam berupa gempa bumi mengguncang di NTT, pada Senin (11/10/2021) lalu. Berdasarkan BMKG, gempa tersebut mengguncang Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Lindu berkekuatan magnitudo 4,9. BMKG juga mencatat, getaran gempa terasa hingga Lembata, Ende, dan Maumere masing-masing dalam skala II MMI (Modified Mercalli Intensity).

Bencana gempa bumi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengakibatkan kerusakan rumah, korban jiwa, berbagai sarana dan prasarana, sekolah, kantor pemerintah dan fasilitas umum lainnya. Bencana gempa juga mengakibatkan dampak tekanan psikologis warga, terlebih yang kelompok rentan, baik kaum ibu, disabilitas, lansia terkhusus anak-anak.

Menurut teh Yayah sapaan akrabnya, untuk dapat pulih dari ‘luka psikologis’ yang disebabkan oleh trauma, dibutuhkan waktu. Keberhasilannya pun sangat tergantung pada pemahaman, dukungan dan perlindungan yang diberikan oleh orang dewasa yang mengasuh dan mendampinginya.

“Kondisi psikologis anak pasca situasi sulit, untuk itu penting bagi orang dewasa untuk mengetahui apa itu perkembangan dan bagaimana perkembangan anak pada umumnya. Sehingga dapat memberikan dukungan dan perlindungan bagi anak untuk dapat segera pulih. Dukungan psikososial yang dirancang dengan memahami perkembangan anak, termasuk mengenal jenis-jenis stres dan bagaiaman membangun dukungan masyarakat dan bagaimana merancang dukungan psikososial yang terintegrasi dalam pendidikan (pembelajaran) sehingga akan memberikan kesejahteraan mental bagi anak dan orang tua” ungkapnya.

Program Dukungan Psikososial Kreativitas Anak dan Orang Tua ini dilaksanakan dengan maksud melindungi dan meningkatkan kesejahteraan psikososial anak, termasuk terhindar dari kekerasan dan penelantaran. Kemudian mencegah, mengurangi resiko, dan menangani masalah atau gangguan kesehatan mental akibat bencana pada anak dan keluarganya, serta memberikan layanan lebih lanjut yang dibutuhkan anak (lintas sektor), dan mendukung kreativitas anak dan pola asuh orang tua dalam mengembangkan anak yang kreatif dan berkepribadian.

Adapun tujuan program ini lanjut wanita yang selalu hadir untuk warga terdampak bencana alam tersebut, adalah membentuk anak menjadi pribadi kreatif yang percaya diri dan penuh ketekunan memberikan dorongan kepada anak agar bersemangat dan pantang menyerah. Relawan juga mendampingi proses kreativitas anak dari mulai persiapan, inkubasi, luminasi, verifikasi hingga kreatif, melahirkan produk kreativitas anak dalam bentuk pengetahuan maupun keterampilan, serta mewujudkan anak dan orang tua yang kreatif dalam membentuk kepribadian anak yang kreatif.

“Membangun semangat belajar anak ke sekolah juga agar orang tua menjadi pengasuh dan pendidik yang kreatif dengan memberdayakan anak yang kreatif dan kepribadian yang unggul,” jelasnya.

Pada program kreativitas anak diisi dengan menggambar ekspresif dan menyusun puzzle bangunan rumah, gedung dan menara. Kemudian program orang tua ini diisi dengan menggali masalah anak selama pembelajaran di masa pandemi dan sekaligus menularkan bagaimana cara pola asuh anak yang baik dan benar.

Yayah memaparkan, program ini secara nasional dilaksanakan selama rentang waktu 30 hari pada dari 17 November 2021-18 Desember 2021 dengan wilayah 24 sasaran kabupaten kota yang ada di Indonesia.

“Untuk hal itu, LPBI PBNU dibantu oleh tim LPBI PWNU NTT, dan Kabupaten Ende, Nagekeo dan Sikka melaksanakan program dukungan psikososial Kreativitas Anak dan Orang Tua yang terdiri dari Kreativitas Anak dan Keterampilan Orang tua dalam mengasuh Anak yang Kreatif (Creative Parenting Skills), dari 17-24 November 2021,” imbuhnya.

Pelaksanaan program di Ende pada 18-19 November 2021 tepatnya di SDI Paupanda 2; di Nagekeo, 20-21 November 2021 dilaksanakan di SDI Tonggu Rambang dan di Sikka, 22-23 November 2021 tepatnya di SDI Kotauneng, Maumere.

“Tiap-tiap wilayah kabupaten diikuti oleh 30 siswa kelas 4-5 SD negeri dan swasta, 30 orang tua wali murid, enam guru pendamping dan tiga kepala sekolah” tukasnya.